Memotret Jenderal Berbintang Dua Telisik Amuk Cimanuk

0
10 views
Komandan Sesko Angkatan Udara, Marsda TNI Dedy N. Komara Telisik Dampak Terjangan Banjir di Batugede.

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Perintis Pendirian “Lembaga Kantor Berita Nasional” (LKBN) ANTARA Manokwari, Papua Barat.

Garut News ( Sabtu, 08/10 – 2016 ).

Komandan Sesko Angkatan Udara, Marsda TNI Dedy N. Komara Telisik Dampak Terjangan Banjir di Batugede.
Komandan Sesko Angkatan Udara, Marsda TNI Dedy N. Komara Telisik Dampak Terjangan Banjir di Batugede.

Foto berita Garut News pada akhir pekan ini, Sabtu (08/10-2016), khusus memotret fenomenalnya jenderal berbintang dua menelisik sekaligus menyampaikan ragam bantuan terhadap korban terdampak amuk Sungai Cimanuk di di Batugede atau Kampung Margarahayu Kelurahan Sukajaya Kecamatan Tarogong Kidul Garut, Jawa Barat.

Perkampungan Penduduk Batugede, salah satu yang terdampak terjangan banjir bandang disertai lumpur sangat pekat yang sementara total kerugiannya mencapai sekitar Rp286 miliar, menyusul kerusakan malahan porak-porandanya lima komponen terdiri perumahan, infrastruktur, sosial, ekonomi serta lintas sektor.

Bahkan menewaskan 34 penduduk, serta melenyapkan 19 warga yang dilaporkan hilang.

Lintasan jalan lingkungan sepanjang 600 meter dengan lebar 1,5 meter di Batugede atau Kampung Margarahayu Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul Garut. Terdapat sepanjang 200 meter di antaranya tergerus banjir sejak Selasa malam (20/09-2016). Bersamaan berlangsungnya terjangan amuk Sungai Cimanuk. Bahkan tak hanya jalan lingkungan yang porak-poranda. Melainkan areal persawahan potensial beririgasi teknispun seluas 1,5 hektare pun diluluh-lantakan luapan air, yang hingga kini masih digerus air deras. Rusaknya lintasan jalan lingkungan yang dibangun PNPM tersebut, menjadikan mobilitas 3.000 an penduduk RW. 12, 13 dan RW 16 terutama anak sekolah menjadi sangat terhambat. Padahal lintasan jalan itu, menghubungkan pula ke perkampungan penduduk Pasir Seah. Serta ke lokasi pemakaman Umum.
Marsda TNI Dedy N. Komara Saksikan Lintasan jalan lingkungan sepanjang 600 meter dengan lebar 1,5 meter di Batugede atau Kampung Margarahayu Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul Garut. Terdapat sepanjang 200 meter di antaranya tergerus banjir sejak Selasa malam (20/09-2016). Bersamaan berlangsungnya terjangan amuk Sungai Cimanuk. Bahkan tak hanya jalan lingkungan yang porak-poranda. Melainkan areal persawahan potensial beririgasi teknispun seluas 1,5 hektare pun diluluh-lantakan luapan air, yang hingga kini masih digerus air deras. Rusaknya lintasan jalan lingkungan yang dibangun PNPM tersebut, menjadikan mobilitas 3.000 an penduduk RW. 12, 13 dan RW 16 terutama anak sekolah menjadi sangat terhambat. Padahal lintasan jalan itu, menghubungkan pula ke perkampungan penduduk Pasir Seah. Serta ke lokasi pemakaman Umum.

Komandan Sesko Angkatan Udara, Lembang Bandung, Marsda TNI Dedy N. Komara kepada Garut News di Batugede, Sabtu (08/10-2016), antara lain katakan bencana yang berdampak sangat luar biasa ini juga diperlukan upaya memulihkan kembali kondisi hulu “Daerah Aliran Sungai” (DAS) Cimanuk secara menyeluruh, terencana, dan terukur.

Pemulihan tersebut, imbuh jenderal berbintang dua itu, sebagai solusi jangka panjang sehingga ke depan tak terjadi lagi bencana seperti ini.

