Letusan Tambora dan Juni Bersalju di Jantung Dunia

0
54 views

Garut News ( Jum’at, 10/04 – 2015 ).

Asap solfatara keluar dari Doro Afi Toi atau gunung api kecil yang tumbuh di dasar kaldera Gunung Tambora di Dompu, Nusa Tenggara Barat, 25 Agustus 2014. Gunung Tambora meletus dahsyat pada 10 April 1815 menyisakan kaldera seluas 7 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer. (KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT).
Asap solfatara keluar dari Doro Afi Toi atau gunung api kecil yang tumbuh di dasar kaldera Gunung Tambora di Dompu, Nusa Tenggara Barat, 25 Agustus 2014. Gunung Tambora meletus dahsyat pada 10 April 1815 menyisakan kaldera seluas 7 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer. (KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT).

Di belahan utara, salju biasanya turun antara bulan Desember hingga Maret. Namun akibat letusan dahsyat Tambora 1815 lalu, salju pernah turun pada bulan Juni 1816.

Salju pada bulan musim panas itu adalah satu diantara sekian dampak salah satu letusan gunung terbesar sepanjang masa tersebut. Aerosol dan sulfat yang disemburkan Tambora ke atmosfer memicu pendinginan global.

Catatan Chester Dewey, profesor matematika dan ilmu alam di William College Massachusetts menyatakan, “kebekuan jarang terjadi pada musim panas, namun  kali ini di mana-mana beku.”

Catatan Dewey yang dikutip dalam publikasi Clive Oppenheimer di jurnal Progess in Physical Geology tahun 2003 tersebut menggambarkan kondisi cuaca pada 1816, tahun yang sering dijuluki tanpa musim panas.

“Tanggal 6 Juni suhu 44 derajat sepanjang hari dan beberapa kali turun salju. 7 Juni tidak begitu beku namun tanah begiru dingin dan air beku di mana-mana,” catatnya lagi.

Bukan hanya wilayah Massachusetts, pada 6 Juni 1816, salju turun di sejumlah wilayah Amerika Utara, termasuk jantung dunia New York, kemudian Albany, Maine, dan Dennysville. Di Quebec, Kanada, salju terakumulasi hingga ketebalan 30 cm dari 6-10 Juni 1816.

Cuaca dingin terjadi pula di Amerika Utara bagian selatan, meliputi Trenton, New Jersey, dan lainnya. Kondisi itu bertahan tiga bulan hingga panen pun gagal.

KR Briffa dan PD Jones melakukan analisis lingkaran pohon untuk menguak cuaca setahun setelah letusan Tambora di Eropa. Dalam publikasinya di jurnal Nature tahun 1992, dia menemukan bahwa musim panas tahun 1992 memang luar biasa dingin, terdingin sejak 1750.

Suhu musim panas di Eropa 1-2 derajat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1810-1819 dan 3 derakjat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1951-1970.

Tahun 1998, Briffa kembali memublikasikan makalah di Nature tentang efek Tambora pada pendinginan global. Ia menyatakan, Tambora menciptakan salah satu musim panas terdingin dalam 6 abad, kedua terdingin setelah tahun 1601 akibat letusan Huaynaputina di Peru.

Briffa menambahkan, Eropa juga mengalami musim dingin yang lebih banyak badai akibat letusan gunung yang kini tingginya tinggal 2.850 meter itu.

Suhu dingin mengakibatkan krisis terbesar di dunia barat pada era modern. Begitu Tambora meletus, suhu dingin menyebabkan kalahnya Napoleon Bonaparte. Selanjutnya, suhu dingin juga menyebabkan ternak kekurangan makanan, gagal panen, kelaparan, dan wabah.

Di Bima, abu letusan Tambora mencemari air. Akibatnya, manusia yang meminum terserang diare. Kuda-kuda juga mati.

Di Bengal, antara tahun 1816-1817, wabah kolera melanda. Sementara, wilayah North Carolina gagal panen. Dan, di New England, hewan ternak kekurangan makanan dan banyak yang mati. Orang-orang Wales kelaparan hingga harus berjalan jauh mencari makanan.

Demikianlah dampak letusan Tambora pada iklim dunia. Gunung api sanggup melumpuhkan, memengaruhi iklim dunia. Tapi, manusia lebih mampu lagi.

Emisi karena gunung berapi ditakir antara 0,15 – 0,26 gigaton per tahun. Namun, emisi karena manusia mencapai 35 gigaton per tahun.

Bukan tak mungkin kelaparan, penyakit, dan kerugian besar terjadi akibat perilaku manusia yang memengaruhi iklim.

*******

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here