Letusan Samalas Pada Babad Lombok Melumpuhkan Dunia

Lombok, Garut News ( Kamis, 03/10 ).

Pendakian sisi timur Gunung Barujari di kaldera Gunung Rinjani (3.726 m), Jumat (30/9/2011). Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan danau. | KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT
Pendakian sisi timur Gunung Barujari di kaldera Gunung Rinjani (3.726 m), Jumat (30/9/2011). Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan danau. | KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT

Gunung Rinjani Longsor, Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah2 rubuh, dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak mati.

Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret batu gunung hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit.

Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit.

Di Nangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun.

Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik.

Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing.

Lontar Jatiswara di balai dusun adat kaki Gunung Rinjani di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Sabtu (24/9/2011). Lontar berisi hikayat para raja zaman dahulu dan Gunung Rinjani.

KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Lontar Jatiswara di balai dusun adat kaki Gunung Rinjani di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Sabtu (24/9/2011). Lontar berisi hikayat para raja zaman dahulu dan Gunung Rinjani.
KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Lontar Jatiswara di balai dusun adat kaki Gunung Rinjani di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Sabtu (24/9/2011). Lontar berisi hikayat para raja zaman dahulu dan Gunung Rinjani.

Demikian beberapa bait Babad Lombok mengisahkan kengerian letusan Gunung Samalas di kompleks Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Selama bertahun-tahun, babad ini nyaris dilupakan dan mungkin dianggap sebagai dongeng belaka.

Namun, penelitian sejumlah ahli gunung api baru-baru ini memastikan letusan Gunung Samalas sebagaimana digambarkan dalam babad itu, ternyata fakta.

Bahkan, dampak dari letusan Gunung Samalas terjadi pada 1257 itu melampui imajinasi penulis babad ditulis pada daun lontar ini.

Letusan Samalas berdampak global, dan diduga memicu kelaparan dan kematian massal di Eropa setahun setelah letusan.

“Ditemukannya ribuan kerangka manusia di London, dipastikan berasal tahun 1258 kemungkinan berkaitan erat dengan dampak global dari letusan Gunung Samalas pada 1257,” seperti ditulis jurnal PNAS edisi akhir September 2013.

Tulisan jurnal ini hasil penelitian 15 ahli gunung api dunia.

Dari Indonesia yang terlibat Indyo Pratomo, geolog dari Badan Geologi Bandung, Danang Sri Hadmoko dari Geografi Universitas Gadjah Mada dan  Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Sedangkan dari luar negeri meliputi 12 ahli dari pelbagai kampus ternama di Eropa, di antaranya Frank Lavigne dari Université Panthéon-Sorbonne, Jean-Philippe Degeai dari Université Montpellier, Clive Oppenheimer dari University of Cambridge, Inggris, dan sejumlah ahli lainnya.

Mereka awalnya melacak letusan Samalas ini dari jejak rempah vulkanik terdapat di lapisan es kutub utara.

Sebagaimana letusan Tambora menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa sehingga menyebabkan kegagalan panen, dan kelaparan pada 1816 atawa setahun setelah letusan, letusan Samalas diduga juga memicu permasalahan serupa, bahkan mungkin lebih dahsyat.

OPEN CYCLE MAP Peta kawasan Gunung Rinjani di Lombok. Rinjani bagian dari Gunung Samalas meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257.

Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan danau.

Melumpuhkan dunia

OPEN CYCLE MAP Peta kawasan Gunung Rinjani di Lombok. Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan danau.
OPEN CYCLE MAP Peta kawasan Gunung Rinjani di Lombok. Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan danau.

Surono mengatakan, kedahsyatan letusan Samalas berskala tujuh sulit dibayangkan.

“Letusan Merapi 2010 dengan skala empat saja bikin repot banyak orang. Skala tujuh sama dengan sekitar 1.000 kali kekuatan letusan Merapi 2010 itu,” katanya.

Menurut Surono, Gunung Samalas mempunyai kantung fluida (magma, gas, dan uap) sangat besar, dan letusannya di masa lalu menimbulkan terbentuknya kawah raksasa Segara Anak.

Di tepi kawah itu, kini muncul Gunung Baru Jari, terus tumbuh meninggi.

Tahun 2012 lalu, Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas sempat mengarungi kaldera Segara Anak, dan mendaki Baru Jari.

“Gunung Rinjani masa kini dengan Baru Jari, terdekat dengan Samalas, sehingga perlu dilakukan penelitian apakah Rinjani juga mempunyai volume kantung fluida sama dgn Samalas, dan mempunyai jenis magma sama,” katanya.

Apabila mempunyai kesamaan, maka terdapat kemungkinan Gunung Rinjani memiliki sifat-sifat sama dengan Samalas.

“Kini kita hanya berharap Rinjani atawa Baru Jari tak meletus sedasyat Salamas. Namun alam tetap alam, mempunyai hukumnya sendiri,” katanya.

Apa terjadi dimasa lalu, sangat mungkin berulang kembali.

“Beberapa gunung api Indonesia seperti Tambora, Krakatau dan terakhir Samalas terbukti menghasilkan letusan dasyat, bukan saja merepotkan masyarakat sekitarnya, tapi merepotkan masyarakat dunia. Di masa akan datang, bisa saja terjadi pengulangan,” katanya.

Menurut Surono, jika letusan sedahsyat Samalas terjadi kembali di zaman modern seperti saat ini, transportasi udara di sekuruh dunia bakal lumpuh.

Paceklik bisa terjadi berkepanjangan.

“Kita tak berharap itu terjadi. Namun kesiapan terhadap hal terburuk tetap kudu dilakukan menekan risiko bencana. Dengan tetap melakukan penelitian dan pemantauan agar bisa membuat skenario dan peringaatn akurat mengurangi risiko bencana,” katanya.

Surono mengajak kita kudu mengikuti, dan beradaptasi secara cerdas terhadap polah alam, lantaran tak mungkin secara empiris perilaku alam itu diubah. (Ahmad Arif)

Editor : Fikria Hidayat

Related posts