Melawan Corona, Jangan Ada yang Ditutup-tutupi

0
18 views
Dwi Murdaningsih (dokpri). Foto: dokpri.

Senin 16 Mar 2020 02:42 WIB
Red: Joko Sadewo

Ilustrasi. Hindari Kerumunan Massa. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Penambahan pengetahuan mengenai corona menurunkan tingkat kefatalan”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dwi Murdaningsih*)

Sejak virus Corona mewabah ke berbagai negara, batuk pilek dan sakit tenggorokan bagi sebagian orang kini menjadi sedikit menakutkan. Orang bilang, “Duh, lagi musim corona malah batuk pilek, jadi parno.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menyatakan wabah penyakit akibat infeksi virus corona jenis baru sebagai pandemi pada Rabu (11/3). Saat ini, kasus WHO tersebar di 114 negara.

Jumlah kasus dan kematian berubah setiap jam. Sekarang, di saat sebaran covid-19 semakin masif, saatnya untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Satu fakta yang terungkap bahwa virus ini tidak pandang bulu memilih siapa yang akan diinfeksinya.

Orang yang sangat paham kesehatan bisa jadi pula terkena virus ini. Sebut saja menteri kesehatan Inggris yang sudah terinfeksi virus. Bahkan pejabat di Indonesia juga sudah mulai kena corona.

Perbedaannya adalah dari risiko yang terdampak kepada masing-masing individu. Bagi orang dengan Imunitas yang baik, akan lebih cepat sembuh, dan sebaliknya. Bagi orang yang rentan seperti orang tua atau orang dengan komplikasi penyakit, risikonya lebih tinggi bahkan bisa berdampak kepada kematian. Ini yang ingin dicegah.

Belum ada obat atau vaksin untuk melawan penyakit ini. Sistem imun tubuh kita lah menjadi garda pertama untuk mencegah infeksi. Penambahan pengetahuan mengenai virus corona diharapkan tingkat kefatalannya akan semakin menurun.

Lalu apa yang seharusnya dibuat pemerintah supaya masyarakat seperti saya ini tetap tenang namun waspada? Pemerintah harus terbuka dan memberikan mitigasi penyakit ini dengan sedetail mungkin.

Perlu ada informasi yang spesifik tempat-tempat mana saja yang perlu dihindari untuk mencegah penyebaran virus. Kepada pemerintah, tolong, jangan ada yang ditutup-tutupi. Segala yang berhubungan dengan pencegahan penyebaran virus ini tolong sampaikan.

Pemerintah perlu memastikan semua alat yang digunakan untuk mendeteksi virus ini bekerja dengan baik serta kompatibel. Jangan sampai ada orang yang merasa sehat, namun ternyata dia adalah seorang //carrier atau pembawa virus yang tidak terdeteksi, lalu menular kan virus ini kepada orang-orang yang rentan.

Pemerintah perlu terus memperbarui informasi supaya jalur penyebaran virus corona bisa segera dihentikan. Pemprov DKI sudah melakukannya dengan menutup sebagian tempat wisata. Wali Kota Solo pun sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) penyakit akibat infeksi virus corona. Siswa-siswa diminta belajar di rumah selama 14 hari ke depan.

Dengan semua langkah ini, saya mencoba terus memberikan sugesti kepada diri sendiri: jangan takut berlebihan, namun selalu waspada dan selalu jaga kesehatan.

Bagi saya, informasi-informasi baru membuat lebih waspada dengan virus ini. Semoga orang-orang pun demikian. Dengan begitu kita bisa saling menjaga diri masing masing dan mencegah penularannya.

Kini, dengan banyaknya pengetahuan mengenai corona, orang-orang semakin menjaga kebersihan. Rajin mencuci tangan. Lebih memperhatikan etika ketika batuk atau bersin.

Virus corona jenis baru dapat tertinggal di benda dalam sembilan hari. Penelitian yang diterbitkan pada Rabu (11/3) lalu ini tidak membuktikan bahwa ada orang yang terinfeksi dengan menghirup udara atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi.

Namun, hal ini menjadi gambaran bahwa virus ini bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Tak menutup kemungkinan penularan terjadi dengan lebih mudah. Bagi para pengguna Transportasi umum, mari kita lebih menjaga diri.

Mari bergandeng tangan, selalu jaga kesehatan dan kebersihan. Semoga corona segera berlalu..

*) penulis adalah jurnalis republika.co.id

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here