Memburu Batu Akik Garut Hingga Meregang Nyawa

0
104 views

Oleh : John  Doddy Hidayat.

Garut News ( Jum’at, 27/02 – 2015 ).

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Bertaburannya emas permata, bahkan termasuk segudang berlian sekalipun, barangkali tak bisa menyamai mahalnya nilai “nyawa” manusia.

Meski apapun  makhluk hidup di dunia ini, dipastikan bakal menemui ajalnya berupa kematian.

Namun tak ada salahnya jika menelisik latar belakang utamanya. Agar bisa dijadikan “pembelajaran” sekaligus senantiasa meningkatkan kualitas ibadah, serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.

Menyusul, merebak-maraknya aktivitas penggalian batu mulia atawa batu akik di Kabupaten Garut, yang selama ini semakin mengesankan dibiarkan liar, ternyata menuai korban jiwa.

Jenis Ini Dipasarkan, Senin (02/02-2015), Dengan Nilai Jual Rp10 juta. (Foto : John Doddy Hidayat).
Jenis Ini Dipasarkan, Senin (02/02-2015), Dengan Nilai Jual Rp10 juta. (Foto : John Doddy Hidayat).Sedikitnya dua penduduk penggali di kawasan Cigunung Ciherang RT 03/06 Desa Sukarame Kecamatan Caringin tewas meregang nyawa.

Lantaran diduga kuat menghirup gas beracun, ketika melakukan penggalian batu akik pada kedalaman lubang galian di kawasan tersebut. Terdapat pula satu penggali lainnya terluka ringan.

Peristiwa terjadi Kamis (26/02-2015) tersebut, berlangsung sekitar pukul 00.30 WIB.

Pada kesenyapan separuh malam yang dingin itu, kedua korban bersama tiga rekan penggali menggali lubang kemudian memasukinya memburu bongkahan bahan batu mulia. Ternyata dari bagian dalam menghembus gas beracun.

Diduga pula panik, mereka berebutan berusaha keluar dari lubang menghindari gas beracun ini. Namun gas yang terlanjur mereka hisap kemungkinan terlalu banyak.

Sehingga belum sempat menjauh meninggalkan lubang galian, mereka jatuh pingsan sekitar lubang.

Sejumlah penggali lain mengetahui kejadian tersebut berusaha menolong kelima korban dengan melarikannya ke Puskesmas Caringin.

Jenis Ini Dipasarkan Dengan Nilai Rp5 Juta. (Foto : John Doddy Hidayat).
Jenis Ini Dipasarkan Dengan Nilai Rp5 Juta. (Foto : John Doddy Hidayat).

Namun dua di antara korban terdiri Syaripudin(25) warga Kampung Pasang, Desa Caringin, dan Ono Sukarno(37) asal Kampung Cigadog Desa Sukarame meninggal dunia di perjalanan, sebelum sempat mendapatkan pertolongan petugas Puskesmas.

Sedangkan tiga korban lain, masing-masing Wahri(45), Bilim(30), dan Wari(35) bisa berhasil diselamatkan.

“Wahri masih sakit dan dirawat sebab menghirup cukup banyak gas beracun. Sedangkan Bilim dan Wari berhasil selamat,” ungkap Kabag Humas dan Protokol Setda kabupaten setempat Undang Syaripudin, Jum’at (27/02-2015).

Selama ini wilayah kecamatan Caringin dikenal kawasan memiliki potensi bahan batu mulia terbaik di Kabupaten Garut, bahkan nasional, dengan jenis batu mulia terpopuler Green Calchedony/Chrisopharos, atau batu topaz hijau, dan Panca Warna Agate.

Di pasaran juga dikenal dengan sebutan Batu Hijau Ohen, dan Batu Panca Warna Edong Bungbulang.

Aparat penegak hukum Caringin mengakui, aktivitas penggalian liar batu akik cukup marak di pelbagai pelosok Caringin.

Namun baru kali terdapat kejadian pelaku penambangan liar batu akik tewas, katanya.

Bupati Rudy Gunawan berjanji “akan” segera melakukan penataan kembali kawasan selatan Garut dari aktivitas penambangan.

Sekarang kami “akan” berangkat ke sana. Hal ini menjadi masalah yang harus diatasi dengan segera, katanya pula.

Kata dia, meraup keuntungan terbesar dari perputaran bisnis batu mulia Garut yaitu pengepul dan pedagang.

Sedangkan keuntungan diraih penambangnya kecil dibandingkan risiko memertaruhkan nyawa.

“Pengusahanya kebanyakan dari luar Garut, dan sebenarnya para penambang liar itu bisa menempuh perizinan. Kalau ada izin, bisa kita upayakan penyuluhan keselamatannya dan bimbingan lain. Tetapi sekarang ini tak ada izin dan liar, marak di mana-mana,” kata dia.

Tak bermaksud saling menyalahkan, ke depan agar peristiwa serupa tak lagi terjadi, sangatlah mendesak menyosialisasikan regulasinya yang jelas, serta upaya nyata mengawal serta menegakkan aturan.

Sehingga tak mengesankan terjadi pembiaran, kemudian seperti kebakaran jenggot apabila telah menelan korban jiwa manusia.

*********

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here