Media Sosial Berpotensi Terjadi Perceraian Rumah Tangga

0
52 views

“Setiap Bulan Pasutri di Garut Memproses Perceraian”

Ilustrasi Repro Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( kamis, 29/10 – 2015 ).

aa28Tragedi perceraian rumah tangga di Kabupaten Garut, Jawa Barat, cenderung semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan kini setiap bulan, “pasangan suami istri” (Pasutri) memproses perceraian pada “Pengadilan Agama” (PA) setempat, mencapai sekitar 230 pasangan lebih.

Lantaran selain tak ada lagi keharmonisan berumah tangga, tak terdapat tanggung jawab, serta kesulitan ekonomi, menjadi penyebab dominan terjadi perceraian.

Ketua PA Kelas 1 Garut A Fajaruddin Effendy melalui Panitera Dadang Zaenal katakan, dari 2.452 perkara di PA selama rentang waktu 1 Januari hingga 30 September 2015 saja, terdapat 2.113 perkara di antaranya perkara perceraian, terdiri cerai gugat 1.711 perkara, dan cerai talak 402 perkara.

Perkara juga cukup menonjol itsbat nikah 307 perkara. Kemudian perkara lain masuk diterima PA masih bisa dihitung jari, bahkan nyaris nol. Antara lain perkara izin poligami, pembatalan perkawinan, harta bersama, ekonomi syari’ah , kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, ZIS, dan penetapan ahli waris.

Dari 2.452 perkara diterima selama 2015 tersebut, ditambah 474 perkara tunggakan tahun sebelumnya, terdapat 2.385 perkara di antaranya mendapatkan keputusan hukum, atawa diputus.

Sebanyak 1.913 perkara di antaranya kasus perceraian, terdiri 1.552 perkara gugat cerai, dan 361 perkara cerai talak.

Penyebab perceraian didominasi faktor tak adanya keharmonisan rumah tangga 905 kasus, disusul tak terdapat tanggung jawab 580 kasus, faktor ekonomi 228 kasus, pihak ketiga 91 kasus, dan akibat “kekerasan dalam rumah tangga” (KDRT) atau dihukum 12 kasus.

“Sebenarnya, tak kalah kuat pengaruhnya terhadap potensi terjadinya kasus perceraian yakni faktor lingkungan. Pergaulan sosial, dan gaya hidup derasnya pengaruh media sosial seiring teknologi informasi semakin berkembang,” tandas Fajaruddin didampingi Humas Ahmad Sanusi, Kamis (29/10-2015).

Karena itu, imbuhnya, perlu pembinaan pendidikan rumah tangga sejak dini terutama di lingkungan keluarga. Pertengkaran suami istri di depan anak bisa menimbulkan trauma, dan menjadi pengalaman pahit berpotensi memengaruhi kerumahtanggaan seseorang kemudian hari

“Pendidikan formal tinggi pun tak menjamin tak terjadinya perceraian rumah tangga. Begitu pula kemapanan ekonomi. Ini mesti jadi perhatian semua pihak. Beragam program pemerintah juga tampaknya tak ada secara khusus mengarah ke sana. Termasuk keberadaan BP4 (Badan Penasihat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan) di KUA-KUA (Kantor Urusan Agama) pun tampaknya belum efektif mencegah kasus perceraian ini,” ujar Ahmad.

Dikemukakan, ketidakmatangan mengendalikan ego masing-masing pasangan juga sangat memengaruhi timbulnya pelbagai pertengkaran berujung perceraian. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari dominannya pasangan usia muda pada kasus perceraian rumah tangga ditangani PA Garut.

“Ada sekitar 80% kasus gugat cerai terjadi pada pasangan usia muda berumur sekitar 20-30 tahun. Disusul pasangan usia 30-40 tahun sekitar 10 persen. Sedangkan pasangan bercerai di atas usia 50 tahun hanya sekitar satu persen,” bebernya.

*********

Noel, Jdh.