LIPI Ungkap Pemicu Utama Tergulingnya KA Malabar

Garut News ( Jum’at, 11/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Pemeriksaan Rem di Cipeundey, Malangbong, Garut. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Pemeriksaan Rem Setiap KA di Cipeundey, Malangbong, Garut. (Foto : John Doddy Hidayat).

Hasil kajian peneliti hidrogeologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adrin Tohari, mengungkap, tergulingnya KA Malabar dipicu tanah longsor, Jum’at (04/04-2014) penyebabnya masalah air.

“Kasus kecelakaan kemarin, air mengalir ke lembah sehingga menyebabkan longsor,” ungkap Adrin.

Pada diskusi publik digelar di LIPI, Kamis (10/04-2014), secara geomorfologi, rel tempat terjadinya kecelakaan KA Malabar terletak di wilayah lembah, sehingga secara alami memang rawan longsor.

Sistem drainase yang baik, sebenarnya bisa meminimalisasi kejadian longsor.

Sayangnya, sistem drainase di lokasi kecelakaan KA Malabar tak berfungsi maksimal.

Lantaran drainase tak berfungsi maksimal, air mengalir ke lembah tak terkendali.

Air melimpas ke jalur rel kereta api, menggerus tanah di bawah rel hingga akhirnya longsor.

Rel pun menggantung.

Dengan kondisi rel menggantung, kereta lewat di atasnya pun berpotensi terguling.

Inilah terjadi pada KA Malabar.

Kejadian serupa kecelakaan KA Malabar sering terjadi.

“Ancaman utama longsor di jalur kereta api sebenarnya, longsor di bawah jalur rel kereta api,” ungkap Adrin.

Mencegah terulangnya kecelakaan serupa, Adrin mengungkapkan perlunya tindakan preventif berupa pemantauan, dan pencegahan.

Salah satu bisa diupayakan, memantau ketinggian muka air tanah.

Longsor  terjadi ketika ketinggian muka air tanah melampaui batas maksimum, atawa dikenal dengan bidang gelincir.

LIPI kini mengembangkan sistem pemantauan menggunakan sensor bisa dipakai mengetahui ketinggian muka air tanah.

Ketinggian muka air tanah dibaca sensor dikirim pada pusat data, dan akhirnya ke operator di stasiun.

Data ini, bisa dijadikan dasar memberikan peringatan dini terkait bahaya tanah longsor.

Hal lain bisa diupayakan, mencegah ketinggian muka air tanah mencapai batas maksimum.

Ini juga tengah dikembangkan LIPI, katanya.

LIPI mengembangkan teknologi bernama GREATEST.

Dengan teknologi ini, air tanah bisa diekstrak, dan disalurkan pada tempat lain melalui pipa.

Longsor tak terjadi lantaran air tanah tak melampaui bidang gelincir.

******

Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo/ Kompas.com

Related posts

Leave a Comment