Memotret Kampung Kelahiran Perintis Kemerdekaan RI Asal Garut

0
69 views
Kobong Pesantren Al-Muhlisin di Kampung Bojong Jaya yang Direncanakan Bisa Kembali Difungsikan.
Wajah Kampung Bojong Jaya.

“14 Kali Keluar Masuk Penjara”

Garutnews ( Jum’at, 30/07 – 2021 ).

Kampung Bojong Pasirwangi, sekitar 25 kilometer arah selatan dari pusat Kota Garut, kini dihuni juga sekitar 100 KK umumnya berkondisi sosial ekonomi sederhana meski berdekatan dengan berlimpahruahnya potensi geothermal pemasok interkoneksi energi listrik Jawa – Madura – Bali.

Namun dari perkampungan tersebut, terlahir Seorang Perintis Kemerdekaan RI bersemangat juang hingga sekarang menginsfirasi setiap lintasan generasi. Dia lah ‘KH Mustofa Kamil’. Ketokohan da’inya tak lekang digerus dimensi ruang dan waktu.

Lantaran berkelanjutan kobarkan semangat juang selama tiga masa, pada era Penjajahan Belanda, Pendudukan Jepang, serta zaman revolusi, konsisten bangkitkan gelora jihad fii sabilillah masyarakat, khususnya kaum santri.

Hj. Titim (55) Bersama Suami. (Nara Sumber garutnews.com).

Hingga 10 November 1945 terjun ke medan perang melawan sekutu bersama Bung Tomo di Surabaya. Sehingga atas jasa-jasanya oleh Pemerintah Indonesia, KH Musofa Kamil ditetapkan sebagai Perintis Kemerdekaan RI.

“Sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Sosial No Pol 159/PK tertanggal 23 Februari 1959”

Tokoh ini bernama asli Muhamad Lahuri kelahiran 5 Agustus 1884. Kedua orang tuanya KH Muhammad Jafar Sidiq dan Hj. Siti Habibah. Selain belajar langsung kepada ayahnya, juga mengaji bersama teman-temannya di pesantren miliki orang tuanya.

Masjid Al-Hikmah Beserta Komplek Pesantren Al-Muhlisin yang Diharapkan Bisa Kembali Difungsikan.

Nama “Mustofa Kamil” dipilihnya seusai menunaikan ibadah haji. Ia masih berdarah Wali Songo, keturunan ke-13 dari Syekh Maulana Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal Sunan Gunung Jati.

Sedangkan beberapa tempatnya menimba ilmu, Pesantren Biru Garut, Pesantren Pangkalan, Pesantren Dukuh, Pesantren Surajaya Cirebon, dan Pesantren Kuningan. Dirinya pun sempat nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng asuhan KH Hasyim Asy’ari.

Pertama kali menunaikan haji 1900-an. Kesempatan itu juga sebagai jalan meneruskan pendidikan. Di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah menuntut ilmu pada banyak alim ulama. Salah seorang patronnya Syekh Haji Salim, pedagang Garut sudah lama bermukim di Makkah.

Hj. Titim yang Menumpukan Harapan Putranya Ahmad Baihaqi Bisa Kembali Memakmurkan Pesantren di Kampung Kelahiran KH. Mustofa Kamil.

Ia meminang putri Syekh Haji Salim, menikahi Hj Siti Aminah. Pasangan ini dikarunai seorang putri bernama Robiah.

Selama belajar di Makkah banyak dipengaruhi guru-gurunya. Umumnya berasal dari Afrika Utara dan Asia Barat. Dari penuturan mereka pula, mendapatkan kisah tentang pahit getirnya perjuangan melawan penjajah.

Sejak itu, ia pun semakin kuat berkeyakinan. Penjajahan tak sesuai dan tak pernah selaras dengan ajaran Islam.

Kemudian pulang ke Tanah Air pada 1924 dan tinggal di daerah Ciparay, Karangpawitan, Garut, Jawa Barat.

“Kiai Jerajak”

Selain rajin berdakwah ke daerah, Kiai Mustofa juga berperan sebagai guru agama di madrasah milik Syarikat Islam. Salah satunya adalah Madrasah Al Islamiah di Kampung Lio Garut. Di madrasah inilah ia membekali generasi muda dengan ilmu agama Islam.

Kiai Mustofa terlibat dalam kepengurusan Syarikat Islam 1916 – 1940. Melalui SI, ia bersama pengikutnya selalu menentang setiap kebijakan yang dibuat Belanda. Dengan sikap yang tegas dan keras itu, ia pun harus 14 kali keluar masuk penjara.

Maka Bung Karno menjuluki Kiai Mustofa Kamil sebagai “Kiai Jerajak.” Sebab, seringnya sang alim masuk-keluar penjara pada zaman kolonial. Hal ini disampaikan sang Penyambung Lidah Rakyat kepada wartawati Amerika Serikat, Cindy Adams.

“Ada di antara pejuang kita yang selalu keluar masuk bui secara tetap. Seorang pemimpin asal Garut (Kiai Mustofa). Dia sudah masuk 14 kali. Pembesar di sana menamakannya sebagai pengacau,” kata Bung Karno sebagaimana dilaporkan Cindy.

Tentu, cap “pengacau” itu dalam perspektif kolonial. Namun bagi Bung Karno dan seluruh rakyat Indonesia, mubaligh tersebut adalah seorang pejuang sejati.

Pemerintah Belanda memang selalu mengawasi dan mencurigai gerak-gerik Kiai Mustofa. Bagaimanapun kerasnya tekanan dari rezim kolonial, ia merasa lebih baik mati daripada harga diri bangsa Indonesia diinjak-injak para penjajah.

