Membaca Nasihat Emha

0
24 views
Hasanul Rizqa. (Foto: dok. Republika).

Sabtu 11 Mei 2019 03:28 WIB
Red: Joko Sadewo

Hasanul Rizqa. (Foto: dok. Republika).

“Maryam tak hanya mengetahui shaum itu perintah Allah, tetapi juga melaksanakannya”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Hasanul Rizqa*

Di antara begitu banyak tokoh Muslim di Tanah Air, Emha Ainun Nadjib menjadi nama yang saya pribadi kagumi. Nasihat-nasihatnya tentang kondisi umat dan bangsa, bagi saya, menginspirasi. Sebut saja satu pesan Cak Nun—demikian sapaan akrabnya—dalam konteks Ramadhan.

“Bukankah Ia sangat menahan diri? Tetap memperkenankan kita berbadan sehat, bernapas dan bergerak? Bukankah Ia sangat menahan diri, dengan tetap menerbitkan matahari, mengalirkan air dan menghembuskan angin, seolah-olah tidak peduli betapa malingnya kita, betapa munafik dan kufurnya kehidupan kita?”

Ada satu dasar tersirat dari kata-kata di atas. Dalam mengamati suatu fenomena sosial, seseorang mestinya tidak melupakan Allah. Zikir hendaknya selalu menjadi pusat gravitasi akal-budi, sesuatu yang amat penting bagi ilmuwan. Dengan berzikir, seorang insan yang beriman dapat merenungi sifat-sifat Allah sehingga meniru akhlak-Nya dalam setiap langkah kehidupan.

Satu hal yang juga diingatkan Cak Nun ialah oposisi biner antara manfaat dan mudarat. Kemudian, sifat an-Naafi’ danadh-Dhaar yakni dua di antara 99 nama indah Allah SWT (asmaul husna). Artinya, Yang Maha Memberi Manfaat dan Yang Maha Memberi Kemudaratan.

Allah dengan sifat-Nya an-Naafi’ masih memberikan kesehatan jasmani, kelancaran sirkulasi nafas, dan metabolisme fisik yang bagus kepada diri kita. Alhamdulillah. Namun demikian, bisa saja suatu ketika Dia menunjukkan sifat adh-Dhaar kepada kita. Maka dari itu, seseorang dan utamanya kaum Muslimin seyogianya betul-betul mawas diri.

Misalnya, dalam hal menunaikan amanah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.” Levelnya memang berbeda-beda. Namun, sifat amanah tetap harus dimiliki agar bisa mawas diri.

Seorang suami, harus amanah. Seorang ayah, harus amanah. Seorang kepala perusahaan, harus amanah. Seorang kepala komisi publik, harus amanah. Apalagi, bila levelnya sampai seorang kepala negara—juga mesti amanah. Keroposnya akhlak seorang pemimpin bisa berimbas pada mereka yang dipimpin. Ibaratnya, busuknya ikan itu dimulai dari kepala, bukan sirip atau ekornya.

Sekarang memasuki Ramadhan, bulan yang di dalamnya kita umat Islam wajib berpuasa. Inti ibadah itu adalah “menahan diri.” Secara fikih, berpuasa itu menahan diri tidak hanya dari hal-hal yang diharamkan, tetapi juga beberapa yang dimubahkan, yakni sejak fajar hingga terbenamnya matahari selama Ramadhan.

Puasa itu shaum. Alquran surah Maryam ayat 26 memakai istilah ini ketika mengisahkan tentang Maryam binti Imran. Sesudah melahirkan Nabi Isa AS, perempuan mulia itu diimbau malaikat Jibril: “Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (//shauman) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’”

Maryam melakukan shaum, yakni menahan diri dari berbicara kepada siapapun ketika membawa sang bayi ke tengah kaumnya. Maka Allah SWT pun menolongnya. Bayi itu, Isa AS, dikehendaki-Nya dapat berbicara fasih kepada mereka tentang keadaan diri dan kenabiannya.

Maryam tidak hanya mengetahui bahwa shaum itu perintah Allah, tetapi juga melaksanakannya sepenuh hati. Dengan begitu, Allah menyelamatkannya dari tudingan keji orang-orang fasik. Dia terhindar dari kemudaratan. Apakah kita dapat belajar dari puasanya Maryam? Apakah kita mampu dan mau—setidaknya dalam 30 hari ke depan—menjauhi sifat maling, sifat munafik, dan sifat kufur (mengutip kalimat terakhir pesan Cak Nun)? Semoga.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here