Memotret Keangkuhan Komunitas “Moge” Merajai Jalanan

Garut News ( Ahad, 11/05 – 2014 ).

Juga Dikawal Polisi.
Juga Dikawal Polisi, Serinenya Memekakkan Telinga.

Inilah “barangkali” karakter keangkuhan komunitas akrab dikenal dengan sebutan “motor gede” (Moge), kerap ditemukan nyaris dimana pun, merajai jalanan.

Meski dengan dikawal aparat “kepolisian”, rombongan manusia yang mungkin kaya raya ini.

Brutal Merajai Jalanan.
Brutal Merajai Jalanan.

Seakan tak memiliki empati, bahkan hati nurani kemanusiaan.

Lantaran, meski pada tikungan tajam, bahkan jalanan macet sekalipun, perjalanan rombongan Moge, juga nyaris tak pernah mau terhambat.

Mengesankan lintasan ruas jalan raya ini milik mereka.

Seakan mereka membangunnya sendiri, seolah dana APBN/APBD digunakan membangun infrastruktur jalan tersebut, bukan bersumber dari rakyat.

Mengesankan Tak Memiliki Empati.
Mengesankan Tak Memiliki Empati.

Padahal bisa dipastikan, para pemilik atawa pengendara Moge ini, merupakan manusia-manusia berpendidikan.

Malahan mungkin terdapat berstatus pejabat, atawa berpangkat tinggi.

Tetapi karakternya, nyaris menyerupai gerombolan di jalanan.

Sedangkan moda angkutan, maupun kendaraan lain banyak berupaya sabar antri, setiap dikepung kemacetan arus lalu lintas.

Salah Seorang Pengendara Moge Beristirahat di Warung.
Salah Seorang Pengendara Moge Beristirahat di Warung.

Informasi dihimpun Garut News, Ahad (11/05-2014), pada setiap helatan “tauring” rombongan Moge.

Masing-masing pemilik, atawa pengendaranya bisa menghabiskan biaya pada kisaran Rp5 juta hingga Rp10 juta.

Inilah mingkin, di negeri Bernama Indonesia, penduduk kaya menghamburkan uang dengan cara merajai jalanan.

Lebih Sopan dan Santun Komunitas Sepeda Onthel
Lebih Sopan, dan Santun Komunitas Sepeda Onthel

Barangkali pula, itulah nilai kepuasan mereka yang menjengkelkan banyak pengguna jasa jalan lainnya.

Mau dibawa kemana negeri ini……. Bro ?

 

*****

 

Esay/ Foto : John Doddy Hidayat.

 

Related posts