Masyarakat Petani Garut Makin Melirik Budidaya Karet

0
141 views

Garut News ( Rabu, 29/10 – 2014 ).

Roda Karet. (Foto : John Doddy Hidayat).
Roda Karet. (Foto : John Doddy Hidayat).

Minat masyarakat petani di petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada budidaya tanaman karet (Hevea Brasiliensis) cukup tinggi, bahkan terus meningkat belakangan ini.

Dinas Perkebunan kabupaten setempat mencatat hingga akhir 2013, total luas baku lahan perkebunan rakyat berjenis tanaman karet mencapai 3.136 hektare tersebar pada delapan kecamatan dari 42 kecamatan di kabupaten tersebut.

Kedelapan itu terdiri, Kecamatan Mekarmukti, Pakenjeng, Cikelet, Pameungpeuk, Cibalong, Cisompet, Leles, dan Kecamatan  Malangbong.

Populasi tanaman karet menghasilkan mencapai seluas 184 hektare, berproduksi bahan mentah mencapai 796 ton, dan hasil olahannya 200 ton.

Sedangkan tanaman karet belum menghasilkan 2.952 hektare. Ribuan tanaman karet rata-rata produksinya mencapai 1,09 ton per hektare ini, dimiliki 2.565 kepala keluarga (kk).

Penyerapan tenaga kerja terlibat budidaya jenis tanaman tersebut pada delapan kecamatan itu mencapai 7.017, dengan 34 kelompok tani.

Bubidaya tanaman karet terluas terdapat di Kecamatan Cibalong mencapai 2.485 hektare dengan tanaman menghasilkan 164 hektare, disusul Pakenjeng seluas 252 hektare namun belum menghasilkan, dan Cisompet 185 hektare dengan luas tanaman menghasilkan 20 hektare.

Sedangkan areal tananam karet paling sedikit di Kecamatan Leles 18 hektare, dan Malangbong 62 hektare.

Luas areal tanaman karet 2013 meningkat dibandingkan 2012 mencapai luas 3.115 hektare.

Sebanyak 134 hektare di antaranya sudah menghasilkan dengan produksi bahan mentah sekitar 576 ton, dan hasil olahan 144 ton.

Pada 2011, luas tanaman karet di Garut semula mencapai 2.865 hektare dengan tanaman menghasilkan seluas 134 hektare, dan mampu memproduksi bahan mentah 565 ton, dan hasil olahan 141 ton.

Kepala Disbun Indriana Sumarto melalui Kabid Produksi Haeruman katakan, tanaman karet salah satu dari sembilan komoditas kebun unggulan di Jawa Barat.

Komoditas unggulan lainnya kelapa, cengkeh, kopi, kakao, tebu, tembakau, akar wangi, dan kemiri sunan.

Di Kabupaten Garut, pengembangan tanaman karet merupakan bahan penting bagi sejumlah industri seperti otomotif, dan militer itu dimulai sekitar 2008, dan 2011.

Karet tersebut merupakan sumber utama bahan karet alam dunia, katanya.

Jumlah tanaman karet ditanam rata-rata mencapai 550 pohon per hektare dengan jarak tanam sekitar 6 meter x 3 meter.

Tanaman karet tumbuh di daerah berketinggian 500 mdpl dengan toleransi 600 meter mdpl.

Budidaya tanaman karet terbilang cukup prospektif, kendati sering terkendala harga kerap berfluktuasi.

“Selama ada umat manusia, karet dibutuhkan. Meski acap harganya fluktuasi. Sekarang ini harga lagi jatuh, hanya sekitar Rp6.000-Rp7.000 per kilogram. Getah karet dihasilkan dari kebun rakyat ini dijual ke penampung, atau perkebunan besar karet,” ungkap Haeruman, Rabu (29/10-2014).

Tanaman karet bisa tumbuh tinggi sekitar 15-25 meter itu, dapat diproduksi getahnya pada usia enam tahun dengan ukuran lilitan batang tanaman 48 centimeter lebih. Tanaman karet dapat diproduksi selama 35 tahun.

Dikemukakan, budidaya tanaman karet di Garut selain berupa kebun rakyat, juga terdapat perkebunan besar negara atawa swasta, yakni PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Kebun Bunisari Lendra, PTPN VIII Kebun Miramareu, PT Perkebunan Swasta (PTPS) Condong, dan PTPS Datar Anyar.

Total tanaman karet milik PTPN tersebut mencapai 4.824 hektare, dan milik PTPS seluas 2.953 hektare, katanya pula.

******

Noel, Jdh.