Lumrah

by

Garut News ( Ahad, 23/03 – 2014 ).

Ilustrasi. Miniatur Domba Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Miniatur Domba Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

Mengapa ya, seekor anjing, yang tidur berjemur, kelihatan indah, ya kan, indah, sementara seseorang yang berdiri di depan ATM untuk ambil uang kelihatannya tolol betul?

Laki-laki itu bertanya dan perempuan itu tak menjawab.

Percakapan dengan cepat berganti topik.

Di antara mereka berdua waktu terbatas.

Laki-laki dan perempuan itu sadar mereka tak akan ketemu lagi dan banyak yang ingin diucapkan.

Tiap percakapan adalah saat yang berarti, meskipun tak pernah selesai.

Ya, tiap percakapan-meskipun tentang hal yang biasa, yang lumrah, selumrah anjing yang tidur berjemur.

Film Before Sunrise tak terlupakan justru karena itu: kisah tentang saat-saat yang lumrah, tentang 12 jam yang tanpa drama dalam hidup dua orang yang tak sengaja bertemu dan tak punya tujuan tertentu.

Jesse naik kereta di Budapest menuju Wina dari mana ia akan terbang kembali ke Amerika, dan Celine menuju Paris, kembali kuliah.

Dalam gerbong itu mereka terlibat dalam percakapan, dan makin lama makin merasa percakapan itu menyenangkan.

Maka Celine setuju untuk turun di Wina sampai esok paginya, sampai pada pukul 09.30 saat Jesse dengan Austrian Airlines kembali ke Amerika.

Jesse tak punya cukup uang untuk menginap di hotel; mereka memutuskan untuk hanya berjalan sepanjang malam menyusuri kota.

Berjalan, bercakap-cakap, minum di kafe, berbaring di taman, berciuman, tapi tak lebih.

Mereka tahu, beberapa jam lagi mereka tak akan saling melihat.

Mereka takut akan saling kehilangan.

Pertemuan itu begitu sementara.

Anehnya kita, yang mengikutinya, justru tersentuh oleh apa yang sementara.

Percakapan itu begitu biasa, tapi kita pelan-pelan tahu bahwa yang lumrah itu justru istimewa.

Mungkin karena film ini terasa sebagai antithesis terhadap hari ini.

Kita hidup di dunia yang dibentuk oleh media untuk terpukau hal-hal yang tak biasa.

Kita menengok ke sekitar dan pasar membujuk kita terpikat benda-benda yang tak lumrah karena dikemas.

Dan yang sehari-hari, yang tak dikemas, pun jadi datar.

Rasa bosan, tanpa selalu disadari, menyusup.

Kita pun terus-menerus mencari cara membebaskan diri dari yang banal.

Kata “banal” memang berasal dari bahasa Latin Abad Pertengahan, bannalis, yang mengacu ke kerja orang bawahan di pabrik, dapur, sumur, atas titah tuan-tuan feodal.

Dengan kata lain, yang banal bukan yang heroik, luhur, atau gilang-gemilang.

Yang banal menjemukan.

Tapi kejemuan adalah sejenis bunuh diri yang lambat.

Ia dimulai ketika orang tak menemukan arti dalam hal-hal yang tak bisa kekal, benda yang sepele, laku yang sederhana-sementara justru hal dan benda yang sedemikian itu yang merupakan bagian langsung kehidupan.

Rilke, yang hidup di Jerman dalam peralihan ke abad ke-20, melihat apa yang berubah hingga hal-hal lumrah direndahkan.

Dalam sepucuk suratnya ia menyebut datangnya “benda-benda Amerika yang kosong, yang tak peduli, yang hanya pseudo, yang hanya boneka”.

Amerika, demikian tulis sang penyair dalam surat bertanggal 5 Juni 1896, adalah pabrik, “tak punya burung bulbul”.

Dalam serbuan “leere gleichgltige Dinge” itu orang lupa akan masa ketika “Rumah”, “Perigi”, menara yang biasa dikenal, baju dan mantel yang biasa dikenakan, masing-masing terasa begitu “akrab tak terhingga”.

Dalam tiap benda yang seakan-akan bernyawa itu, tulis Rilke, “ditemukan dan tersimpan kemanusiaan”.

Kini hal-hal itu punah.

Kini benda diproduksi dengan lekas dan dibuang dengan lekas.

Rasa bosan dijadikan bagian mekanisme pasar.

Apa yang “baru”, katakanlah mode pakaian atau berita tentang tokoh, bukan datang dari pemandangan yang begitu biasa, begitu wajar, (“anjing yang tidur berjemur”, misalnya), melainkan harus dikemas dan sedapat mungkin mengejutkan.

Dan bila yang mengejutkan tak ada, orang pun berdiri, duduk, berjalan, acuh tak acuh, dan jemu.

Mungkin mual.

Seperti Antoine Roquentin dalam La Nause, (“Mual”), novel Sartre yang termasyhur itu.

Tak ada yang terjadi selama kita hidup.

Pemandangan berubah, orang masuk dan keluar, itu saja.

Tak ada awal.

Hari bertimbun di atas hari tanpa ritme atau alasan, imbuhan yang tak habis-habis dan itu-itu saja.

Pada umur 30 tahun, Roquentin membenci dirinya sendiri.

Memang ia tak bunuh diri; ia memilih untuk memberi arti bagi hidupnya.

Meskipun demikian, dalam pandangannya, tampaknya yang banal tak mendapatkan arti kembali.

Atau ia tak tahu: ada yang berharga di tiap saat yang terbatas.

Dalam Before Sunrise, Jesse dan Celine lebih beruntung.

Mungkin di jalanan Wina itu, mereka sama-sama tampak tolol seperti orang di depan ATM, tapi malam hari itu mereka menemukan sesuatu.

Sesuatu yang fana, sederhana, tapi berharga.

Jesse: Aku pikir benar sekali, maksudku, semua hal-setiap hal-tak bisa kekal.

Tapi kamu juga tahu kan, itu yang membuat waktu kita, di saat-saat tertentu, begitu penting?

Celine: Yah, aku tahu. Tapi itu kan seperti kita malam ini.

Sehabis besok pagi, kita mungkin tak akan pernah ketemu lagi.

Pagi datang dan mereka tak menangis.

Hidup selalu terdiri atas pelbagai selamat tinggal.

Tapi bukan kematian.

Goenawan Mohamad.