Mari Mengarang

Wahyu Dhyatmika,
wahyu_dhyatmika@gmail.com

Ilustrasi, Mendengar Radio. (Foto : John).
Ilustrasi, Mendengar Radio. (Foto : John).

Sekarang banyak orang ribut mendengar pelajaran bahasa Inggris akan dihilangkan dari kurikulum pelajaran sekolah dasar.

Tidak belajar bahasa Inggris–yang diklaim sebagai bahasa pergaulan internasional–sejak usia dini dikhawatirkan membuat masa depan anak-anak Indonesia kelam.

Anehnya, tidak banyak yang ribut melihat cara anak-anak kita belajar bahasa Indonesia sekarang.

Mari tengok buku pelajaran bahasa Indonesia untuk anak-anak sekolah dasar dan niscaya kita akan terperangah melihat lemahnya silabus pengajaran tata bahasa Indonesia.

Hingga kelas tiga sekolah dasar, misalnya, murid belum banyak belajar cara menuangkan pikiran ke dalam tulisan.

Pelajaran mengarang memang diselipkan di sana-sini, tapi terkesan hanya sebagai tempelan.

Saya menangkap kesan bahwa mengarang tidak lagi menjadi prioritas bagi murid-murid sekolah masa kini.

Buku pelajaran mereka penuh dengan pertanyaan-pertanyaan singkat yang bisa dijawab dengan satu atau dua kata saja.

Anak-anak tidak belajar merangkai fakta menjadi narasi yang logis, tidak belajar menuangkan kesan atas suatu pengalaman ke dalam rangkaian kalimat yang runtut.

Saya pernah mengintip buku pekerjaan rumah anak saya yang berumur 8 tahun.

Khusus untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, saya menemukan sebuah tugas sekolah tentang surat.

Sang guru membuat sejumlah soal yang membuat saya menggaruk kepala.

Misalnya, ada pertanyaan: salam rindu itu pembuka surat atau penutup surat?

Pertanyaan lain: alamat orang yang kita kirimi surat ditulis di bagian depan atau belakang amplop?

Soal-soal semacam itu jelas tak menyumbang banyak untuk kemampuan berbahasa anak-anak kita.

Ketika mereka dewasa nanti, surat elektronik via telepon cerdas jelas bakal mendominasi seluruh aktivitas surat-menyurat umat manusia.

Mereka tak akan butuh amplop.

Ketimbang menghafal salam pembuka surat, kenapa murid-murid ini tak diminta berlatih menulis surat?

Kalau tidak, kapan mereka punya kesempatan menuangkan imajinasi ke dalam tulisan?

Saya menangkap kesan para guru di sekolah tidak menganggap penting pelajaran bahasa Indonesia, apalagi keterampilan mengarang.

Padahal, saya yakin seluruh pemahaman murid mengenai lingkungan di sekitar mereka dipengaruhi oleh bahasa.

Anak-anak menyerap pengetahuan tentang sejarah, matematika, ilmu hayat, sampai sains, melalui bahasa.

Dengan kata lain, untuk memahami alam raya, murid harus punya kemampuan berbahasa yang baik.

Kekayaan pilihan kata dan kompleksitas rangkaian struktur kalimat yang mereka kuasai akan membuat cakrawala berpikir mereka luas tak berbatas.

Karena itulah, dalam ujian berbahasa selalu ada empat tes: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.

Seseorang yang punya kemampuan berbahasa yang baik seharusnya bisa menarik kesimpulan yang akurat dari mendengarkan atau membaca sebuah pemaparan.

Dia juga harus bisa menuturkan serta menuliskan kembali pemahamannya tersebut secara terstruktur, logis, dan sistematis.

Saya khawatir kemampuan mengarang tak dipelajari dengan cukup di bangku sekolah.

Jika kekhawatiran saya benar, kita harus bersiap untuk hidup dalam masyarakat yang tak bisa berkomunikasi secara efektif.

**** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment