Liontin Pemimpin dan Memanusiakan Manusia

0
2 views
Bocah Rohingya di pengungsian Rohingya di Ukhiya, Cox Bazaar, Bangladesh. (Abir Abdullah/EPA).

Rabu , 13 September 2017, 07:37 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Rudi Agung *)

Bocah Rohingya di pengungsian Rohingya di Ukhiya, Cox Bazaar, Bangladesh. (Abir Abdullah/EPA).

Kepedihan Muslim Rohingya masih tersisa menggelayut di wajah penduduk Muslim sedunia. Pemberitaan terhadap duka mereka masih pula menghiasi framing media lokal, nasional, internasional.

Gelombang simpati seakan tak henti. Dukungan disajikan begitu indah dari para saudaranya seaqidah, pun saudara sesama manusia di penjuru semesta.

Kecaman, peringatan, diplomasi, doa, donasi, dan tetek bengek bentuk bantuan seolah bergerak menari membuat alunan harmoni suara-suara kedukaan yang tergali dari dalam hati.

Menarik mengamati para pemimpin dunia dan Indonesia yang tak henti mempersembahkan ikatan hatinya pada tragedi kemanusiaan yang menimpa Muslim Rohingya.

Semisal kunjungan langsung istri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Emine Erdogan. Ia menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Muslim Rohingya saat berkunjung ke kamp dekat perbatasan Myanmar, Kamis, 7/9/2017.

Emine melihat kondisi pengungsi dengan harapan dunia internasional dapat segera menyelesaikan krisis kemanusiaan Rohingya.

Tak kalah menariknya dukungan dari kepala daerah di Indonesia. Bupati Lombok Timur H. Mochammad Ali Bin Dachlan alias Amaq Asrul, misalnya.

Dalam catatan media, ia mengklaim siap menyediakan satu pulau untuk warga-warga etnis Rohingya yang mengalami penindasan.

Satu dari belasan pulau di Kabupaten Lombok Timur NTB siap dipersembahkan bagi para pengungsi sebanyak 10 ribu. Alasannya kemanusiaan. Masalah kemanusiaan bersifat universal. Atas dasar itu ia bersedia.

Meski realisasinya belum terbukti dan mungkin agak sulit, tapi dukungan itu laik diapresiasi. Paling tidak ia memberi contoh memuntahkan suara hatinya untuk berupaya memberi sajian kepedulian.

Sesuatu yang hampir punah di Indonesia, khususnya para pemimpinnya. Tapi untunglah kita bisa bernapas lega. Ada pula pemimpin lain yang masih mengkristalkan kepedulian dalam almari sanubarinya.

Seperti Bupati Kutai Kartanagera, Kalimantan Timur, Rita Widyasari. Ia memang tak berkunjung langsung ke Myanmar seperti Emine Erdogan. Tak pula menjanjikan pulau bagi pengungsi Rohingya serupa Ali bin Dachlan.

Tapi, Rita menghentak kesadaran kita tentang cinta dan satu nilai adiluhung bangsa ini yang mulai hilang. Katanya, “Puncak cinta adalah memanusiakan manusia.”

Seruan itu sontak menjadi viral dengan meme yang memukau. Mengingatkan kita pada ajaran Ki Hajar Dewantara. Keberadaan manusia tak boleh melupakan jati dirinya agar mampu: memanusiakan manusia.

Tadinya, dipikir itu hanya seruan sporadis semata. Tetapi, menilik tragedi kemanusian lain ternyata Rita dikenal dermawan dan memiliki kepekaan jiwa terhadap masalah-masalah sosial dalam dan luar negeri.

Tahun 2014, Rita menyumbang secara pribadi sebesar Rp 500 juta untuk kaum Muslim Gaza, Palestina. Alasannya ketika itu, Palestina memiliki ikatan bathin kuat terhadap Indonesia. Begitu pula sebaliknya.

Ia juga meminta para PNS menyumbang bantuan seikhlasnya sebagai bentuk solidaritas pada Muslim Gaza. Kepekaan Emine Erdogan, Ali bin Dachlan dan Rita Widyasari: satu serpihan kecil liontin-liontin pemimpin yang terserak.

Mereka menghentak kesadaran kita bagaimana contoh-contoh kecil memanusiakan manusia. Di tengah sengkarut kondisi global dan nasional yang menghantui kehidupan saat ini, masih ada pemimpin yang peduli.

Bahkan, peduli terhadap manusia-manusia yang amat jauh dari rumahnya. Barangkali saling mengenal saja tidak, antara mereka dan Muslim Rohingya. Tapi kepedulian tak pernah bisa dibatasi hanya dengan sebuah frase: saling mengenal.

Sebaliknya, mudah pula kita temui saat ini pemimpin yang justru bersikap tak peduli bahkan tak elok terhadap person atau kelompok yang dikenalnya.

Walau sama-sama berstatus pemimpin, tetap saja masih banyak yang karakter dan kepeduliannya bertolak belakang dengan tiga pemimpin yang kita sebut di atas.

Lihat saja pemimpin dari lingkup kecil. Tak perlu ibu negara atau kepala daerah. Tengok misalnya pemimpin di kantor. Bagaimana sikapnya pada anak buah yang notabene orang-orang yang dikenalnya. Bahkan kerja dengannya.

Ada yang bertipe apatis pada kehidupan anak buah, ada yang selalu curiga atau bahkan malah sering mencari-cari kesalahan anak buahnya. Orientasinya hanya memikirkan bagaimana jabatannya aman, syukur bisa naik ke level pemimpin berikutnya.

Jika anak buahnya berprestasi, tak pernah diapresiasi. Tapi ketika membuat satu kesalahan kecil, dilaporkan pada atasan yang lebih tinggi. Atau bahkan bagi tipe sangar, kesalahan itu diumumkan satu kantor.

Pemimpin seperti ini sungguh tak laik. Secara kemanusiaan, apalagi bagi perusahaan. Justru amat merugikan keduanya. Baik pada personal pemimpin terkait, jua pada perusahaannya. Jika Anda nahkoda perusahaan, person seperti itu akan membawa virus mengerikan.

Bagaimana bisa memimpin jika terhadap anak buahnya tak mampu menghargai. Dan percaya kah? Pemimpin-pemimpin ini begitu menggurita di banyak lini.

Tak hanya lingkup kantor. Dari tataran RT, kedinasan, sampai tataran lebih tinggi. Tak percaya? Kita runut mata rantai dan efek dominonya, ya.

Pemimpin yang kehilangan puncak cinta atau meminjam istilah Ibu Ritawidyasari sebagai memanusiakan manusia, ini bisa mengakibatkan bahaya laten menggurita.

Langsung atau tidak, mereka mewariskan sifat-sifat kepemimpinannya pada orang yang dipimpinnya. Pun bila itu dari pemimpin tataran lingkungan paling kecil, yakni ayah yang memimpin keluarga.

Jika seorang ayah selalu mencari kesalahan anaknya, tak pernah memberi apresiasi saat anaknya berhasil, sifat itu tertanam dalam jiwa anak. Warisan sifatnya terakumulasi, mengkristal dan pada akhirnya menyebar kemana-mana.

Mereka pun membawa hasil warisannnya ke sekolah, tempat bermain, atau lingkungan sosialnya. Akhirnya tak kuat hingga menimbulkan reaksi negatif sebagai pelampiasan. Atau kadang sekadar mencari perhatian. Sekadar ingin merasakan dihargai.

Sila tanyakan pada anak atau remaja jalanan yang melakukan aksi kriminalitas. Rerata mereka memiliki nilai-nilai tak menggembirakan dari pendidikan di rumah. Mewariskan sifat pemimpinnya dalam hal ini ayah, dan ditularkan kemana-mana.

Dalam observasi kecil-kecilan (2007-2015) di sejumlah daerah Indonesia, dari perkotaan, pelosok, pedesaan, pegunungan di Jawa sampai pedalaman Kalimantan: orang-orang yang tercebutlr dalam dunia kriminal memiliki pelbagai dendam.

Dendam sosial, dendam ekonomi atau bahkan dendam traumatik. Kebanyakan lahir dari warisan pendidikan di rumah. Naasnya, dendam itu seringkali terbawa sampai proses tumbuh kembangnya.

Bahkan ketika kelak ia bekerja dan menjadi pemimpin di kantor atau kepala daerah, warisan sifat itu masih melekat.

Sebab, puncak cintanya sudah sirna. Lupa bagaimana memanusiakan‚Äč manusia. Lupa bagaimana berempati. Lupa bagaimana menghargai. Kadang-kadang malah lupa pula bagaimana menjadi manusia.

Dan bangsa ini pun makin melupakan puncak cinta itu. Perbedaan yang substansinya rahmat, dijadikan caci maki, polarisasi, sampai pemutus hubungan silaturahmi.

Bangsa ini makin kehilangan tauladan. Kehilangan sosok yang memiliki, mewariskan dan menyebarkan puncak cinta: memanusiakan manusia laiknya Emine Erdogan, Ali bin Dachlan dan Rita Widyasari.

Atau mungkin seperti Anda, duhai pembaca. Yang selalu menyimpan puncak cinta dan berkenan berbagi kepada anak-anak bangsa ini.

Berkenan mewariskan serpihan liontin-liontin pemimpin seperti mereka, yang terserak dalam senyap maupun terang. Lantas mengajarkan pada kami lagi cara: memanusiakan manusia. Membunuh varian bentuk dendam.

Lantas memberi contoh pada kami, menyisakan bingkai ketauladanan yang cemerlang. Shalaallahu alaa Muhammad.

*) Pemerihati masalah sosial

********

Republika.co.id