Manusia Paling Mulia

0
16 views
Santri Ponpes/Kuttab Yadul 'Ulya Garut.

07 Jan 2021, 03:30 WIB

Santri Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut. (Foto : Abah John).

“Allah memerintahkan Mukmin agar bersama orang-orang yang benar demi predikat paling mulia”

OLEH HADI SUSIONO PANDUK

Ketakwaan seorang hamba semestinya selalu built in, di mana dan kapan saja. Takwa sejatinya menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Terkesan sederhana, tapi jika di-break down, ia adalah laku spiritual penuh heroik seorang Mukmin.

Allah memerintahkan orang Mukmin agar bertakwa dengan sejatinya dan bersama dengan orang-orang yang benar demi sebuah predikat paling mulia (QS al-Hujurat:13). Firman Allah tersebut menggambarkan bahwa orang Mukmin lebih dekat dengan ketakwaan kepada Allah. Mukmin artinya orang yang mengimani akan eksistensi Allah.

Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut. (Foto : Abah John).

Bagaimana seseorang dapat bertakwa padahal berbuat baik dan buruk juga tidak akan terasa langsung dampaknya? Inilah core dari sebuah keyakinan. Jika kau yakin bahwa api itu panas, apakah harus digenggam demi membuktikan rasa panasnya?

Jika jatuh dari ketinggian tertentu akan mengakibatkan kefatalan, apakah kau harus juga menjatuhkan diri sehingga yakin bahwa jatuh dari ketinggian tersebut bisa membuat patah tulang bahkan kematian? Ini bukan persoalan logika, tapi keimanan.

Apakah keimanan bisa dilogikakan? Jika kau percaya kepada Allah, mampukah melogika Allah agar kau tambah mengimani-Nya?

Nabi Musa AS ketika ingin melihat Allah dengan naked eyes, demi label mempertebal keimanan, tetapi akhirnya tidak sanggup. Artinya, jika kau ingin bertakwa kepada Allah, tidaklah menggunakan logika berpikir manusia dengan cara melihat Allah, tetapi dengan memahami sifat-sifat Allah dan mengaplikasikan ke dalam kehidupan nyata.

Manusia paling mulia versi Allah SWT sangat jelas disebutkan dalam Alquran, adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan masa peperangan (QS al-Baqarah:177).

Sejurus kandungan surah tersebut, Surah al-Anbiya 48-49 menceritakan, orang-orang yang beriman yakni mereka yang takut akan azab Tuhan-Nya, dan takut akan (datangnya) hari kiamat. Penanda lain dari seorang yang bertakwa adalah mereka yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang-orang yang membenarkannya, seperti dikutip Surah az-Zumar ayat 33.

Kandungan Surah al-Lail 17-20, identik dengan Surah al-Baqarah di atas, yakni orang yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya.

Panduan menjadi muttaqin (hamba yang bertakwa) telah diberikan oleh Allah Jalla Jalaluhu. Akankah kita menjadi manusia paling mulia versi Allah? Semua bergantung kepada kita.

Wallahu a’lamu bishawab.

*****

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here