Membongkar 32 Tahun yang Sunyi

0
35 views

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 11/10 – 2014 ).

membisuJoshua Oppenheimer memukau sekaligus mengguncang dengan film dokumenternya yang terbaru. Sekuel film “Act of Killing” dengan pendekatan personal.

***

Ia meletakkan sekeping lensa di depan matanya  dan bertanya apakah bapak sepuh itu sudah bisa jelas melihat pemandangan di hadapannya.

“Tidak…belum,” kata sang bapak tua. Sang optometris, bernama Adi Rukun, menambahkan sekeping lensa lagi, “ini?”

Lelaki tua bertubuh kurus itu bernama Inong. Giginya sudah menghilang, matanya sudah rabun—dan karena itulah Adi Rukun mengunjunginya untuk mengecek matanya—tetapi suaranya masih lantang dan ingatannya tentang peristiwa 50 tahun silam sungguh terang benderang.

Dia membunuh begitu banyak orang. Dia Kepada sutradara film ini dia bercerita bagaimana dia membunuh Ramli dan melempar tubuhnya ke sungai.

Adi Rukun, adik Ramli, datang kepadanya. Untuk memperbaiki penglihatan Inong yang sudah rabun. Dan, mungkin —sekali lagi, mungkin—untuk membuka nurani lelaki ringkih yang ternyata di masa muda adalah salah satu pimpinan gerakan anti komunis di desanya di Deli Serdang setelah pecahnya tragedi 1965.

Tentu saja itu tak terjadi. Pertanyaan demi pertanyaan Adi Rukun membuat Inong merasa tak nyaman. “Kamu sudah mulai bicara politik. Saya tidak mau jawab,” kata Inong dengan lantang.

Saat itu dia tak lagi seperti seorang kakek ringkih. Ada sejarah kelam yang menumpuk di balik matanya yang membutuhkan lensa itu.

Ini adalah sebagian adegan film The Look of Silence” karya Joshua Oppenheimer terbaru yang berhasil meraih penghargaan Grand Jury Prize di Festival Film Venice tahun ini.

Sekuel ini, seperti juga film pertamanya, masih berkisah tentang   para pelaku pembunuhan tahun 1965-1966 dan juga masih berkisar propinsi Sumatera Utara, tepatnya Kabupaten Deli Serdang.

Act of Killing” mengguncang dunia karena Oppenheimer menampilkan narasumber yang dengan bangga  menceritakan bagaimana mereka membantai “para pendukung komunis” itu dan betapa tokoh-tokoh politik yang masih berkuasa dengan enteng menganggap peristiwa itu memang sesuatu yang wajar.

MakaThe Look of Silence” adalah sebuah dokumentasi yang lebih personal dan, karena itu, jadi lebih memukau.

Oppenheimer menggunakan suara Adi Rukun sebagai perwakilan dari banyak orang, korban atau bukan korban, yang selalu mempertanyakan lubang gelap dalam sejarah Indonesia.

Tetapi Adi adalah sosok istimewa. Adi, 44 tahun, putera  dari sepasang suami isteri usia dari Jawa Timur yang menetap di salah satu desa di Deli Serdang.

Sesekali kita diperlihatkan bagaimana sang ibu memandikan dan menyuapi ayah Adi yang sudah sangat tua, pikun dan butuh bantuan untuk bisa bergerak.

Sang Ayah sudah tak mengenal siapapun dan mengaku “berusia 16 tahun”. Situasi sang Ayah yang membuat pilu dikombinasi dengan sang Ibu yang selalu merindukan Ramli, putera sulungnya yang hilang dibunuh, membuat film ini menjadi sangat personal hampir menyerupai sebuah film fiksi layar lebar.

Tetapi justru karena ini adalah sebuah film doku-drama, yang memperlihatkan kehidupan nyata, maka kesedihan itu semakin menikam.

Puluhan tahun berlalu, tetapi para pembunuh  Ramli dan korban lainnya masih hidup  dengan tenang dan sentosa di tanah yang sama dengan keluarga Adi Rukun.

Adi kemudian lebih mengetahui secara rinci tentang peristiwa pembunuhan terhadap abangnya melalui rekaman dokumenter Joshua Oppenheimer yang dilakukan beberapa tahun silam.

Dari rekaman itu, Adi  melihat bagaimana Inong dan Amir Hasan menyiksa Ramli dan membuang tubuhnya ke Sungai Pekong.

Dari rekaman itu pula, Adi mengetahui kekejian demi kekejian yang terjadi pada siapapun yang masuk daftar yang harus diburu.

Adi memutuskan untuk mengunjungi orang-orang di Kabupaten Deli Serdang yang mengaku ikut dalam pembunuhan anggota dan simpatisan PKI atau Gerwani (“saya memotong payudaranya, lalu baru lehernya,” kata salah satu narasumber).

I Kita tak pernah tahu  tujuan Adi, apakah dia ingin mengkonfrontasi, ingin mendengar  sebuah pengakuan atau penyesalan atau pertobatan

Adi menghadapi beragam reaksi dari setiap  narasumber yang diwawancarainya. Inong tampak marah dan defensif karena dia merasa itulah tindakan yang harus dilakukan pada zamannya.

Ada saat Adi mengunjungi salah satu  narasumber bernama Samsir yang selama wawancara didampingi anak perempuannya.

Samsir mengaku membunuh  orang. Begitu Adi menyampaikan bahwa ia adalah adik Ramli yang juga menjadi korban,  Samsir diam, sementara anaknya segera menyampaikan permintaan maaf.

Bagian ini seperti sebuah perwakilan mereka yang percaya bahwa sebelum maju ke masa depan, pengakuan dan permaafan adalah sesuatu yang penting.