Keluarga Besar Sesko Angkatan Udara bersama rekan-rekan alumni SMAN 8 Jakarta sangat terpanggil ikut serta berempati maupun peduli terhadap apapun korban terdampak banjir bandang Sungai Cimanuk, sekaligus bersama rombongan melihat langsung dari dekat sejumlah titik lokasi berkondisi porak-poranda.

Sebelumnya Marsda TNI Dedy N. Komara berdialog dengan Wakil Bupati dr H. Helmi Budiman di rumah Dinas Wakil Bupati, serta secara simbolis menyerahkan ragam bantuan yang dinilai sangat mendesak bisa segera dipenuhi korban terdampak bencana.

Dalam pada itu, Amuk Sungai Cimanuk menimbulkan pelbagai kerusakan, dan menelan banyak korban jiwa.

Memberikan Bantuan Ragam Kebutuhan yang Mendesak Bisa Segera Dipenuhi Korban Terdampak Terjangan Banjir.
Memberikan Bantuan Ragam Kebutuhan yang Mendesak Bisa Segera Dipenuhi Korban Terdampak Terjangan Banjir.

Semestinya menjadi pelajaran sangat berharga sekaligus bisa menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya pemeliharaan lingkungan bagi kehidupan.

Betapa tidak ? Penelisikan ahli menunjukkan penyebab banjir bandang Cimanuk pun tak hanya semata-mata lantaran curah hujan sangat tinggi, melainkan lebih pada rusaknya daerah serapan air di kawasan hulu DAS Cimanuk maupun hulu Sub DAS-nya.

Kerusakan lingkungan di kawasan tersebut, terjadi tak lain sebagai akibat banyaknya alih fungsi lahan.

Atawa penggunaan lahan tak sesuai fungsi, dan pola ruang seharusnya.

Marsda Dedy N. Komara Saksikan Langsung Kerusakan Rumah Penduduk di Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul.
Marsda Dedy N. Komara Saksikan Langsung Kerusakan Rumah Penduduk di Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul.

Demikian dikemukakan Pemerhati Lingkungan juga Ketua I Forum Jabar Selatan Suryaman Anang Suatma menyikapi terjadinya banjir bandang Cimanuk.

“Pemerintah juga mesti meninjau kembali atau bahkan mencabut perizinan yang bertentangan dengan aspek Kajian Lingkungan Hidup Strategis !” tandas Suryaman.

Mantan anggota Pansus Tata Ruang pada DPRD kabupaten setempat periode 2004-2009, meminta pula agar Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup segera meninjau kembali kebijakan program yang ada di lingkungan BUMN/BUMD yang dinilai tak tepat guna, dan tidak tepat sasaran sehingga terindikasi hanya menimbulkan kerusakan ekosistem.

Bantuan Keluarga Besar Sesko AU Beserta Alumni SMAN 8 Jakarta.
Bantuan Keluarga Besar Sesko AU Lembang Bandung Beserta Alumni SMAN 8 Jakarta.

Juga diperlukan penguatan regulasi dan pembinaan, serta pengawasan jelas terhadap keberadaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan/Kelompok Tani Hutan.

“Aparat penegak hukum pun supaya segera menindak tegas para pelaku penguasaan lahan yang dikuasai secara tak sah. Terutama aktor-aktornya yang kerap mengatasnamakan kebutuhan rakyat di balik kepentingan kapitalis !” tandasnya.

Selain itu, lanjut Suryaman, perlu dilakukan audit investigasi secara komprehensif terhadap beragam kebijakan pemerintah khususnya mulai tahun anggaran 2014 hingga 2016.

Ketua Dewan Penasihat Presidium Masyarakat Garut Selatan itu menyebutkan, sedikitnya lima kali peristiwa banjir bandang terjadi sejak 2008. Terakhir paling parah banjir bandang luapan Sungai Cimanuk pada 20 September 2016 lalu.

Berdialog Sekaligus Secara Simbolis Menyerahkan Bantuan Melalui Wakil Bupati Garut, dr H. Helmi Budiman.
Berdialog Sekaligus Secara Simbolis Menyerahkan Bantuan Melalui Wakil Bupati Garut, dr H. Helmi Budiman.

Pada 2008, terjadi banjir bandang dan longsor disertai pergeseran tanah di Desa Jatisari Kecamatan Cisompet. Sebanyak 312 kepala keluarga (kk) direlokasi. Penyebab bencana adanya alih fungsi lahan oleh penggarap ilegal di lahan PTPN Bunisari Lendra bagian Cisarua Blok Padarame Desa Neglasari Cisompet.

