Masyarakat Pasar Guntur Berhasil Wujudkan Pola Hidup Berdemokrasi

0
34 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 17/12 – 2015 ).

H. Dayat Bersama Opik.
H. Dayat Bersama Opik.

Masyarakat pedagang di Pasar Guntur Ciawitali, Garut, Jawa Barat, berhasil mewujudkan pola hidup berdemokrasi, lantaran ternyata mereka sangat elegan dengan kedewasaannya menjalani proses pemilihan Ketua “Ikatan Warga Pasar” (IWAPA) setempat, yang juga berlangsung kondusif.

Demikian antara lain diakui pelbagai kalangan, termasuk Kepala UPTD Pasar pada Disperindag kabupaten setempat H. Dayat, S.Sos kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis (17/12-2014), memastikan pula seluruh organ pengurus IWAPA bisa lebih baik atawa profesional.

Serta diyakini dapat membantu menyukseskan ragam program dicanangkan pemerintah.

Opik.
Opik.

Di antaranya melalui upaya semakin meningkatkan kualitas koordinasi, yang selama ini pun dinilai berjalan baik. Sehingga beragam program termasuk pembersihan drainase dan peningkatan mutu lintasan jalan pasar, semakin mendapat dukungan nyata seluruh warga pasar, imbuh H. Dayat.

Ketua Penyelenggara Pemilihan Ketua IWAPA, Taufik Abdillah akrab disapa Opik katakan, dari 1.012 pemilih berdasar daftar tetap pemilih. Terdapat 8.036 atawa 80 persen lebih di antaranya menggunakan hak pilih, tak termasuk pedagang kaki lima pasar (PKL) sebab tak dilibatkan pada proses pemilihan sesuai AD/ART IWAPA.

Mereka pada Senin (14/12-2015) lalu, menentukan pilihannya pada empat kandidat Ketua IWAPA yang sebelumnya terdapat enam kandidat, namun dua kandidat mengundurkan diri. Ternyata Asep Kardian terpilih menjadi Ketua IWAPA dengan mengantongi lebih 64 persen suara atau 541 suara.

Opik juga mengemukakan, meski proses pemilihan Ketua IWAPA itu mengadopsi sistem “Komisi Pemilihan Umum” (KPU). Tetapi pelaksanaannya menerapkan TPS berjalan maupun jemput bola, yang proses pemilihannya antara lain diawasi 48 saksi dari masing-masing blok.

Pelaksanaannya juga berlangsung pada 12 wilayah sesuai jumlah 12 blok pasar A hingga L plus pada lintasan jalur antar blok, dengan total biaya penyelenggaraan Rp4 juta, bersumber dari UPTD Pasar, serta swadaya masyarakat pedagang, dimanfaatkan pembelian ATK, kegiatan administrasi, pencetakan kartu suara, konsumsi, dan akomodasi.

Komplek Pasar Ciawitali Guntur, seluas sembilan hektare termasuk kawasan wilayah Terminal Guntur, memiliki sekitar 1.700 kios masing-masing seluas bangunan 9 m2, kemudian 800 sarana PKL masing-masing berukuran 1,5 x 1,5 meter, serta terdapat los jalur. Terdapat pula setiap pedagang memiliki 11 hingga 21 kios.

Sejak 1988, proses pemilihan yang benar-benar murni berlangsung secara demokratis berlangsung pada 1997, serta 2015 ini, ungkap Opik.

Dikemukakan pula selama ini pasar kerap dijadikan wahana menarik simpatisan menjelang Pilkada hingga Pilpres.

Diakui Opik ada di antara pejabat terpilih yang ingat dan memberi kontribusi terhadap pasar termasuk kalangan legislatif terpilih, namun kebanyakan mereka lupa terhadap pasar, katanya.

Dikemukakan pula, obsesinya menjadikan pasar sebagai poros ekonomi yang potensial, sehingga diperlukan upaya nyata membangun komunikasi serta silaturahmi sambil bermusyawarah dengan pelbagai pihak, sekaligus mewujudkan pasar yang nyaman, aman, dan tertib, katanya pula.

********