Melankolia

Garut News ( Senin, 03/03 – 2014 ).

Ilustrasi. Dilarang Parkir Kecuali Mungkin Bagi Kedua Moda Lawas Ini, Ahad (02/03-2014). Foto : John Doddy Hidayat.
Ilustrasi. Dilarang Parkir Kecuali Mungkin Bagi Kedua Moda Lawas Ini, Ahad (02/03-2014). Foto : John Doddy Hidayat.
Sejarah Indonesia (dan agaknya bukan hanya sejarah Indonesia) bermula dari euforia dan berlanjut dengan melankolia.

Revolusi 1945 dimulai dengan proklamasi yang yakin meskipun di tengah ketidakjelasan apa yang harus dilakukan.

Ilustrasi. Sepeda Motor Ini Dinaiki Empat Penumpang Juga sarat Barang Bawaan Ketika Melintas di Balubur Limbangan, Garut, Ahad (02/03-2014), Terjadi Pada Era Reformasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Sepeda Motor Ini Dinaiki Empat Penumpang Juga sarat Barang Bawaan Ketika Melintas di Balubur Limbangan, Garut, Ahad (02/03-2014), Terjadi Pada Era Reformasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Tapi pada akhir 1950-an, euforianya hilang di jalan.

Maka di tahun 1958 Bung Karno membuat manifesto yang menyatakan “menemukan kembali Revolusi” meskipun ternyata “revolusi”, ketika ia ditemukan lagi, tak mungkin sama dengan yang dahulu.

Demikian juga Reformasi 1998: perubahan ini dengan mengesankan memulihkan demokrasi yang sesat di jalan selama 40 tahun, tapi hampir dua dasawarsa semenjak itu, orang berkeluh-kesah lagi.

Barangkali euforia mendorong kita untuk lupa bahwa ada yang statis dalam yang bergerak maju satu hal yang tampaknya tak mudah diatasi, dan yang bukan cuma dalam sejarah Indonesia.

Gunter Grass pernah menulis tentang “kemandekan dalam kemajuan” yang dimuat dalam Aus dem Tagebuch einer Schnecke (saya baca versi Inggrisnya, From the Diary of a Snail)” dan ia menggunakan siput sebagai kiasan.

Baginya, schnecke, siput, adalah jalan yang pelan, yang membosankan (kecuali bagi si siput sendiri), tapi bagaimanapun itulah langkah-langkah perubahan.

Di akhir 1960-an itu, sekitar sepuluh tahun sebelum ia mendapatkan Hadiah Nobel untuk Kesusastraan, Grass aktif berkampanye untuk Partai Sosial Demokrat.

Dan orang tahu apa yang ditawarkan sebuah partai dengan agenda sosial-demokrasi: hasrat untuk perubahan besar, dari rasa keadilan yang dilukai, tapi semua harus terjadi tanpa revolusi.

Biar lambat, asal tak segera tamat.

Biar siput, asal berlanjut.

Dengan itu Grass membedakan diri dari kalangan radikal sayap kiri yang mendesakkan transformasi sosial dari akar-akarnya.

Ia tak ingin terjebak dalam gambaran masa depan yang demikian sempurna sehingga harus dicapai dengan mengorbankan apa pun sebab itu sebuah agenda yang umumnya berakhir dengan kekecewaan.

“Hanya mereka yang tahu dan menghargai kemandekan dalam kemajuan,” tulisnya, “yang pernah sekali atau lebih dari sekali menyerah, yang pernah duduk di atas cangkang siput dan mengalami sisi gelap utopia, hanya mereka itu yang dapat menilai kemajuan.”

Seorang sosialis yang ingin perubahan tapi sekaligus juga seorang demokrat yang tak hendak jadi diktator perubahan adalah seorang yang telah menyaksikan hubungan antara utopia dan melankolia.

Grass berbicara tentang melankolia ketika ia, semasa kampanye di awal 1970-an itu, diminta berceramah di Nrnberg untuk memperingati Albrecht Drer.

Ia mengambil sebuah kartu pos berisi reproduksi dari litograf karya perupa abad ke-16 itu, Melencolia I. Drer melukisnya 500 tahun yang lalu: sosok perempuan bersayap yang duduk merenung di antara benda dan suasana yang penuh teka-teki sampai hari ini.

Mungkin ia seorang malaikat yang beristirahat.

Mungkin ia jenius yang sedang berhenti ketika tengah memecahkan sebuah problem.

Yang jelas, di sekitarnya berserakan martil, alat-alat kerja, hewan yang terenyak, bujur sangkar geometris bertulisan angka-angka.

Agaknya bagi Grass, kombinasi dan kontras itu hendak dipakai Drer sebagai penanda: makhluk itu perkasa tapi murung.

“Sebagaimana kita sekarang, ia melihat batas dari zamannya.”

Makhluk bersayap itu ingin mampu mencapai yang diidamkannya, tapi ternyata tak sepenuhnya.

Ada utopia, setelah itu melankolia.

Melankolia dan utopia, kata Grass, saling menyuburkan.

Seorang teman, Taufik Rahzen, menyarankan kepada saya agar mencoba melihat suasana dalam karya Drer yang dibahas Grass itu dalam hubungannya dengan politik di Indonesia.

Saya kira ia tak mengada-ada.

Demokrasi, seperti ditunjukkan Grass, juga seperti bisa kita saksikan di sini, hidup di antara melankolia dan utopia.

Demokrasi bisa diartikan sebagai sebuah prosedur yang teratur, pemilihan umum dan pergantian pengurus kenegaraan yang dilakukan secara ajek.

Tapi proses yang “itu-itu juga” itu menunjukkan bahwa perubahan harus selalu dilakukan lagi: seperti statis, tak pernah dramatis.

Sering dilupakan, prosedur itu dulu dilahirkan dari hasrat yang intens untuk perubahan yang tak setengah-setengah, seperti makhluk bersayap yang hendak terbang, seperti jenius yang hendak memecahkan soal yang paling sulit.

Makhluk itu, jenius itu, seperti dalam karya Drer, akhirnya terduduk.

Dan kita, seperti Grass, akan “berdiri tak bergerak di tengah kemajuan”.

Tapi sementara itu kita tahu, betapa murungnya untuk harus sabar seperti mengikuti siput.
Goenawan Mohamad/ Tempo.co

Related posts