Kemudian pada 2011, banjir bandang menerjang Kecamatan Cibalong, Pameungpeuk, Cisompet, dan Kecamatan Pakenjeng menyebabkan delapan korban meninggal dunia, lima orang korban hilang, dan 1.850 kk kehilangan tempat tinggal.

Penyebabnya meluapnya debit air Sub DAS Cibera, Cikaso, Cipalebuh, Cipasarangan, Cimangke, dan Cikandang akibat kerusakan lahan di kawasan hulu DAS meliputi Gunung Ragas, Gunung Kasur, dan Gunung Gelap di Dayeuhluhur Desa Negalasari.

Amuk Sungai Cimanuk/Banjir Bandang Berdampak Sistemik.
Amuk Sungai Cimanuk/Banjir Bandang Berdampak Sistemik.

Disusul juga pada 2011 terjadi banjir bandang melanda Desa Mekarjaya, Giri jaya, dan Desa Tanjungjaya Kecamatan Cikajang di alur sungai Cibarengkok (hulu Sungai Cimanuk) yang dikelilingi lahan bekas perkebunan teh Pamegatan. Sebanyak tiga unit rumah penduduk di Desa Simpang pun hanyut.

Pada Desember 2014, banjir lumpur merendam sekitar 720 unit rumah warga. Sebanyak 36 unit rumah di antaranya rusak berat.

Terakhir, pada 20 September 2016, banjir bandang sungai Cimanuk menelan puluhan korban jiwa serta luka, dan ratusan rumah warga rusak.

Total kerugian material kerusakan pelbagai infrastruktur, perumahan, sosial, dan ekonomi akibat bencana banjir bandang sungai Cimanuk di Kabupaten Garut terjadi dua pekan lalu terus bertambah.

Berdampak Sangat Dramatis.
Berdampak Sangat Dramatis.

Dari hitungan sementara sebelumnya mencapai sekitar Rp158.464.000.000 miliar, total kerugian material terhitung saat ini mencapai sekitar Rp286 miliar .

Menurut Bupati Garut Rudy Gunawan, berdasar hasil analisa Tim Penilai Kerusakan dari Direktorat Penilaian Kerusakan Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dibantu seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Garut, total kerusakan dan kerugian akibat bencana banjir bandang Cimanuk mencapai sekitar Rp286 miliar lebih.

“Kerugian dihitung dari lima komponen atau sektor yaitu perumahan, infrastruktur, sosial, ekonomi serta lintas sektor,” ungkapnya.

Dikemukakan, pasca masa tanggap darurat bencana banjir badang berakhir, saat ini memasuki masa transisi ke pemulihan sebelum memasuki tahapan rehabilitasi, dan rekonstruksi dengan kurun waktu selama tiga bulan ke depan.

Terkait dengan pengungsi korban banjir bandang Cimanuk, Rudy menyebutkan, sebanyak 787 kepala keluarga (kk) atau sebanyak 2.525 penduduk pengungsi ditetapkan sebagai pengungsi kehilangan tempat tinggalnya.

Puncak Terjangan Setinggi Delapan Meter Lebihi Mistar Ukur Pos Duga Ketinggian Air.
Puncak Terjangan Setinggi Delapan Meter Lebihi Mistar Ukur Atas Pos Duga Ketinggian Air Sungai Cimanuk.

Dari jumlah tersebut, terdapat 279 kk atau 1.085 jiwa pengungsi di antaranya masih tinggal di lokasi pengungsian atau hunian sementara tersebar pada enam lokasi. Yakni di bangunan Rusunawa Gandasari, Rusunawa al Musaddadiyah, Gedung Transito, Gedung Islamic Center, Gedung Bale Paminton, dan Local Education Center (LEC).

“Selama mereka di sana, Pemerintah Daerah berkewajiban bisa memenuhi pelbagai fasilitas seperti listrik, air bersih, sarana dan prasarana dasar serta jaminan hidup bagi para pengungsi,” imbuhnya.

