Mega dan Sonia

Wahyu Dhyatmika
wahyu.dhyatmika@gmail.com

Garut news ( Rabu, 29/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Nelayan atawa petani Rumput Laut Pantai Garut Selatan Ini, Barangkali Lebih Mulia Dibanding Ratu Atut. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Nelayan atawa petani Rumput Laut Pantai Garut Selatan Ini, Barangkali Lebih Mulia Dibanding Ratu Atut. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sebelum 1991, tak banyak orang India yang mengenal Sonia Gandhi.

Sosok ibu rumah tangga biasa ini mendadak jadi pembicaraan publik setelah bom bunuh diri menewaskan suaminya, Perdana Menteri India Rajiv Gandhi, pada pekan ketiga Mei 1991.

Tujuh tahun setelah insiden mengenaskan itu, kader Partai Kongres memilih Sonia menjadi ketua umum mereka.

Meski berdarah Italia dan terlahir dengan nama asing Antonia Maino, dia dipercaya untuk  melanjutkan trah kepemimpinan dinasti Gandhi.

Di Indonesia, pada 1993, sebuah nama baru juga menyeruak di panggung politik nasional.

Dialah Megawati Soekarnoputri.

Sebagai putri tertua proklamator Bung Karno, Mega punya karisma dan diyakini mewarisi aura kepemimpinan ayahnya.

Pada kongres Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Mega terpilih menjadi ketua umum.

Kita semua tahu, itulah awal karier politik Megawati.

Meski sempat digulingkan Orde Baru pada 1996, popularitas Mega tak tertahankan.

Pada Pemilihan Umum 1999, pemilu demokratis pertama selepas jatuhnya rezim diktator Soeharto, PDI Perjuangan meraup suara terbanyak.

Sayangnya-karena tak menggunakan sistem pemilihan presiden langsung-Mega tak otomatis menjadi presiden.

Lewat voting di Majelis Permusyawaratan Rakyat, Mega harus puas menjadi wakil presiden.

Baru pada 2001, dia  menggantikan Abdurrahman Wahid yang dipaksa turun di tengah jalan.

Sejak masa-masa awal itu, kemiripan karier politik Mega dan Sonia mulai tampak.

Dua perempuan perkasa ini memiliki latar belakang serupa.

Mereka tidak pernah berencana terjun ke dunia politik, namun dipaksa oleh keadaan untuk mengambil peran menjadi komandan.

Keduanya juga berasal dari dinasti politik terkemuka, yang punya tempat khusus di hati rakyatnya.

Indonesia dan India tak akan ada tanpa Sukarno dan Nehru.

Kemiripan Mega dan Sonia tak berhenti di situ.

Sampai kini, Mega masih menjabat Ketua Umum PDI Perjuangan.

Dia mencatat rekor sebagai politikus terlama yang  menjabat pucuk pimpinan partai politik di negeri ini.

Sonia punya catatan serupa.

Dia adalah Ketua Umum Partai Kongres terlama.

Tanpa Mega dan Sonia, sulit membayangkan PDI Perjuangan dan Partai Kongres berada dalam kondisinya saat ini.

Sekarang, garis politik dua perempuan berkuasa ini akan kembali menemukan kemiripan.

Pada 2004, ketika Sonia Gandhi memimpin partainya meraih kemenangan, dia sebenarnya punya kesempatan untuk menjadi perdana menteri.

Tapi, yang mengejutkan, ketika itu Sonia justru mengambil keputusan berani.

Dia menyadari keterbatasannya dan menunjuk Manmohan Singh, seorang teknokrat dengan rekam jejak cemerlang, untuk menduduki kursi eksekutif tertinggi di India.

Dengan keputusannya itu, popularitas Sonia kini justru makin menjulang.

Pengorbanannya untuk tidak menduduki posisi politik paling kunci ketika partainya memenangi pemilu menunjukkan visinya yang jernih untuk memajukan India.

Pada pemilu berikutnya, 2009, Sonia memimpin partainya untuk kembali menang.

Mega kini menghadapi dilema serupa.

Dalam semua survei, PDI Perjuangan bersaing ketat dengan Golkar sebagai calon pemenang pemilu tahun ini.

Banyak yang menduga, seandainya partai banteng menang pemilu pada April depan, partai ini akan mengajukan Mega sebagai calon RI-1.

Pada saat bersamaan, semua tahu, jajak pendapat enam bulan terakhir lebih menjagokan Jokowi.

Lewat banyak kesempatan, hampir seluruh kader PDI Perjuangan mendesak Mega untuk memberi jalan kepada Gubernur Jakarta yang baru setahun menjabat itu.

Kita belum tahu apa sikap Mega nanti.

Apa pun, keputusan Mega soal calon presiden partainya akan memperlihatkan apa visinya untuk Indonesia di masa depan.

Tak hanya itu, kita pun nanti akan lebih tahu seberapa mirip sebenarnya Mega dengan Sonia itu.

***** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts