Melankoli Komunal

0
18 views

Anton Kurnia, penulis

Garut News ( Senin, 23/02 – 2015 ).

Ilustrasi. Tetap Memanjatkan Do'a dan Asa Meski Dikepung Karang Terjal. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Tetap Memanjatkan Do’a dan Asa Meski Dikepung Karang Terjal. (Foto : John Doddy Hidayat).

Dalam memoarnya yang cemerlang, Istanbul: Kenangan Sebuah Kota, Orhan Pamuk, pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006 kelahiran Turki, memerikan satu istilah unik untuk menyebut situasi murung yang menggelayuti sebuah masyarakat.

Dia menyebutnya hüzün.

Hüzün, yang dalam bahasa Turki berarti kemurungan atau kesedihan, memiliki akar kata dari bahasa Arab. Nabi Muhammad menyebut tahun ketika beliau kehilangan istrinya, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib, sebagai amul huzn atau tahun kemurungan; ini menegaskan bahwa kata itu memiliki arti perasaan kehilangan yang amat spiritual.

Tentang hüzün ini sama dengan gagasan yang dikemukakan dalam The Anatomy of Melancholy, buku Richard Burton yang penuh dengan teka-teki filosofi tetapi menghibur dari awal abad ke-17.

Burton mengemukakan pandangan yang sangat dalam mengenai “penyakit hitam” alias melankoli, serta menyebutkan ketakutan akan kematian, kekalahan, dan perbuatan jahat yang menjadi gejala dan musababnya.

Dengan memadukan ilmu kedokteran serta filsafat, dia menganjurkan para pembacanya untuk mencari pertolongan melalui akal budi, berkarya, dan berbuat kebajikan agar terhindar dari “penyakit hitam” yang menggelapkan batin ini.

Saat ini rakyat Indonesia tengah dirundung hüzün alias melankoli komunal. Rakyat dengan murung dan sedih tapi nyaris tak berdaya menyaksikan dengan terang-benderang bagaimana kebenaran dan keadilan dikangkangi oleh keserakahan dan kejahatan.

Para pemberantas korupsi dikriminalkan, para penegak hukum menginjak-injak hukum tanpa peduli harga diri, para polisi memperkaya diri sendiri tanpa peduli hati nurani, para politikus terus-menerus sibuk bertikai demi kursi, sementara rakyat hanya bisa gigit jari.

Layaknya sabda pujangga Ronggowarsito dalam Kalatidha, kita kini sungguh tengah berada dalam zaman edan ketika semua orang menjadi gila harta dan kuasa.

Bila tak ikut gila, kita bisa-bisa tidak tahan godaan kiri-kanan. Meski begitu, seuntung-untungnya orang yang gila harta dan kuasa, sesungguhnya yang paling beruntung adalah mereka yang tetap ingat akan jalan kebenaran.

Sebab, bagi orang waras, hidup ini ada pertanggungjawabannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Begitulah. Kini kita sedang dilanda hüzün alias melankoli komunal. Kesedihan bersama yang terlahir dari memori kolektif ini bukanlah kemurungan satu orang yang frustrasi akibat tak kebagian kursi, melainkan suasana hati yang gelap yang dirasakan oleh jutaan orang secara bersama-sama.

Jutaan rakyat jelata yang sungguh-sungguh merindukan kebenaran dan keadilan ditegakkan di negeri ini.

Walaupun harapan mungkin tampak hanya sebagai nyala pelita kecil yang berkelap-kelip tertiup angin, kita tetap berharap agar presiden sebagai pemegang kekuasaan eksekutif tertinggi berani, sanggup, dan cepat bertindak mengatasi segenap kekacauan yang berlarut-larut ini.

Rakyat banyak dan segelintir pemuka masyarakat yang masih waras tentu akan mendukungnya mengatasi zaman edan.

Kita semua ingin segera terlepas dari kesedihan dan tak kehilangan harapan agar lekas bisa sungguh-sungguh bekerja keras untuk menata bangsa dan negara ini, bersama-sama berbenah untuk menjadi lebih baik lahir dan batin. *

********

Kolom/Artikel Tempo.co