Memaknai GBT Dari Tarogong Kidul Garut

0
24 views
Purnama, Sabtu (28/07-2018) Malam.

“Mengabadikan GBT Dari Tarogong Kidul Garut”

Garut News ( Senin, 30/07 – 2018 ).

Purnama, Sabtu (28/07-2018) Malam.

Banyak penduduk berantusias menyaksikan momentum “Gerhana Bulan Total” (GBT), termasuk warga Tarogong Kidul Garut, sehingga tak hanya pada tempat peneropongan bintang (observatorium) Bosscha, Bandung.

Proses Terjadinya GBT, Sabtu (28/07-2018) Dini Hari, Dilihat Dari Tarogong Kidul Garut.

“Peristiwa GBT pada 31 Januari 2018 disebut-sebut sebagai peristiwa alam langka karena merupakan GBT yang terjadi saat supermoon sekaligus bluemoon,” ungkap Kepala Observatorium Bosscha ITB, Dr. Premana Wardayanti.

“Secara rata-rata, peristiwa ini hanya terjadi 0,042% dari keseluruhan purnama atau hanya sekali dalam 2.380 kali purnama (satu kali dalam 192 tahun),” kata pimpinan institusi pengamatan astronomi tertua di Indonesia tersebut, dalam keterangan tertulisnya kepada CNN.

Menjelang GBT, Sabtu Dini Hari (28/07-2018).

Dikatakan, GBT) terjadi saat bulan tak terkena cahaya matahari lantaran terhalang bumi. Pada saat itu, matahari, bumi, dan bulan hampir berada dalam satu garis lurus.

Dikemukakan, gerhana bulan selalu terjadi pada saat bulan purnama. Namun tak setiap purnama terjadi gerhana bulan, karena bidang orbit bulan membentuk sudut lima derajat terhadap ekliptika (bidang orbit bumi mengelilingi matahari).

Puncak GBT, Sabtu Dini Hari (28/07-2018).

Umumnya, dalam satu tahun terjadi dua hingga tiga kali gerhana bulan. Pada 2018 ini, gerhana bulan terjadi pada 31 Januari dan 28 Juli. Keduanya, disebut GBTyang langka. Sayangnya, hanya satu gerhana bulan bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, 31 Januari dan 28 Juli.

“Hanya gerhana bulan 31 Januari 2018 dapat teramati seluruhnya dari Indonesia. Pada gerhana bulan 28 Juli 2018, sebagian wilayah Indonesia timur tak dapat menyaksikan keseluruhan,” ujarnya.

Warna merah muncul karena cahaya matahari dihamburkan debu dan molekul di atmosfer bumi. Warna biru terhamburkan lebih kuat, sedangkan warna merah dapat lolos melewati atmosfer bumi dan sampai ke permukaan bulan.

Bulan pun tampak berwarna kemerahan. Sebagian orang jaman dahulu kemudian menyebut GBT sebagai blood moon atau bulan merah-darah.

“Sebenarnya warna bulan saat puncak gerhana tidak selalu sama. Bulan dapat berwarna merah-oranye, merah bata, merah kecoklatan, hingga merah gelap”

Perbedaan warna ini bergantung pada banyaknya kandungan uap air, polutan udara hasil pembakaran atau asap pabrik/kendaraan bermotor, debu, dan abu letusan gunung berapi. Bulan akan tampak semakin gelap seiring dengan makin banyaknya kandungan material tersebut.

Jika istilah blood moon berasal dari penampakan bulan yang kemerahan saat puncak gerhana, tidak demikian halnya dengan istilah blue moon. Blue moon tidak mengacu pada penampakan gerhana berwarna biru.

“Bulan dapat berwarna kebiruan jika atmosfer bumi dipenuhi debu/abu berukuran lebih dari 0,7 mikrometer yang dapat menghamburkan warna merah, seperti yang terjadi pascaletusan gunung Krakatau di tahun 1883 yang menyebabkan bulan menjadi kebiruan selama beberapa tahun”

Namun belakangan ini, istilah blue moon lebih populer digunakan untuk menyebut bulan purnama kedua yang terjadi pada bulan yang sama.

Untuk diketahui, lamanya fase bulan dari satu purnama ke purnama berikutnya adalah 29,53 hari. Sedangkan lamanya bulan masehi bervariasi, mulai dari 28/29 hari di bulan Februari hingga 30 dan 31 hari di bulan lainnya.

“Sehingga dalam satu bulan, dapat terjadi dua kali purnama (kecuali di bulan Februari). Secara umum, sekitar 3% dari keseluruhan purnama terjadi saat blue moon,” ungkapnya.

Sedangkan istilah supermoon adalah penampakan bulan purnama yang sedikit lebih besar (hingga 14%) dan lebih terang (hingga 30%) ketimbang biasanya. Hal ini karena orbit bulan yang berupa elips sehingga jarak bumi-bulan tidak selalu sama.

Jarak terjauh bulan dari bumi adalah 406.700 km sedangkan jarak terdekatnya adalah 356.400 km. Purnama yang terjadi saat bulan berada di titik terdekat disebut dengan supermoon, sedangkan purnama yang terjadi saat titik terjauhnya disebut dengan micromoon. Ia menerangkan satu dari empat purnama merupakan supermoon, sehingga menurutnya itu bukanlah kejadian langka.

Kegiatan di Bosscha

Saat gerhana bulan total Observatium Bosscha melakukan pengamatan dan penelitian untuk mengetahui kondisi atmosfer bumi secara kualitatif dan merekonstruksi spektrum atmosfer bumi sebagai model atmosfer planet layak huni di planet ekstrasolar (planet di luar tata surya).

Hanya saja, kegiatan pengamatan dan penelitian ini tidak terbuka untuk masyarakat umum.

*******

Sumber : CNN/Fotografer : John Doddy Hidayat.