Masjid Gedhe dan Toleransi

Heri Priyatmoko,
Alumnus Pascasarjana Sejarah, FIB, UGM

Garut News, ( Jum’at, 06/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Yogyakarta, kota yang disebut-sebut sebagai ruang sosial yang plural dan menjunjung tinggi toleransi, terkoyak.

Dua aksi kekerasan bernuansa agama pecah di Kota Gudeg dalam rentang tempo yang dekat.

Penyerangan di kota tua warisan dinasti Mataram Islam tersebut jelas merusak kerukunan kehidupan beragama.
Bicara agama Islam, toleransi, dan kota kuno di Jawa segera yang membayang adalah Masjid Gedhe.

Bangunan masjid memang tidak pernah luput ditempatkan dalam tata ruang istana Mataram Islam, kendati pusat pemerintahan kerajaan acap kali mengalami perpindahan lokasi lantaran berbagai hal.

Di ibu kota kerajaan, seperti Demak, Pajang, Kota Gedhe, Pleret, Kartasura, Surakarta, dan Yogyakarta, selalu melekat situs Masjid Gedhe.

Sekalipun artefaknya sudah roboh dan tak ditemukan jejak fisiknya, toponimi (asal-usul nama tempat) masjid masih dirawat warga dalam memori kolektif.

Dalam pandangan Islam-Jawa yang mengedepankan toleransi, masjid tergolong sebagai “pusaka” yang tak ternilai di seluruh tanah Jawa.

Karena itu, maklum jika dijadikan pedoman para penguasa dinasti Mataram Islam.

Sumber klasik Babad Tanah Jawa merekam bagaimana Paku Buwana I melukiskan kesakralan Masjid Gedhe dan makam sewaktu dia mengenang pusaka-pusaka keraton: “Betapa sedihnya hati saya bahwa semua pusaka telah diambil oleh putera saya raja (Amangkurat Mas). Tetapi, saya tahu bahwa sekalipun semua barang pusaka yang lain pun diambil, namun kalau saja Masjid Demak dan Makam Adilangu tetap ada, maka itu sudah cukup. Hanya dua inilah yang merupakan pusaka sejati tanah Jawa.”

Bentuk toleransi dan upaya menjaga warisan leluhur adalah halaman masjid dipakai untuk gelaran upacara tradisional Grebeg Sekaten.

Sebab, melalui cara itulah proses islamisasi bisa diterima masyarakat Jawa.

Tidak harus lewat pemaksaan fisik dan penutupan tempat ibadah.

Fakta berharga lainnya adalah Masjid Gedhe sangat terbuka bagi siapa pun.

Masjid Gedhe di Kota Solo, misalnya, sejak dulu dikenal tidak “berideologi”, alias bukan untuk kalangan Islam tertentu.

Hal tersebut tidak lepas dari terobosan Paku Buwana X (1893-1939), yang memanfaatkan bahasa Jawa untuk komunikasi dalam acara khotbah di Masjid Gedhe.

Bahasa Jawa menjadi penyatu pemeluk Islam lokal yang baru, dan mereka bertatap muka di masjid kendati hanya seminggu sekali.

Dengan begitu, Masjid Gedhe menjelma menjadi pusat dari kesatuan sosial muslim.

Kesatuan sosial muslim itu beragam bentuknya.

Ada kesatuan sosial dengan rukun kampung, komunitas abdi dalem, komunitas bangsawan, dan bentuk kesatuan lainnya.

Saban Jum’at mereka berhimpun, waktu di mana ulama mengucapkan khotbahnya di muka berbagai kesatuan sosial itu.

Saat itu, dalam lingkungan kerajaan hidup pemikiran bahwa agama Islam ataupun kebudayaan Jawa merupakan inti pendidikan moral dan etika untuk anak-anak pribumi.

Agama Islam merupakan sistem keyakinan, sedangkan budaya Jawa adalah falsafah kehidupan yang diyakini masyarakat Jawa dan mengutamakan rasa.

Tak ayal, toleransi terus dipupuk, dan kerukunan sosial senantiasa dijaga.

Demikianlah, situs Masjid Gedhe menyimpan kisah apik islamisasi dan kearifan masa lalu dalam mengelola toleransi tanpa memakai kekerasan. *

******

Kolom/Tempo.co

Related posts

Leave a Comment