Masalah Abadi Sampah Bisa Menjadi Energi Listrik

0
37 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 20/12 – 2015 ).

Ir Gita Noerwardhani, Sampaikan Keterangan Pers.
Ir Rr. Gita Noerwardhani, Sampaikan Keterangan Pers.

Bagi kita, selama ini merasa sebagai insan “berbudaya”. Kerap menyikapi fenomena sampah merupakan masalah abadi. 

Lantaran, selain berbau tak sedap, juga acap sulit dilenyapkan.

Bahkan ketika membusuk bisa melepaskan “metana” atawa salah satu gas rumah kaca.

Tetapi limbah tersebut, bisa dibakar memproduk panas.

Malahan dengan bantuan teknologi, ternyata metana bisa ditangkap dari sampah, menjadi energi pemasok listrik, memenuhi kebutuhan ribuan rumah penduduk.

Karena itu, Yayasan Paragita kian hadir menyajikan solusi cerdas. Menggulirkan gagasan orsinil mewujudkan sampah menjadi berkah, dan mulia dengan ragam aplikasinya.

Kendati untuk mempresentasikan, dipastikan sangat diperlukan dukungan serta komitmen dari pelbagai komponen dan elemen masyarakat.

Sampah Pasar Guntur Garut, Jawa barat, Juga Kerap Menumpuk, Serta Sangat Berbau Busuk.
Sampah Pasar Guntur Garut, Jawa Barat, Juga Kerap Menumpuk, Serta Sangat Berbau Busuk.

Sedangkan kepedulian Paragita, antara lain diwujudkan pada rangkaian kegiatan sosialisasi “Gerakan Masyarakat Garut Sadar Sampah” pada sejumlah desa secara terencana, terjadwal serta terukur sejak rentang waktu awal 2015 ini, ungkap Ketua Umum yayasan itu, Ir Rr. Gita Noerwardhani.

Maka institusinya pun, “concern” menjalin sinergitas dengan pihak manapun di antaranya Indonesia Power. Sebab dinilainya tanggap, sigap, serta persuasif memberikan dukungan, sehingga sosialisasi gerakan sadar sampah ini, bakal berkelanjutan.

Ditargetkan pula terwujud satu desa – satu bank sampah, ungkap Gita Noerwardhani, ketika membagikan enam unit piranti pengolah sampah organik pada enam RW di Desa Sukakarya Samarang, Sabtu (11/04-2015) lalu, sebagai salah satu tindak lanjut dari penyelenggaraan seminar di Gedung Pendopo kabupaten setempat, belum lama ini.

Lembaganya, bergerak sejak Desember tahun lalu, membangun mental masyarakat agar mereka bisa mandiri, dan mampu berinovasi dari sampah mereka miliki.

Sehingga bisa bermanfaat bahkan menginspirasi imajinasi dalam pengembangan ekonomi dari produk sampah itu, imbuhnya, antara lain.

Menyusul sosialisasi dan advokasi gerakan Masyarakat Garut sadar Sampah, selama ini pun diselenggarakan pada sejumlah wilayah kecamatan.

Camat Samarang Drs Bambang Hapid, M.Si katakan kegiatan digagas dan diselenggarakan Yayasan Paragita dinilai menunjang upaya mewujudkan sampah menjadi mulia.

Diingatkan, sampah merupakan permasalahan bersama. Lantaran jika tak segera ditangani dipastikan menjadikannya masalah.

Camat juga menyerukan, jangan putus asa mengatasi masalah persampahan, meski kerap dilakukan kegiatan operasi bersih, malahan justru lebih banyak penonton daripada pembersihnya.

Diingatkan pula, peningkatan laju pertumbuhan penduduk dipastikan berbanding lurus dengan terjadinya peningkatan tumpukan sampah.

Padahal wilayahnya, selama ini acap menjadi tujuan wisatawan termasuk dilintasi banyak kalangan wisatawan dari mancanegara.

Karena itu, diperlukan lingkungan bersih dan sehat, sebab industri pariwisata bisa menumbuhkan perkembangan perekonomian masyarakat setempat, kata camat.

Manager keuangan dan Administrasi Indonesa Power, Dedi Supriadi, SE menyatakan, sangat berobsesi menjadikan Desa Sukakarya sebagai percontohan penanggulangan sampah organik, menjadi komoditi bermanfaat.

Menyusul wilayah desa itu, merupakan ring satu atawa berdekatan dengan pembangkit energi listrik tenaga panasbumi (geothermal), dikelola Indonesia Power.

Namun secara bertahap dan terukur juga ke depan, bakal dipikirkan upaya penanganan sampah anorganik, serta desa desa lainnya pun mendapatkan sentuhan sosialisasi gerakan Masyarakat Garut sadar sampah.

Dikemukakan, program Yayasan Paragita juga sejalan dengan operasional Indonesia Power, yang sangat “concern” terhadap kelestarian dan kebersihan lingkungan, malahan diperlukan upaya menyosialisasikannya pada generasi usia dini, imbuh Dedi Supriadi.

Dalam pada itu Sekretaris Yayasan Paragita, Tono secara detal mempresentasikan metode pengolahan sampah organik dengan piranti disediakannya.

Puluhan hingga ratusan peserta sosialisasi mendapatkan peluang menyampaikan saran serta tanya-jawab secara dialogis.

Sebagai upaya nyata membangun komunikasi pada pelbagai bidang denyut kehidupan, termasuk penanggulangan permasalahan sampah, tandas Gita Noerwardhani.

*********