Maulid Nabi dan Krisis Kepemimpinan Bangsa

0
27 views
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi). Wordpress.com.

Ahad , 03 December 2017, 04:37 WIB

Red: Elba Damhuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dani Asmara, Staf Pengajar STAI Sabili Bandung

Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi). WordPress.com.

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau sering kita sebut dengan Maulid Nabi. Memperingati Maulid Nabi menjadi sangat penting manakala sosok Nabi Muhammad yang berkarakter kuat dijadikan teladan bagi seluruh umat manusia.

Terlebih, bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah mengalami krisis kepemimpinan dan keteladanan sehingga perlu melakukan revolusi mental.

Demi revolusi mental, Kementerian Pandidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PKK) yang diimplementasikan di seluruh sekolah. Pendidikan karakter, seperti religius, jujur, teloransi, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai, bersahabat, berkomunikasi, gemar membaca, peduli lingkungan, dan peduli sosial harus menjadi fokus pendidikan di persekolahan.

Namun, sayang, program PKK belum disertai dengan teladan nyata dari para pemimpin bangsa. Alih-alih menjadi panutan, perilaku para pemimpin malah menjadi contoh buruk bagi generasi penerus. Terlibatnya ketua DPD, ketua MK, ketua DPR, ketua partai, gubernur, bupati, dan wali kota dalam kasus korupsi menunjukkan bahwa pemimpin bangsa berkarakter lemah sekaligus pertanda hilangnya keteladanan.

Sehingga, sejak Orde Reformasi keteladanan ini yang betul-betul dalam krisis. Telah lama bangsa ini tidak memiliki figur pemimpin yang meneladani. Tidak ada panutan dan teladan, generasi muda kehilangan exemplary center, panutan yang perkataannya sesuai dengan sikap dan perbuatan.

Sebaliknya, yang mengemuka adalah pemimpin yang berkarakter lemah, ditandai dengan maraknya kebijakan yang menyulitkan masyarakat. Akibatnya, dalam pergaulan hidup sosial, kesenjangan begitu nyata. Bahkan, beragam kejahatan yang tidak manusiawi dan perilaku biadab sebagai ciri masyarakat jahiliah kerap terjadi di penjuru negeri.

Mulai dari caci maki sampai pembunuhan muilasi. Pencopetan hingga korupsi yang semakin menjadi-jadi. Pelacuran di pinggir jalan sampai prostitusi yang dilokalisasi. Telernya generasi muda ulah miras oplosan hingga kecanduan narkoba.

Aksi pemalsuan, pedagang curang, sampai pengusaha pengemplang pajak sangat marak ikut menyertai kejahatan luar biasa, seperti terorisme, narkoba, dan korupsi.

Memang, sejak awal pemerintahan Jokowi telah mengendus kerusakan mental yang diidap masyarakat sehingga menjadikan revolusi mental sebagi program utama. Melalui Nawacita, rencananya negara akan hadir mendampingi rakyat untuk berdaulat dalam hukum, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Namun, revolusi mental dan Nawacita hanya ideal di atas kertas, tetapi limbung dalam realitas. Revolusi mental dan Nawacita yang dipercaya sakti menyelesaikan masalah negeri ini sayangnya tidak disertai dengan keteladanan dari para petinggi negeri.

Untuk mengatasi krisis keteladanan, kita bisa meneladai Nabi Muhammad SAW. sesuai dengan petunjuk Alquran surah al-Ahzab ayat 21. “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik”.

Bahkan, seperti yang diakui Michael H Hart (1978), kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sangatlah sukses. Dalam buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Hart menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar 100 tokoh yang berpengaruh di dunia.

Menurutnya Hart, Nabi Muhammad satu-satunya orang di dunia yang berhasil meraih sukses luar biasa baik dari ukuran agama maupun urusan dunia. Selain menjadi penyebar agama Islam terbesar di dunia, Nabi Muhammad telah tampil sebagai pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Meskipun telah wafat lebih dari tiga belas abad, pengaruhnya tetap kuat, mendalam, dan berakar.

Dalam sejarah peradaban, sukses Nabi Muhammad SAW dalam mengubah masyarakat Arab jahiliah sangat fenomenal. Terlahir yatim kemudian tumbuh dalam asuhan kakek Abdul Muthalib dan pamannya dan Abu Thalib. Sejak muda beliau terbiasa bekerja keras mulai dari menggembala hingga berbisnis sampai ke Syria.

Bisnis Nabi sangat sukses karena caranya ditunjang empat modal sosial berupa integritas, perilaku yang sangat dipercaya hingga masyarakat Makkah menjulukinya al-Amin (tepercaya).

Loyalitas, kesetiaannya pada pamannya Abu Thalib. Profesionalitas, kepiawaian, dalam negosiasi dan pengalamannya dalam berbisnis. Dan spiritualitas, menyebarkan keyakinan akan hakikat hidup setelah menyendiri di Gua Hira.

Kini, melalui Maulid Nabi siapa pun bisa meneladai Nabi Muhammad SAW dalam empat karakter kuat, yaitu fathonah, amanah, shiddiq, dan tabligh. Fathonah artinya cerdas, cerdas memahami persoalan dan memecahkannya. Amanah adalah kredibel, yaitu kepercayaan dari para pengikutnya.

Shiddiq artinya jujur, sesuainya hati, pikiran, perkataan dengan perbuatan. Dan tabligh artinya komunikatif, yaitu bisa diterima semua kalangan yang berbeda latar belakang.

Karakter kuat Nabi Muhammad SAW telah teruji ketika membangun masyarakat madani di Madinah yang dicatat sejarah sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi demokrasi, kemajemukan, perbedaan intelektualitas, kesetaraan, dan ketaatan pada hukum syar’i.

Kita tentu berharap, peringatan Maulid Nabi bukan sebatas ritual rutin mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Melainkan dijadikan momentum untuk meneladani kembali karakter kuat Nabi Muhammad SAW sebagai upaya nyata mengatasi krisis keteladanan yang saat ini kita hadapi. Semoga.

********

Republika.co.id