Mampukah Dunia Pendidikan Eksis Saat Pandemi Covid-19

0
74 views

Oleh : Hendra Sukatriyana, SE

Hendra Sukatriyana, SE. (Ist). Beserta Potret Kemiskinan Warga Garut. (Foto : Abah John Doddy Hidayat).

“Kendala Berburu Sinyal dan Miskin Kuota”

Garut News ( Sabtu, 08/08 – 2020 ).

Pandemi Covid-19 memberikan efek sangat luar biasa dalam semua aspek kehidupan di seluruh dunia, Negara kita juga tak luput dari dampak coronavirus disease 2019 tersebut.

Dengan wabah penyakit begitu dahsyatnya sampai Negara kita juga melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam kurun waktu 2-3 bulan terakhir.
Sejak awal Juni 2020 pemerintah melakukan kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Dunia pendidikan pun dimulainya tahun pelajaran baru pada 13 Juli 2020, bagi daerah termasuk zona hijau yakni daerah kabupaten/kota belum pernah ada kasus positifnya bisa dilakukan kegiatan belajar mengajar bertatap muka.

Namun dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat (Jaga jarak antara siswa/kapasitas murid dalam kelas dibatasi, dan memakai alat pelindung diri).

Sedangkan pada zona lainnya, yang sebagian besar secara nasional terkena kasus positif, yaitu melakukan kegiatan belajar mengajar dengan cara Daring atau Luring, meski daring itu bukan hal mudah dilaksanakan.

Lantaran masih ada beberapa kendala sangat penting sekali dalam kegiatan belajar mengajar ini, di antaranya : Apakah semua tenaga pengajar memiliki kesiapan dengan system serba online?,

Apakah siswa dapat mengikuti KBM dengan daring ini secara intens? Apakah semua siswa mempunyai perangkat dapat digunakan dalam KBM secara daring? Apakah semua daerah dapat menerima sinyal operator selulernya?

Sementara pelaksanaan KBM ini dilakukan dengan media secara virtual, seperti : Zoom Meet, Google Classroom, Google Meet, atau yang lainnya, yang memang dapat menguras kantong orang tua siswa.

Kenyataannya tak semua orang tua siswa bisa memenuhi seluruh kebutuhan anaknya yang sedang sekolah.

Sehingga dengan beragam keterbatasan tentang peranti tersebut, apakah belajar mengajar tersebut dapat berjalan secara efektif? Ini merupakan tantangan tersendiri dari para peserta pendidik.

Agar dapat memberikan langkah-langkah yang bijak di saat semua masyarakat juga terdampak besar pandemi maut tersebut, baik langsung maupun tak langsung.

Maka salahsatu langkah dapat dilakukan, yaitu dengan memberikan kegiatan belajar kepada siswa yang mudah diakses, misalnya melalui messenger (Whatapps) atau lainnya, selama ini familiar di masyarakat.

Berdasar hasil pendataan Susenas Maret 2019, di Kabupaten Garut sendiri persentase anggota rumah tangga di atas lima tahun menggunakan teknologi informasi (HP/PC/Laptop) untuk pendidikan SD ke bawah yaitu 21,04%.

Sedangkan untuk pendidikan di atas SMP mencapai 68,35%. Jika dilihat jenis kelamin, bahwa laki-laki lebih banyak dapat menggunakan teknologi informasi dibandingkan perempuan dengan persentase masing-masing 41,04% dan 35,87%.

Dengan data itu, apakah selama pandemi ini semua kegiatan belajar mengajar dapat berjalan seperti yang diharapkan? Itu menjadi tugas kita semua, kendati dengan segala keterbatasan kita miliki, kita harus tetap mensupport anak-anak sebagai generasi penerus bangsa di kemudian hari.

Selain sistem daring, ada pula KBM dengan Luring, yakni kegiatan belajar mengajar di luar jaringan, dengan melakukan kunjungan guru ke rumah siswanya masing-masing secara bergantian.

Namun KBM ini pun tak mudah dilaksanakan, sebab rumah-rumah siswanya menyebar, mengakibatkan tak semua siswa bisa di kunjungi gurunya.

Penulis, Statisisi Ahli Pertama pada BPS Kabupaten Garut.

*******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here