“Prahara”

Prahara akibat terdampak banjir bandang tersebut, berdasar Pos Duga Air Otomatik Leuwidaun Sungai Cimanuk di Desa Paminggir Kecamatan Garut Kota, menunjukan terjadinya terjangan puncak ketinggian permukaan airnya sempat mencapai delapan meter, pada Selasa (20/09-2016).

Papan Ukur Bawah.
Mistar Ukur Bawah.

Dengan membawa endapan lumpur sangat pekat, dan bebatuan air bah ini menyapu bersih apapun yang dilintasinya.

Sehingga, jika kondisi lingkungan kawasan hulu hingga sepanjang lintasan “Daerah Aliran Sungai” (DAS) tersebut tak segera dipulihkan.

Maka amuk sungai itu tak mustahil bukan hanya melibas kawasan yang dilintasinya. Melainkan bakal bisa menenggelamkan seluruh denyut nadi sosial perekonomian di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menyusul Undang-Undang Nomor 26/2007 tentang Ruang Terbuka Hijau mengamanatkan, untuk pelestarian lingkungan, dalam rencana tata ruang wilayah ditetapkan kawasan hutan paling sedikit 30 persen dari luas daerah aliran sungai. Setiap kota dan kabupaten pun harus memiliki ruang terbuka hijau mencapai 30 persen dari luas wilayahnya.

Ny. Yulia Nuryani(32), salah satu dari 40 kepala keluarga (KK) atau 164 penduduk yang kini menempati pengungsian Rusunawa Al Musadaddiyah. Selain kehilangan tempat tinggal, juga Suami, Anak dan Adik Kandungnya Tewas direnggut amuk Sungai Cimanuk Garut menjelang tengah malam yang disertai hujan sangat deras, Selasa (20/09-2016) lalu.
Ny. Yulia Nuryani(32), salah satu dari 40 kepala keluarga (KK) atau 164 penduduk yang kini menempati pengungsian Rusunawa Al Musadaddiyah. Selain kehilangan tempat tinggal, juga Suami Hanyut, Anak dan Adik Kandungnya Tewas direnggut amuk Sungai Cimanuk Garut menjelang tengah malam yang disertai hujan sangat deras, Selasa (20/09-2016) lalu.

Namun berdasar temuan “Wahana Lingkungan Hidup Indonesia” (Walhi) Jawa Barat, rata-rata ruang terbuka hijau di 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat hanya tersisa 6-7 persen. Malahan sangat ironisnya Kabupaten Garut hanya memiliki lima persen ruang terbuka hijau.

Sungai Cimanuk juga kini memiliki angka “Koefisien Regim Sungai” (KRS) maupun angka kritis tertinggi, dibanding sungai lain di Pulau Jawa. Makin tinggi angka KRS itu maka makin berpotensi menyebabkan banjir dan longsor.

Ambang batas kritis berada di angka KRS 80, namun kini DAS Cimanuk berangka 713 atau ada perbedaan debit yang tajam sampai 713 kali antara debit terendah dan debit tertinggi.

Koefisien Regim Sungai/KRS, bilangan menunjukkan perbandingan antara nilai debit maksimum (Qmaks) dengan nilai debit minimum (Qmin) pada suatu DAS/sub DAS. Dari pelbagai hasil penelitian menunjukkan DAS Cimanuk memasuki kritis dan tidak sehat sejak 1980 an.

Seorang Korban Selamat Terdampak Amuk Cimanuk Menghibur Diri Saksikan Alat Berat. Rumah Milikinya Raib Digerus Banjir Bandang.
Seorang Korban Selamat Terdampak Amuk Cimanuk Menghibur Diri Saksikan Alat Berat. Menyusul Rumah Milikinya Raib Digerus Banjir Bandang.

Angka tinggi KSR tinggi, menunjukkan hujan turun tidak mampu ditahan vegetasi di gunung dan bukit, akibatnya meluncur ke sungai-sungai menyebabkan debit air melimpah dalam waktu singkat.

Padahal pada kondisi normal berketinggian air berkisar 50 cm hingga 60 cm, bahkan lebih rendah atawa 40 cm berdebit air 6 m3/detik maupun 6.000 liter/detik.

Kemudian setelah dibangun Bendung Copong, ketinggian normalnya menjadi berkisar 80 cm hingga 90 cm, maupun terjadi peningkatan setinggi 30 cm.

********

(nz, jdh).