Makna Isra Mi’raj

0
123 views
Langit malam berbintang/ilustrasi. (Foto: Pixabay).

Jumat 13 April 2018 08:31 WIB
Red: Elba Damhuri

“Kita memang sudah mengerjakan shalat, tapi gagal dalam mendirikannya”

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Muhammad Fahmi, Dosen IAIN Surakarta.

Langit malam berbintang/ilustrasi. (Foto: Pixabay).

Peristiwa Isra Mi’raj telah menjadi hari libur nasional di negara kita. Dalam masyarakat kita, momen Isra Mi’raj biasanya diperingati dengan pelbagai rangkaian perayaan hari besar keragaman.

Kegiatan tersebut mulai dari pengajian di kampung-kampung sampai kota, perlombaan-perlombaan yang bernuansa Islami, penampilan kesenian Islam, bazar busana Muslim, dan kegiatan lainnya yang bernuansa Islam.

Bahkan pada tingkat negara, peristiwa ini biasanya diperingati dengan menggelar acara peringatan Isra Mi’raj di istana negara. Singkatnya, Isra Mi’raj telah dijadikan sebagai event tetap tahunan yang selalu diperingati, baik oleh negara maupun masyarakat.

Pertanyaannya, apakah Isra Mi’raj, sebagai peristiwa yang saban tahun diperingati, telah benar-benar kita hayati maknanya? Dalam tulisan ini, penulis menyajikan perspektif Islam tentang peristiwa ini dan mengupas pro-kontra seputar peristiwa tersebut.

Mandat Isra Mi’raj

Pada umumnya, umat Islam sedikit banyak sudah mengetahui bahwa dari peristiwa Isra Mi’raj inilah mandat kewajiban shalat wajib lima waktu bagi umat Islam dimulai.

Dalam sehari semalam, umat Islam diwajibkan melakukan shalat Subuh dua rakaat, shalat Zhuhur pada waktu siang sebanyak empat rakaat, salat Ashar empat rakaat pada waktu sore, shalat Maghrib tiga rakaat pada waktu petang, dan diikuti shalat Isya’ pada malam harinya sebanyak empat rakaat.

Allah SWT berfirman, ‘’Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS al-Isra: 78).

Mengapa shalat diwajibkan? Banyak jawaban yang bisa diberikan, tapi salah satunya, shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual, hubungannya dengan Allah.

Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. DR Alexis Carrel, penerima Nobel dan pakar kedokteran Barat, dalam bukunya Man the Unknown menyatakan, “Apabila pengabdian, shalat dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut”.

Pernyataan tersebut paralel dengan Firman Allah dalam ayat sebagai berikut, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (QS al-Ankabut: 45).

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pemaknaan Isra Mi’raj dalam konteks Indonesia? Penulis kira, ajaran Islam itu harus hidup dalam perilaku pengikutnya dan mewarnai perilaku bangsa.

Namun, sangat disayangkan saat ini agama hanya dijadikan “ritual-formal’ yang menghiasi kalender seremonial negara, tapi kosong dari implementasi nilai-nilai dan maknanya dalam prakis sosial dan penyelenggaraan negara.

Kita sekarang memang sudah mengerjakan shalat, tapi gagal dalam “mendirikannya”. Redaksi Alquran adalah “dirikanlah” bukan “kerjakanlah”. Akibatnya, meski shalat, kita juga rajin maksiat.

Isra Mi’raj kita rayakan tetapi korupsi juga kita kerjakan. Singkatnya, kita terjebak, meminjam Julia Kristeva (1982) dalam moralitas mengambang (abjection), yaitu suatu kondisi hilangnya batas-batas antara kesucian dan najis, antara benar dan salah, antara baik dan buruk.

Materialisme

Ambiguitas moral kita ini, merayakan agama sekaligus melanggarnya, adalah cerminan dari situasi bahwa kita telah masuk pada fase masyarakat materialisme yang akut. Artinya, walau mengaku beragama, diam-diam kita “menuhankan materi”.

Materi telah menjadi raison d’etre, tujuan, dan motif dalam segala tindak-tanduk, perilaku, perbuatan, dan segala apa pun yang kita lakukan. Materi telah menjadi nawaitu yang melandasi segala perbuatan.

Dalam bahasa Sosiolog Weber (1864-1920), tindakan yang dilandasi materi disebut dengan tindakan “rasional kalkulatif”, yaitu tindakan yang dilandasi tujuan-tujuan yang bersifat materialistik. Sebagai bagian dari tindakan rasional, materialisme pada mulanya sangat anti-agama.

Bagi Epikuros, bapak materialisme, materialisme menolak eksistensi Tuhan dan segenap ajarannya karena Tuhan tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Wujud Tuhan hanya ada dalam imaji penganutnya dan tidak riil secara empiris.

Jadi dalam konteks ini, perspektif materialisme sebenarnya menolak keabsahan Isra Mi’raj. Kabar yang menyatakan Nabi SAW dalam semalam telah melakukan perjalanan dari Makkah ke Baitul Makdis (Palestina) kemudian disambung ke “Sidratul Muntaha” (satu tempat di atas langit ketujuh) susah untuk bisa diterima secara rasional-materialistik.

Bagi mereka, secara akal sehat, sulit untuk bisa menerima bahwa seseorang “mampu” melakukan perjalanan seperti itu. Apalagi hanya dalam waktu semalam. Karena itu, bagi materialisme peristiwa Isra Mi’raj Nabi hanya menghasilkan dua kesimpulan.

Pertama, peristiwa tersebut hanya mimpi Muhammad. Kedua, peristiwa itu hanya karang-karangan Muhammad. Pada yang pertama, soal mimpi, bisa dipatahkan dengan mengingat ada sumber otoritatif yang menyebutkan bahwa Nabi hafal dan tahu pernak-pernik, seperti jumlah jendela dan tiang-tiang Masjidil Aqsa.

Padahal, tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan bahwa Nabi sebelumnya pernah berkunjung ke tempat itu (Masjidil Aqsa). Pengetahuan Nabi yang mendetail tentang Masjidil Aqsa tidak mungkin dikarang-karang apalagi berasal dari mimpi.

Karena itu, pastilah Nabi benar-benar hadir di tempat itu sehingga bisa menjelaskan secara detail informasi tentang Masjidil Aqsa. Pada yang kedua, terkait tudingan karang-karangan alias cerita bohong Nabi, bisa ditolak dengan mengemukakan jejak rekam Muhammad sebagai orang yang mendapat gelar Al-Amin (yang terpercaya).

Gelar tersebut bukanlah pemberian pengikutnya melainkan menjadi pengakuan suku Qurasy, baik beriman maupun kafir, pada integritas dan kejujuran Nabi. Dan, gelar tersebut didapat jauh sebelum beliau diangkat sebagai Rasul. Jadi, bagi kita tak ada sedikit pun keraguan pada peristiwa Isra Mi’raj tersebut.

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here