Mahathir di Titian Kalah dan Menang

0
32 views
Harri Ash Shiddiqie. (Foto: dokpri).

Ahad 20 Mei 2018 04:35 WIB
Red: Agus Yulianto

“Mahathir lebih dikenal sebagai pemimpin yang membawa Malaysia cemerlang”

Harri Ash Shiddiqie. (Foto: dokpri).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie, Penyuka Sastra dan Teknologi, di Jember.

Mahathir menang. Kemenangan yang tidak mudah, dan Mahathir tahu, kemenangan yang mudah itu murah. Menang menjadi berharga karena perjuangannya keras, mendobrak.

Kemenangan yang sulit, apalagi di negerinya ia pernah dijuluki diktator. Di umur 92 tahun di atas titian, dirangkulnya orang yang dahulu ia penjarakan, musuh politiknya. Itulah perjuangan. Penuh jalan berkelok memperbaiki kehidupan. Bukan sekedar menanam kepercayaan pada hati mantan musuh dan pengikutnya yang jumlahnya jutaan, bukan hanya mengikis ego rasa malu seorang penguasa yang harus memulai perbincangan, dan bukan hanya menangkis cemooh yang sedang berkuasa dengan menyindirnya agar diam duduk saja di masjid, berdoa di usia tua.

Semua sulit, tapi perjuangan harus di tegakkan. Mahathir meneguhinya. Titian berkelok susah itu dijalaninya.

***

Mahathir lebih dikenal sebagai pemimpin yang membawa Malaysia cemerlang di bidang ekonomi dan teknologi. Selain itu, sebenarnya ia juga seorang muslim yang prihatin dengan terpuruknya umat.

Merujuk kemajuan peradaban besar Islam dalam ilmu pengetahuan yang pernah dicapai, Mahathir mengkritik kaum Muslimin yang tidak memberi penghargaan kepada prestasi ilmuwan di bidang matematika, dan teknologi pada umumnya. Penyebabnya, kebanyakan pemimpin agama tidak mengenal fisika, kimia dan teknologi, sehingga para ulama tidak memiliki peta kontribusi ilmu tersebut dalam kehidupan nyata.

Tanpa ragu-ragu, Mahathir lantang meneriakkan kedangkalan umat, karena Islam telah ditafsirkan pengikutnya secara salah.

Mahathir adalah manusia biasa, di sisi keberhasilannya, banyak kelemahan yang dimiliki, sehingga tidak sedikit tindakannya berkaitan kepada lawan-lawan politik, maupun pernyataannya tentang penerapan Islam yang menimbulkan perbedaan pendapat dan kontroversi. Tapi Mahathir terus maju. Terus berjuang.

Seharusnya, sedemikianlah seorang Muslim sejati. Terus berjuang. Selalu berada di titian. Andai kalah, balik mundur lalu berusaha maju lagi. Bila menang berarti sampai di seberang, melanjutkan perjalanan, yang pasti akan menemukan titian yang lain lagi.

Kewajiban muslim adalah berjuang agar selalu menjadi lebih baik. Hidup yang lebih baik, akhlak yang lebih baik, juga takwa yang naik, yang lebih baik. Ikhtiar perjuangannya sesuai kesanggupan, sejauh kemampuan. Itu berarti dengan mengerahkan secara maksimum seluruh daya : jiwa, raga, hati dan pikiran.

Secara maksimum? Ya.

Mufasir Zamakhsyari (wafat 538 H) menjelaskan ayat “….bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu ….” (QS 64:16) berarti bertakwalah sedemikian rupa sehingga kamu tidak meninggalkan satu hal-pun yang sebenarnya kalian mampu.

Pengajian hendak di gelar. Tikar kurang, Fulan berangkat ke rumah pak Bahlul, melihat pintu rumah tertutup, Fulan balik kanan kembali ke masjid. Ia tidak berusaha mengetuk, tidak unjuk salam, tidak maksimum. Di saat yang lain, karena istrinya hendak ke rumah saudaranya Fulan diminta membawa 4 sisir pisang dan 10 ikat kangkung agar dijual di pasar desa besok pagi, Berangkat agak siang di pikulannya Fulan hanya membawa 3 sisir pisang dan 5 ikat sayuran. Berjalan lamban, pasar sudah bubar, barangnya dihargai murah.

Ya. Seharusnya Fulan itu berjuang secara maksimum, sejauh kemampuan. Apa yang dicatat malaikat untuk Fulan, kebaikan atau keburukan?

***

Dan memang, setiap muslim, di setiap saat harus selalu berada di titian. Dakwah Rasulullah selalu demikian, satu demi satu yang orang yang beliau temui, tahap demi tahap dakwah yang harus ditanamkan, rumah satu ke rumah yang lain, wilayah demi wilayah, selalu ada sesuatu yang terus diperjuangkan. Di titian yang satu berhasil, tetapi di titian bernama Kota Thaif, Beliau malah dicemooh bahkan dilempari.

Kalah atau menang ?

Dalam pertandingan atau pertempuran yang hanya dilihat kasat mata oleh manusia memang hanya ada : kalah dan menang. Tetapi dalam aktivitas kehidupan seorang muslim yang berjuang menyampaikan dan menegakkan Islam, sepanjang ikhlas lillahi ta’ala, seorang muslim pasti selalu menang.

Perang Uhud memberi teladan, banyak kau Muslimin gugur. Tetapi apakah para syuhada itu mati sia-sia? Mereka menang…. Mereka mendapat surga.

Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus, ke surga. Amin.

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here