Mari Mengenal Virus Ebola Lebih Dekat…

Garut News ( Kamis, 07/08 – 2014 ).

Ilustrasi. (Shutterstock).
Ilustrasi. (Shutterstock).

— Virus ebola kembali menjadi fokus utama dunia setelah 932 orang di Sierra Leone, Guinea, Liberia, dan Nigeria meninggal sejak Maret.

Mari mengenal lebih jauh mengenai virus tersebut.

Berapa banyak orang yang terkena virus ebola?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1.600 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone telah terinfeksi virus ebola.

Ini merupakan wabah terbesar sepanjang sejarah.

Lebih dari setengahnya telah meninggal.

Dua pekerja kemanusiaan asal Amerika Serikat terinfeksi ebola ketika bekerja di Afrika Barat.

Saat ini, keduanya telah mendapatkan penanganan di Atlanta, AS.

Di mana wabah tersebut?

Bagaimana wabah ebola kali ini dibandingkan dengan yang sebelumnya?

Wabah kali ini adalah yang paling mematikan sejak virus itu pertama kali ditemukan pada 1976.

Seberapa menularkah virus itu?

Anda tidak serta-merta tertular ebola ketika berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi.

Ebola tak seperti virus influenza ataupun “Severe Acute Respiratory Syndrome” (SARS).

Seseorang terinfeksi virus ebola melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita.

Hal ini terjadi ketika cairan tubuh seperti muntah atau darah penderita mengenai mata, hidung, atau mulut orang lain.

Pada kasus kali ini, orang-orang yang terinfeksi adalah mereka merawat saudaranya terinfeksi, atau menyiapkan jenazah akan dikebumikan.

Orang-orang bekerja di bidang kesehatan berisiko tinggi tertular, utamanya mereka tak terlatih atau tak dilengkapi perlengkapan wajar.

Virus ebola bisa bertahan hidup di permukaan benda.

Maka, benda apa pun terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita, seperti sarung tangan karet ataupun jarum suntik, bisa menjadi media penularan virus tersebut.

Mengapa wabah ebola sulit ditangani?

Di beberapa daerah di Afrika Selatan, ada kepercayaan ketika seseorang menyebut kata “ebola” dengan keras, maka seketika itu juga virus tersebut muncul.

Kepercayaan ini menyebabkan para dokter, seperti Doctors Without Borders, sulit memeranginya.

Bahkan, sebagian anggota masyarakat menyalahkan dokter sebagai pihak menyebarkan virus.

Mereka terinfeksi memilih pergi ke dukun mendapatkan pengobatan.

Sikap skeptis mereka bukan tanpa sebab.

Pada masa lalu, pekerja rumah sakit tak berhati-hati malahan menjadi agen penyebaran virus tersebut.

Bagaimana penyakit ini berkembang?

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, umumnya gejala muncul sekitar delapan hingga 10 hari setelah seseorang terpapar virus.

Gejala awalnya pusing, demam, dan nyeri.

Terkadang muncul ruam-ruam di tubuh penderita.

Hal ini diikuti dengan diare dan muntah-muntah.

Kemudian, berdasar lebih dari 50 persen kasus yang ada, virus ebola menyerang mengerikan.

Penderita mengalami muntah darah atau kencing darah.

Selain itu, keluar darah dari kulit, mata, atau mulut penderita.

Namun, bukan ini menyebabkan penderita meninggal, melainkan ketika pembuluh darah di dalam tubuh mengeluarkan cairan.

Hal ini menyebabkan tekanan darah menurun tajam sehingga hati, ginjal, jantung, dan organ lainnya berhenti bekerja.

Bagaimana pengobatan penyakit ini?

Saat ini, belum ada vaksin atau obat untuk ebola.

Ketika wabah sebelumnya terjadi, sebanyak 60-90 persen penderita meninggal.

Sejauh ini, hal dilakukan dokter merawat penderita, menggunakan cairan dan obat-obatan menjaga tekanan darah tetap normal.

Para dokter juga memberikan pengobatan lainnya ketika infeksi ini menyerang tubuh pasien semakin lemah.

Sebagian kecil orang ternyata memiliki imunitas terhadap virus ebola.

Dari mana virus ini berasal?

Pertama kali, ebola ditemukan pada 1976.

Awalnya, virus ini diduga berasal dari gorila.

Wabah ebola terhadap manusia terjadi ketika mereka memakan daging gorila.

Namun, teori ini dibantah para ilmuwan.

Lantaran, jika hal ini benar, maka seharusnya lebih banyak kera terinfeksi dan kemudian mati ketimbang manusia.

Para ilmuwan percaya kelelawar penyebar virus ini.

Kesimpulan ini berdasar studi dipublikasikan Emerging Infectious Diseases.

Lembaga ini melakukan penelitian terhadap 276 kelelawar ditangkap pada empat daerah di Banglades.

Penularan terjadi ketika kera dan manusia memakan makanan terkena air liur kelelawar.

Bisa juga, kera atawa manusia menyentuh benda-benda terkena air liur atau kelelawar, dan kemudian menyentuh mata dan mulut sendiri.

Wabah kali ini diduga bermula dari sebuah desa di dekat Gueckedou, Guinea, di mana berburu kelelawar adalah hal lumrah, menurut Doctors Without Borders.

*******

Penulis : Hindra Liauw
Editor : Hindra Liauw
Sumber : The New York Times/ Kompas.com

 

Related posts

Leave a Comment