Me-Nyepi

0
76 views

– Husein Ja’far Al Hadar, Penulis

Jakarta, ( Jum’at, 20/03 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kata Bunda Teresa, Tuhan “bersemayam” dalam sepi. Adapun bagi filsuf besar India pada abad ke-8, Adi Sankarcarya, sepi adalah pintu pertama menuju keunggulan rohani.

Sepi memang sebuah keadaan yang transenden, otentik, dan juga eksistensial.

Maka, sejarah mencatat, kisah para nabi dan manusia agung selalu mencari dan bersahabat dengan sepi. Musa, pembawa risalah Yahudi, “menemui” dan berdialog sendiri dengan Tuhan dalam sepinya Bukit Tursina.

Yesus pun (yang diyakini sebagai pembawa risalah Nasrani oleh umat kristiani) syahid di tiang salibnya dalam sepi bersama Tuhan, dan “berbicara” dengan-Nya dalam “diam”-Nya.

Begitu pula dengan Muhammad, pembawa risalah Islam, menerima wahyu pertamanya sendiri dalam sepinya Gua Hira. Kisah para nabi dan manusia agung selalu bersinggungan dengan sepi bersama-Nya.

Al-Quran menyebutkan bahwa para nabi dan manusia agung tak pernah sekali-kali bersedih, apalagi takut, dalam kesepiannya.

Sebab, dalam sepi itu, mereka justru bertemu, berdialog, dan bercengkerama dengan Tuhan.

Namun, pada era modern yang telanjur pragmatis dan gersang nilai ini, manusia justru sedih, takut, dan lari dari sepi.

Kita lahir, tumbuh, dan terseret dalam sebuah peradaban yang justru mengagungkan kerumunan dan keramaian.

Kita merasa kesepian dalam sepi. Sebab, kita tak pernah bisa menghadirkan Tuhan dalam sepi. Kita selalu butuh pada manusia, sehingga kita selalu mencari kafe, pesta, panggung hiburan, atau bahkan kelab malam untuk lari dari sepi.

Padahal justru dalam sepi kesejatian bersemayam. Tapi kita cenderung memilih untuk terjerumus dalam keramaian semu.

Karena itu, sebagian kita yang hidup di Bali, misalnya, ketika Nyepi datang, justru pergi meninggalkan sepinya Bali untuk mencari kerumunan, berlibur dalam keramaian, dan hanyut dalam ketidaksadaran dan kesemuan.

Padahal, dalam kacamata autentisitas, seharusnya dalam suasana Nyepi kita harusnya “berlibur” ke Bali. Dalam artian, berlibur dari segala rutinitas, kesibukan, hiruk-pikuk, kerumunan dan keramaian, untuk menghayati diri bersama Tuhan dalam sepi di sana.

Hari Raya Nyepi mewajibkan umat Hindu melaksanakan Catur Brata yang biasa diartikan empat pantangan selama sehari: amati geni (tak menyalakan api atau penerangan), amati karya (tak melakukan aktivitas atau rutinitas kerja), amati lelungan (tak bepergian), dan amati lelanguan (tak bersenang-senang atau menikmati hiburan).

Artinya, dalam Nyepi, melalui sepi, mereka diajarkan meninggalkan gemerlap lampu untuk merasakan cahaya sejati, berhenti dari rutinitas untuk menghayati spiritualitas.

Nyepi sebagai sebuah momentum mengajarkan umat Hindu menghayati sepi, menghadirkan kesadaran total dan masuk dalam renungan eksistensial tentang diri dan Tuhan, sesama manusia, serta alam, untuk kemudian membentuk keharmonisan di antara ketiga relasi tersebut yang dikenal dengan Tri Hita Karana.

Adapun bagi kita semua, Nyepi mengajarkan kita untuk menyadari dan menghayati sepi sebagai keadaan transenden dan otentik.

Sebab, kita sering tak menyadari itu. Kita memahami sepi dalam kerangka banalitas, bukan justru eksistensial, sehingga akhirnya kita mendapati kisah para nabi dan manusia agung adalah kisah sepi dalam kesejatian, sedangkan kisah kita adalah kisah keramaian dalam kesemuan.

********

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here