Masih Terus Berupaya Jemput Bola Jaring Dana

0
28 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 31/03 – 2016 ).

H. Sumantri.
H. Sumantri.

Kepala Bidang Sarana Prasarana pada Disdik Kabupaten Garut, Sumantri menyatakan, pihaknya masih berupaya bisa menjemput bola guna menjaring dana dari luar.

Di antaranya diharapkan mendapatkan alokasi bersumber APBN, Banprov Jabar juga sumber dana Block Grand, guna meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Lantaran hingga kini terdapat sedikitnya 40% dari 1.500 SD di Kabupaten Garut, berkondisi rusak malahan belum tersentuh perbaikan. Sebanyak 550 gedung bahkan masih beratapkan asbes dan seng.

Ironisnya, bantuan dana alokasi khusus (DAK) APBN untuk perbaikan sarana prasarana pendidikan seperti ruang kelas SD di Garut kian mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Pada Tahun Anggaran (TA) 2016, Kabupaten Garut hanya mendapatkan DAK bagi perbaikan ruang kelas SD berkisar Rp11 miliar – Rp15 miliar. Jauh menurun dibandingkan DAK pada 2014 sebesar Rp27 miliar, dan pada 2013 sebesar Rp59 miliar.

Sehingga bantuan DAK sebesar Rp11 miliar itu hanya bisa memerbaiki ruang kelas sekitar 5% dari total ruang kelas rusak.

Sehingga untuk melakukan perbaikan seluruh ruang kelas dibutuhkan waktu sekitar delapan tahun. Apabila bantuan DAK per tahun tetap Rp11 miliar, dan tak ada penambahan jumlah ruang kelas rusak.

Diperparah, DAK itu pun tak seluruhnya dialokasikan pembangunan fisik, melainkan terdiri Rp9 miliar pembangunan fisik, dan Rp2 miliar pengadaan alat peraga dengan sasaran berbeda.

Diperoleh informasi, perbaikan ruang kelas SD turun sebab Garut terlepas dari status sebagai daerah tertinggal. Jadi sekarang, status Garut sama dengan Kabupaten Bandung, ungkap dia, Kamis (31/03-2016).

Karena itu, kata dia, diperlukan terobosan mendapatkan dana perbaikan ruang kelas masih banyak itu. Melalui APBD Garut, APBD Provinsi, maupun APBN.

Dikemukakan, bangunan SD mendapatkan prioritas perbaikan yakni sekolah bangunannya rusak terkena bencana, dan bangunan masih beratapkan asbes atau seng.

Dijelaskan, dari 550 bangunan beratapkan asbes, 125 di antaranya diproyeksikan bisa diperbaiki tahun ini. Dia berharap pada 2018 tak ada lagi bangunan sekolah beratapkan asbes maupun seng.

Dikatakan, bangunan SD masih menggunakan atap asbes itu kebanyakan berada di wilayah tengah dan utara Garut. Seperti di Kecamatan Cilawu, Malangbong, dan Cibatu.

Diungkapkan pula, selain banyak ruang kelas SD rusak, Kabupaten Garut juga masih kekurangan ruang 2.432 unit kelas SD.

Sedangkan pemenuhan terhadap kebutuhan ruang kelas tersebut, hingga kini terpenuhi sekitar seratus unit ruang kelas per tahun, dengan biaya dari DAK dan APBN.

*******