Literasi, Jalan Membangun Lagi Kejayaan Islam

0
13 views
Agung Sasongko (Foto: Dok. Pribadi).

Sabtu 02 June 2018 03:02 WIB
Red: Joko Sadewo

“Tabir keilmuan yang dahulu terbuka luas, harus kembali digali lagi”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Agung Sasongko*

Agung Sasongko (Foto: Dok. Pribadi).
“Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq QS 96 ayat 1-5)”

Ayat inilah yang pertama kali turun, didengarkan manusia agung, Rasulullah Muhammad SAW. Turunnya wahyu ini sekaligus mengesahkan pelantikan beliau sebagai nabi. Dari ayat ini pula, peradaban Islam menyebar ke seluruh penjuru bumi. Lalu apa yang menjadi keistimewaan ayat ini, hingga memberikan dampak signifikan bagi peradaban dunia?

Ketua Yayasan Pendidikan Dinamika Umat, Ustaz Hasan Basri Tanjung dalam tulisannya menyatakan, membaca (iqra`) merupakan proses awal pembelajaran dan pintu ilmu pengetahuan. Pepatah Arab menyebut, “Ta’allam, falaisa al-mar`u yuuladu ‘aaliman” (Belajarlah, sebab tidak seorang pun lahir berilmu). Siapa yang banyak membaca, wawasan keilmuannya akan meluas, mendalam, dan bijaksana.

Implementasi dari kekuatan motivasi itu kemudian menyebar luas ke dunia Islam. Alquran menjadi rujukan diskusi dan kajian keilmuan. Waktu itu, begitu banyak betebaran kajian dan perpustakaan. Diskusi sudah menjadi tradisi yang mengakar. Pojok kota selalu ramai dengan debat dan kajian keilmuan. Tak heran setiap hasil kajian dan tulisan yang dibuat menjadi rujukan dan dikenang hingga kini.

Sebagai contoh, koleksi Baytul Hikmah di Baghdad–setelah penemuan cara memproduksi kertas–membeludak menjadi satu juta buku pada 815. Berpuluh tahun kemudian, pada 891 seorang sejarawan mencatat ada lebih dari 100 perpustakaan umum hanya di Baghdad. Kota kecil semacam Najaf punya rumah baca dengan koleksi 40 ribu buku.

Pada abad ke-10, Sultan al-Hakim dari Kordoba, Andalusia, punya koleksi pribadi sebanyak 400 ribu buku. Astronom Muslim asal Persia, Nashruddin al- Tusi (lahir 1201) punya 400 ribu buku. Sultan al-Aziz dari Dinasti Fatimiyyah punya 1,6 juta buku, yang sebanyak 16 ribu dan 18 ribu di antaranya membahas tentang matematika dan filsafat.

Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ, Muhbib Abdul Wahad, dalam tulisannya yang dimuat Republika.co.id, menyebutkan surah Al-Alaq sejatinya menginstruksikan pentingnya pengembangan daya literasi sebagai basis pembangunan peradaban. Etos iqra’: membaca, berpikir kritis dan kreatif, meneliti, dan mengembangkan sains dan teknologi merupakan sendi utama tegaknya peradaban.

Menurut Nasr Hamid Abu Zayd, jika Mesir mewariskan peradaban pascakematian (piramid, artefak-artefak kuburan megah peninggalan Firaun), Yunani mewariskan peradaban intelektual (filsafat), Islam membangun peradaban ilmu, dalam bentuk peradaban teks dan pemikiran.

Perhatian penguasa-penguasa Muslim terhadap buku begitu besar. Dinasti Abbasiyah misalnya, dalam sejumlah peperangan besar yang dilakoninya berakhir dengan syarat penyerahan bukuMisalnya, perang antara Abbasiyah dan Romawi Timur. Salah satu poin yang diwajibkan sultan Abbasiyah terhadap Byzantium adalah penyerahan naskah-naskah buah tangan astronom Yunani Kuno, Ptolemeus, kepada Baytul Hikmah.

Filsuf Prancis, Roger Garaudy (wafat 2012), dalam bukunya ‘Promesses de l’Islam’ menyebut keunikan dalam peradaban Islam. keunikan tersebut terletak pada kemampuannya untuk meyerap kebudayaan lainnya kemudian disempurnakan dan akhirnya menghasilkan ragam pengetahuan. Inilah yang seharusnya menjadi dasar bagi kita untuk menyerap kebudayaan yang sudah ada. Untuk kemudian kita telaah lagi, guna memberikan manfaat bagi semesta alam. Inilah konsep rahmatan lil alamin yang sebenarnya.

