Manager Taman Satwa Cikembulan : DIRGAHAYU LXXI REPUBLIK INDONESIA

0
7 views

a6Manager Taman Satwa Cikembulan, Rudy Arifin, SE Bersama Keluarga Juga Setiap Seluruh Pengelola Keluarga Besar Lembaga Konservasi tersebut.

Mengucapkan :

Dirgahayu LXXI Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2016.

“Mengajak kita berpikir, dan menyadari arti kemerdekaan tak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk sesama rakyat di seluruh Indonesia”.

Kian banyak wisatawan sebagian besar dari luar Kabupaten Garut, bahkan asal luar Provinsi Jawa Barat, memadati Taman Satwa Cikembulan Kadungora pada setiap liburan, juga hari-hari biasa.

Banyak di antara pengunjung juga terpesona ragam jenis ikan besar-besar pada “Balong Angsa”.

Bupati Garut Bersama Rombongan Didampingi Manager Taman Satwa Rudy Arifin, Kunjungi Taman Satwa Cikembulan, Bupati Antara Lain Janjikan Membantu Promosi.
Bupati Garut Bersama Rombongan Didampingi Manager Taman Satwa Rudy Arifin, Kunjungi Taman Satwa Cikembulan, Bupati Antara Lain Janjikan Membantu Promosi.

Sehingga sambil berperahu mereka memberinya pakan, sekaligus memberi pakan pada angsa-angsa hitam.

Manager lembaga konservasi satwa langka, dan dilindungi Undang-undang RI ini, Rudy Arifin, SE katakan kalangan wisatawan menjadi sangat terhibur, malahan merasa dimanjakan kumpulan ikan, serta angsa yang mengitari pengunjung berperahu.

Ternyata fenomana tersebut, menjadi pelepas lelah kalangan wisatawan setelah mereka berkeliling areal taman satwa mengamati ragam koleksi satwa, termasuk macan tutul hitam.

Sedangkan fenomena “Balong Angsa” pada Taman Satwa Cikembulan itu, Selain memang terdapat sejumlah pasangan berlainan jenis angsa putih dan angsa hitam, juga terdapat perahu angsa serta jembatan gantung, yang menghubungan beberapa anjungan wisata alami.

Maka antara lain bisa jelas terlihat hamparan persawahan, juga Gunung Haruman yang merepleksikan sejuknya semilir angin, sepoy-sepoy.

Elang Cikembulan Juga Bisa Bersahabat Dengan Anak-anak.
Elang Cikembulan Juga Bisa Bersahabat Dengan Anak-anak.

Dikemukakan, Taman Satwa ini paling lambat pada 2038 mendatang dipastikan bisa mewujudkan habitat koleksi satwa nusantara, serta memastikan diri menjadi “One Stop Destination Site”.

Sehingga benar-benar menjadi “miniatur” habitat koleksi setiap jenis satwa endemik dari setiap provinsi di seluruh Indonesia.

Target tersebut, berdasar capaian “Rencana Karya Pengelolaan” (RKP) tiga puluh tahunan (2009 – 2038) lembaga konservasi edukatif ini, ungkap Manager Taman Satwa itu.

Dikatakan, selama ini pun RKP tersebut juga direalisasikan melalui tahapan pada “Rencana Karya Lima Tahunan” (RKLT), serta “Rencana Karya Tahunan” (RKT).

Sehingga setiap tahapan capaian kinerja tersebut, secara periodik dilaporkan pada institusi teknis terkait, ungkap Rudy Arifin.

Bahkan saat ini pun, dari sedikitnya 114 spisies dengan 560 populasi satwa dikoleksinya, terdapat sejumlah satwa langka dilindungi Undang-Undang RI.

Termasuk satwa endemik Provinsi Jawa Barat, di antaranya Macan Tutul, serta primata “Surili”, terdapat pula Harimau Sumatera, Orangutan dari Kalimantan, serta Kasuari dan Burung Cenderawasih asal Papua.

Sepasang Singa Afrika, Beruang, beragam jenis reftil juga aves termasuk beberapa jenis Burung Elang terdapat pula pada Taman Satwa Cikembulan, yang terhampar pada areal seluas lima hektare.

Rudy Arifin, dan Elang.
Rudy Arifin, dan Elang.

Sejak enam tujuh tahun terakhir, wahana wisata pendidikan ini, secara terencana dan terukur senantiasa membenahi diri, merehabilitasi beragam sarana-prasarana penunjang, serta menyelenggarakan ragam inovasi dan kreativitas.

Agar selain bisa tampil beda setiap saat, juga berupaya maksimal memenuhi harapan pengunjung terutama kalangan keluarga, pelajar serta kalangan akademisi, termasuk wisatawan nusantara dan mancanegara.

Bagi pengunjung berkondisi usia jompo, serta cacat fisik benar-benar digratiskan, ujar Rudy Arifin.

Lantaran Taman Satwa Cikembulan dapat memastikan diri menjadi “One Stop Destination Site” bahkan juga ke depan bisa mengoleksi temuan baru satwa-satwa langka nusantara, supaya bisa dijadikan wanaha penelitian bagi kalangan ilmuwan.

Seperti halnya pada makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya.

Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.

Dunia bertanya-tanya, bagaimana bisa katak yang tak memiliki penis melakukan pembuahan di dalam tubuh?

Bagaimana caranya menyetor sperma ke betina? Lalu, bagaimana mungkin katak tak bertelur, tetapi langsung melahirkan kecebong?

Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetolog (pakar amfibi dan reptil) di balik penemuan katak itu.

Dia adalah ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkali-kali membuat geger dunia sains lewat temuan-temuannya.

*******

Pelbagai Sumber, Jdh.