Sikapnya ini menunjukkan bahwa dirinya benar-benar seorang ulama-pejuang yang gigih dalam merebut kemerdekaan.

Bahkan, persitiwa Cimareme 1919 juga tak terlepas dari peran Kiai Mustofa. Setelah peristiwa banyak memakan korban itu, Belanda menangkap para tokoh SI dan tokoh Islam lainnya dengan menyebar fitnah, termasuk KH Mustofa Kamil. Saat itu ia dihukum selama dua tahun dari 1919.

Dalam berdakwah Kiai Mustofa selalu menunjukkan sikap penentangan terhadap Belanda. Misalnya, ketika berkhutbah Jum’at. Dirinya tidak mau mematuhi aturan pemerintah kolonial yang mengharuskan teks khutbah disampaikan dalam bahasa Arab.

Pada 1923, akhirnya Kiai Mustofa kembali dijebloskan ke dalam penjara Garut. Hanya sebentar, dirinya lantas dipindahkan ke Sukamiskin, Bandung. Meski di dalam penjara, ia tetap menyempatkan diri untuk berdakwah, terutama kepada para tahanan lain.

Pada 10 Maret 1942, Belanda akhirnya menyerahkan kekuasannya di Nusantara kepada Jepang. Dai Nippon sempat digadang-gadang sebagai “saudara tua” Indonesia. Nyatanya, Negeri Matahari Terbit toh berlaku sebagai penjajah.

Menghadapi keadaan tersebut, Kiai Mustofa bersama dengan teman-temannya menyusun strategi baru. Meresponsnya, Jepang sempat menawari Kiai Mustofa untuk bekerjasama dalam berbagai hal.

Namun, ajakan tersebut dengan tegas ditolaknya. Akibatnya, ia pun harus kembali menghuni penjara untuk kesekian kalinya, yaitu pada 1942-1943.

Setelah keluar penjara, Kiai Mustofa bersama tokoh lainnya kemudian berperan aktif melalui gerakan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang berdiri pada 1937. Namun, pada 24 Oktober 1943 organisasi ini dibubarkan oleh pemerintah Jepang dan sebagai gantinya Jepang membentuk organisasi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 1943.

Dalam organisasi yang baru ini, Kiai Mustofa tercatat sebagai salah satu aktivis Masyumi wilayah Priangan. Ia terus bergerak mengadakan pengajian ke berbagai daerah untuk menanamkan ajaran Islam dan membangkitkan semangat juang melawan penjajah.

Hingga akhirnya ia mencapai puncak perjuangannya dengan berjuang bersama Bung Tomo di Jawa Timur. Ajang pertempuran melebar, tidak hanya di kawasan Surabaya. Saat ikut berjuang di daerah Gedangan, Sidoarjo, sang alim tertembak musuh. Pada 10 November 1945, ulama Garut tersebut gugur sebagai seorang syuhada.

Memimpin laskar Hizbullah

Pada masa pendudukan Jepang, salah satu organisasi yang terbentuk di Indonesia adalah Laskar Hizbullah. Berdiri sejak 1944, laskar ini menjadi medium pendidikan paramiliter bagi kalangan pemuda dan santri.

Di dalam dada mereka, tertanam semangat mempertahankan Tanah Air. Bahkan, hal itu diyakini sebagai sebuah jihad di jalan Allah (fii sabilillah).

Di Garut, Jawa Barat, antusiasme orang-orang untuk ikut Laskar Hizbullah juga membara. Di antara mereka ialah para santri dan pengikut KH Mustofa Kamil. Berkat kedalaman ilmunya, sang kiai juga dipercaya untuk melatih Laskar Hizbullah. Pesertanya tidak hanya datang dari Garut, melainkan berbagai daerah.

Dalam setiap latihan dan perang, laskar Hizbullah ini selalu dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Kalimat takbir menjadi penyemangat pasukan Hizbullah dalam menghadapi musuh. Karena itu, mereka pun terpicu oleh seruan takbir yang digemakan Bung Tomo pada November 1945 melalui radio; seruan untuk melawan pasukan Sekutu yang hendak melumat Surabaya.

Karena memerukan bantuan dari pemuda dan ulama, Bung Tomo juga mengajak para kiai untuk bergabung berjuang melawah penjajah di ibu kota Jawa Timur itu. Salah satu kiai yang disebut namanya oleh Bung Karno adalah KH Mustofa Kamil dari Garut.

Dengan semangat yang membara, akhirnya Kiai Mustofa bersama para Laskar Hizbullah Garut terjun melawan musuh di Surabaya pada 10 November 1945. Mereka berangkat ke kota tujuan dengan menggunakan kereta api. Pada saat itu, daerah Wonokromo dijadikan markas para pejuang.

Untuk menuju daerah ini, Kiai Mustofa berangkat dari Malang dengan dikawal oleh 17 orang santri. Namun, saat itu sedang terjadi peperangan yang sangat hebat dan serangan dari musuh sangat gencar. Pada situasi yang sangat genting itu, rombongan laskar Hizbullah yang dipimpin Kiai Mustofa akhirnya terpencar.

Setelah bertempur selama 25 hari bersama Bung Tomo, akhirnya Kiai Mustofa meninggal sebagai syuhada dalam sebuah pertempuran heroik di daerah gedangan, Sidoarjo, Surabaya.

Jenazahnya dimakamkan oleh masyarakat setempat dan disatukan di dalam pemakaman umum. Makamnya masih misteri dan terus dicari oleh pihak keluarga, namun sampai saat ini masih belum berhasil ditemukan.

*****

Muhyiddin/Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here