Karena itulah, penting bagi umat Islam saat ini untuk kembali mengedepankan kekuatan literasi untuk kembali meraih kejayaan yang meredup. Konsistensi mempelajari Alquran dan Hadist merupakan kuncinya. Tabir keilmuan yang dahulu terbuka luas, harus kembali digali lagi. Teknologi yang sudah berkembang saat ini bisa dimanfaatkan untuk mengejar ketertinggalan. Karena Islam memandang penting kedudukan literasi dalam perjuangan di jalan Allah.

Internet kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sebuah data menyebut, tak kurang dari 2,4 miliar pengguna layanan dunia maya tersebut di seluruh dunia. Internet memang telah memanjakan umat manusia. Lautan informasi dan kemudahan berkomunikasi dapat diperoleh dengan mudah di sana.

Syekh Sulthan al-Umari dalam makalahnya berjudul ‘Istikhdam al-Internet fi ad-Da’wah’ mengungkap pentingnya internet digarap sebagai lahan dakwah. Di antaranya, jangkauan internet cukup luas melintasi batas negara dan benua, ada sekitar 100 juta domain dotcom di internet yang bebas digunakan, registrasinya pun tidak terlalu ribet, biayanya pun cukup bersahabat, tidak menguras kantong.

Di awal masa keemasan Islam, buku menjadi kekuatan literasi yang menganggumkan. Kini, era tersebut mulai bergeser ke dunia maya. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Peluang karena gerbang pengetahuan dan dakwah terbuka lebar. Namun, menjadi tantangan bagaimana kekuatan ekosistem baru ini perlu dibarengi bekal agama yang kuat. Meleset sedikit runyam sudah.

Cukuplah kita mengambil pelajaran dari redupnya peradaban Islam di masa lalu. Penulis jadi teringat apa yang dituliskan Ibn Jubair dalam Rihla Ibn Jubair atau The Travels of Ibn Jubair. Dikisahkan, Ibn Jubair menyaksikan sendiri bagaimana peradaban Islam di Eropa mulai berada di batas akhir. Azan mulai dilarang. Masjid sulit dibangun. Umat Islam lebih banyak terlibat intrik kekuasaan. Hanya sedikit orang yang mampu melindungi saudaranya sendiri. Tak banyak yang bisa dilakukan kala itu. Peradaban Islam jatuh.

Sekarang. Palestina diobrak-abrik penjajah Israel. Dunia Islam utamanya di Timur Tengah sibuk dengan perebutan kekuasan. Mereka saling memerangi saudaranya sendiri. Belum lagi persoalan lain yang membuat kita semakin tenggelam. Namun, janganlah putus asa.

Umat Islam, utamanya di Indonesia memiliki peluang untuk mengembalikan kejayaan itu. Imam Masjid Istiqlal, Nasarudin Umar dalam Halaqah Nasional yang digelar Lembaga Kajian islam Daarul Fattah di Bogor belum lama ini menyebut, rakyat Indonesia harus bangga karena Indonesia bahkan sudah menjadi kiblat peradaban dunia Islam dan masyarakatnya sudah puluhan tahun bisa hidup dalam perbedaan.

Sikap optimistis sangat dibutuhkan. Itulah sebabnya Rasulullah begitu gigih dalam menanamkan nilai yang satu ini. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis.” Maka ditanyakanlah kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis?” Beliau bersabda, “Yaitu kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian.” (HR Ahmad).

Kisah Nabi Musa AS pun patut diambil pelajaran. Saat berada dalam kejaran Firaun, setelah berlari cukup jauh, ia dan umatnya harus berhadapan dengan lautan yang luas. Rasa cemas menggelayuti umatnya. Bahkan, ada yang mengatakan, “Sungguh Firaun pasti akan mendapati kita.” (QS as-Syu’ara: 61). Namun, dengan penuh optimisme, “Musa mengatakan, sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku bersamaku yang akan memberikan petunjuk kepadaku.” (QS as-Syu’ara: 62). Wallahu a’lam bishawab.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id desk Khazanah

*******

Republika.co.id