You are here
Manusia Merasa Takut? Penjelasan Ilmiahnya SAINS 

Manusia Merasa Takut? Penjelasan Ilmiahnya

Garut News, ( Ahad, 03/11 ).

Rasa takut direspon tubuh secara fisiologis, memicu beragam reaksi. | ACS
Rasa takut direspon tubuh secara fisiologis, memicu beragam reaksi. | ACS

Melihat setan, pocong, di film horor dan merasa takut?

Perasaan itu dialami banyak orang.

Namun, apa sebabnya?

Sebuah video memuat penjelasan American Chemical Society tentang rasa takut, tentu saja dari sudut pandang ilmu kimia.

Dalam video, Abigail Marsh dari Georgetown University katakan, rasa takut sebuah ekspektasi atawa antisipasi bahaya mungkin muncul.

Tubuh sensitif terhadap ancaman tertentu.

Ada banyak cara mengirimkan sinyal memicu rasa takut ke otak.

Bayangkan, sebuah situasi di mana Anda sedang menonton film, dan tiba-tiba mendengar suara keras di beranda.

Anda menebak-nebak, apakah itu hantu, pencuri, atau alien.

Marsh menguraikan apa terjadi pada situasi itu.

“Saraf di telinga mengirimkan suara itu, bagian pertama sistem saraf terlibat,” katanya.

Sinyal kemudian dikirimkan ke bagian otak bernama thalamus, dan kemudian ke bagian lain disebut amygdala.

Amygdala melepaskan senyawa neurotransmitter, disebut glutamat.

Senyawa ini, senyawa kimia di balik rasa takut.

“Aksi glutamat di amygdala merespons rasa takut Anda dengar memicu respons lainnya,” ungkap Marsh seperti dikutip Foxnews, Selasa (29/10/2013).

Respons saling timbal balik datang dari bagian otak bernama periaqueductal gray, bagian otak mengontrol dua respons klasik takut, melompat dan kedinginan.

Kemudian, bagian hipotalamus mengontrol respons perlawanan meningkatkan detak jantung, dan seterusnya.

Respons takut sampai ke kelenjar adrenalisn membuat tubuh melepaskan kortisol dan adrenalin.

Selain itu, rasa takut juga membuat tubuh melepaskan glukosa ke aliran darah sebagai kekuatan bagi Anda berlari apabila diperlukan.

Tergantung tingkat rasa takut, tubuh merespons sinyal dengan cara beda.

Anda bisa saja hanya menutup mata atawa lari lantaran takut.
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

Related posts

Leave a Comment