Paling tidak bagi Adi dan bagi puteri Samsir.

Ada lagi keluarga Amir-Hasan yang dijumpai beberapa tahun setelah Amir wafat. Pada pertemuan yang semula santun dan beradab ini, suasana menjadi tak nyaman ketika akhirnya Adi mengungkap siapa dirinya.

Isteri dan sanak saudara Amir Hasan menolak untuk menyaksikan rekaman  yang dibuat Joshua –yang selalu  mendampingi Adi Rukun—yang berisi pengakuan Amir dan Inong tentang peristiwa pembantaian terhadap Ramli dan korban-korban lainnya.

Dari beberapa orang yang ditemuinya, tentu yang paling menyayat hati adalah pertemuan antara Adi Rukun dengan pamannya sendiri  yang di tahun-tahun pembantaian bekerja sebagai sipir penjara.

Tentu saja sang paman, adik dari ibu Adi, tidak bertanggung-jawab langsung atas kematian Ramli. Tetapi dia bekerja sebagai bagian dari mesin besar itu.

Itu bukan saja mengejutkan Adi (dan ibunya yang ternyata tak mengetahui kerja adiknya pada tahun-tahun kelam itu), tetapi juga menusuk hati saat menyadari betapa mereka memang berada di spektrum yang berlawanan.

Paman Adi tampak tidak menyesali perannya.

“Kalau saya tolak, mereka membunuh kita, awak jaga keamanan. Mereka tak pernah salat…..berani-beraninya kau menyalahkan saya….” suara sang paman meninggi.

Suasana menjadi masam. Wajah Adi tampak terluka.

“Saya melakukannya untuk membela negara,” pamannya menutup pembicaraan dengan kalimat yang sering diulang-ulang mereka sebagai justifikasi.

Beberapa kali kamera Lars Skree menyorot reaksi Adi dari dekat. Sedih, marah, kecewa bercampur baur. Hal-hal yang tak terkatakan oleh Adi Rukun terekam dalam sunyi, tetapi Joshua Oppenheimer tahu keheningan itu berbicara tentang hati Adi dengan jelas.

Benang merah antara kedua film karya Oppenheimer –yang juga diproduksi oleh sineas terkemuka Werner Herzog—adalah kisah para pembantai yang terang-terangan mengaku sebagai pembunuh anggota, simpatisan komunis atau anggota organisasi yang berkaitan (atau dianggap berkaitan dengan PKI).

Tak ada penyesalan, sikap pertobatan apalagi permintaan maaf. Semua itu dianggap sebagai tindak laku kepahlawanan.

Tetapi justru ada satu kalimat menarik yang tidak dikembangkan oleh sang sutradara. Inong mengucapkan bahwa tentara tak pernah melakukan eksekusi itu. Mereka hanya membiarkan pemimpin desa dan warganya yang melakukannya.

Bayang-bayang tentara , yang sebetulnya berkepentingan dalam pembantaian massal se Indonesia itu terasa sekelebat belaka, karena nampaknya Oppenheimer ingin menyorot pelaku dan korban dari kalangan ‘biasa’.

Tetapi penonton yang kritis dan cerdas—yang tak mengikuti sejarah Indonesia—sudah pasti akan bertanya tentang konteks: bagaimana bisa warga di sebuah negara kepulauan nun jauh di timur sana memiliki perasaan yang sama terhadap komunisme di sebuah masa setengah abad silam?

Dari mana pula akar kebencian –yang kemudian berkembang menjadi kekejian  yang membuat mereka beramai-ramai menerabas sesama warga bak binatang?

Bahwa tentara punya andil yang sangat besar dengan peristiwa ini, tentu tak menghilangkan fakta bahwa warga Indonesia menjadi bagian dari pembantai itu.

Tetapi menampilkan sebuah kisah , sepersonal apapun, akan selalu lebih lengkap jika diberi konteks kesejarahan yang lebih luas, apapun caranya.

Oppenheimer sekelumit memperlihatkan adegan diskusi Adi Rukun dengan anaknya yang mendapat pelajaran sejarah di kelas tentang jahatnya PKI dan para pengikutnya, sebuah indoktrinasi yang hingga kini masih terus berlangsung.

Diskusi itu menarik dan penting, dan seharusnya persoalan ‘lubang besar’ dalam sejarah Indonesia itu  juga diangkat untuk melengkapi konteks.

Dari sisi sinematik, The Look of Silence menyajikan bahasa gambar yang lebih berbicara dibanding ‘kakak’nya film “Act of Killing.

Visual yang mengikat kita, hingga kita sama sekali tak bisa berhenti menyaksikan –bahkan untuk sedetikpun—dan dialog yang pendek dan serba menegangkan, membuat film ini jauh lebih menggebrak.

Selama 32 tahun, Indonesia membisu tentang derasnya darah yang mengucur dari korban yang diterabas, digolok, dipenggal, dibuang ke sungai, digantung, ditusuk atau dikerat.

Indonesia selama ini, sebelum dan sesudah 1998, masih membisu, pura-pura tak tahu, tak faham, tak peduli, tak mau pusing.

Tentu beberapa gelintir sudah mulai berbicara melalui diskusi, hasil penelitian , karya seni dan gugatan-gugatan sporadis di sana-sini yang dianggap remeh.

Joshua Oppenheimer beserta seluruh timnya, dan para kreator lainnya sudah membuka pintu diskusi itu. Jawaban kini ada pada kita semua: rakyat, media, pemerintah. 

Leila S.Chudori

The Look of Silence (Senyap)
Sutradara: Joshua Oppenheimer dan Anonim
Sinematografi : Lars Skree
Produksi: Final Cut for Real (Denmark)
Tahun: 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here