Media Darling

Seno Gumira Ajidarma,
Wartawan

Garut News ( Senin, 13/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Sosok "Dijagokan". (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Sosok “Dijagokan”. (Foto: John Doddy Hidayat).

Jokowi adalah media darling alias orang yang dicintai media massa, yang selalu dihadirkan dengan penuh simpati, mulai dari ekspresi wajahnya yang kerakyatan dan lugu sampai berbagai terobosannya yang mengundang decak.

Munculnya Jokowi menjadikan media massa seperti masa kemunculan Gus Dur: koran lebih menarik bagi pembaca, televisi diikuti dengan penuh rasa ingin tahu, apakah ada lagi harapan yang akan terpenuhi.

Bedanya, pada Gus Dur, kata-katanyalah yang menarik sebagai hiburan sensasional; pada Jokowi, tindakannyalah yang diikuti dengan hati riang, seolah-olah karena mampu membereskan Tanah Abang, pasti akan mampu juga membereskan segalanya.

Setelah banyak dikecewakan oleh 1.001 pejabat, politikus, dan wakil rakyat yang memble, munculnya Jokowi bagai jawaban atas 1.001 harapan.

Perhatikan saja bagaimana banyak orang langsung “tampil membela”, ketika SBY mengecam kemacetan lalu lintas di Jakarta yang tak kunjung teratasi.

Justru karena itu layak disadari, Jokowi yang dikenal sekarang bukanlah Jokowi itu sendiri, melainkan Jokowinya media, ya Jokowi seperti dihadirkan oleh media massa yang-masih-menampilkannya sebagai media darling.

Bukankah nama Jokowi itu sendiri adalah nama kesayangan yang tersahihkan oleh media massa?

Boleh ditegaskan: Jokowi bukanlah Joko Widodo meski manusianya sama.

Jokowi adalah produk encoding (pemberian kode) dalam pemberitaan media massa, tentu sebagai karakter yang layak dicintai berdasarkan kelayakan dalam wacana dominan.

Agar pembaca dan pemirsa tiada terkecoh oleh kiat-kibul media massa, tentu mereka mesti membaca dan memirsanya secara kritis, yakni melakukan decoding (pemecahan kode).

Jokowi adalah konstruksi media.

Dalam kesadaran ini, para penasihat, pembisik, dan Jokowi sendiri mesti “memberi makan” media dengan materi berita yang disukai hari-hari ini: apalagi jika bukan harapan terdapatnya seorang pemimpin yang akan membereskan semua persoalan.

Memang benar, prestasi Jokowi di Solo dan terobosannya di Jakarta adalah suatu faktor dalam kontribusinya sebagai bukti.

Namun saya tidak melihatnya dari faktor Jokowi, melainkan faktor harapan itu sendiri.

Pada dasarnya media, dengan segenap instrumen pengujiannya yang canggih, bukan tak kritis terhadap Jokowi, tetapi adalah media pula yang telah membuat Jokowi “pantas diharapkan”.

Banyak sudah pemimpin naik dan turun, tapi yang berbeda sekarang adalah perubahan dari pemimpin-pemimpin lama yang “tidak (pernah) diharapkan” menjadi pemimpin baru yang “pantas diharapkan”, sekali lagi dalam dunia yang hanya bisa dirujuk melalui media massa.

Jokowi telah menyelesaikan pekerjaannya di Solo, tapi belum lagi setengah di Jakarta, dan sekarang di-gadang-gadang (Jw., sangat diharapkan) untuk memenuhi harapan rakyat.

Dalam konteks menjaga terpeliharanya harapan itulah kepentingan media massa-karena tanpa terjaganya harapan akan seorang pemimpin (gawat, nyaris “ratu adil”), dunia dalam representasi media ini sungguh-sungguh suram.

Memang, ada peningkatan, dalam harapan. *

***** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts