Lembaga Konservasi Garut Belum Didukung Jalan Memadai

by

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Sabtu, 21/11 – 2015 ).

Meski Kedua Matanya Buta, "Gadis Belia" Ini Kini Berkondisi Semakin Sehat dan Tegar Di Karantina Taman Satwa Cikembulan.
Meski Kedua Matanya Buta, “Gadis Belia” Ini Kini Berkondisi Semakin Sehat dan Tegar Di Karantina Taman Satwa Cikembulan, Sabtu (21/11-2015).

Foto berita Garut News akhir pekan ini, Sabtu (21/11-2015), juga menampilkan kondisi memprihatinkan sarana ruas badan jalan selama ini melintasi Taman Satwa Cikembulan di wilayah Kecamatan Kadungora, Garut, Jawa Barat.

Lantaran masih belum didukung kualitas pembangunan infrastruktur memadai, sehingga selain relatif sempit juga kerap ditemukan aspal berlubang, yang mengesankan hanya “disumpal” dengan nproses penambalan ala kadarnya.

Padahal memiliki Taman Satwa hingga kini masih satu-satunya di Provinsi Jawa Barat, merupakan lembaga konservasi dinilai banyak kalangan representatif, bahkan total lintasan sepanjang sekitar enam kilometer tersebut, bisa langsung menjangkau potensi wisata Situ Cangkuang.

Inilah Pendatang Baru Harimau Tatar Sunda.
Inilah Pendatang Baru Harimau Tatar Sunda.

Kepala “Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam” (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat, Dr Ir Syivana Ratina, MSi menilai penting dan strategisnya pula keberadaan, serta eksistensi pengelolaan Taman Satwa Cikembulan itu.

Sebab lembaga konservasi ini, banyak terbukti membantu mengonservasi malahan bisa menunjang fokus “Rencana Strategis” (Renstra) 2014-2019 BBKSDA provinsi setempat, berupa peningkatan 30 persen populasi satwa langka dilindungi Undangundang RI.

Kembali Tegar Meski Buta dan Semula Didera Banyak Luka.
Kembali Tegar Meski Buta dan Semula Didera Banyak Luka.

Kepada Garut News di Garut, Rabu lalu, Syivana Ratina mengemukakan pengelolaan Taman Satwa Cikembulan, juga antara lain berperan aktif pada proses penangkaran maupun pembudidayaan (breeding).

Serta proses pemulihan termasuk pemeliharaan kesejahteraan satwa terlantar, lantaran terusik dari habitatnya.

Sehingga taman satwa ini, tak hanya menjadi sarana rekreasi yang edukatif.

Melainkan juga sebagai lembaga konservasi ragam satwa langka termasuk yang dilindungi Undangundang RI, ungkap Kepala BBKSDA Jabar disela pertemuan persiapan “Survey dan Inventarisasi Keanekaragaman Hayati di Kawasan Darajat, Cagar Alam Gunung Papandayan Garut”.

Meski Kini Berkondisi Sehat, Namun Masih Terus Dipulihkan di Karantina Taman Satwa Cikembulan.
Macan Kumbang Ini Meski Kini Berkondisi Sehat, Namun Masih Terus Dipulihkan di Karantina Taman Satwa Cikembulan.

“Sangat ‘welcome’ dan diapresiasi positip” kegiatan survey diagendakan berlangsung empat bulan, juga sangat senang hati, sebab bakal dimilikinya data base yang jelas mengenai populasi satwa pada habitatnya itu,” ujar Syivana Ratina.

Rangkaian helatan itu, terselenggara atas jalinan kerjasama BKSDA, Chevron, Kehati, dan Elang Indonesia, dengan cakupan kajian Fauna berupa Mamalia Besar (Ordo Carnivora, Ungulata, dan Primata, Burung, serta Hertefauna, terutama pada populasi 25 jenis satwa prioritas.

Cenderawasih Jantan Juga Bisa Bertengger pada Boboko, Bukan Mencari Kejo (nasi), Melainkan Belajar Mengenali Sarana Bertelur.
Cenderawasih Jantan Juga Bisa Bertengger pada Boboko, Bukan Mencari Kejo (nasi), Melainkan Belajar Mengenali Sarana Bertelur.

Sedangkan capaian kegiatannya, bisa diperolehnya data habitat penting untuk satwa, dan data spesies kunci yang terdapat di Darajat.

Masih menurut Syivana Ratina, fokus upaya peningkatan 30 persen populasi satwa pada habitatnya masing-masing, merupakan pekerjaan berat.

Karena ancaman terhadap habitat satwa pun ada dimana-mana, sehingga pihaknya senantiasa membangun komunikasi, termasuk intens menyelenggarakan sosialisasi.

Serta sinergitas dengan beragam pemangku kewajiban sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Cenderawasih Betina Bercengkrama Dengan Jenis Burung Lainnya.
Cenderawasih Betina Bercengkrama Dengan Jenis Burung Lainnya.

Lantaran gangguan terhadap hutan termasuk habitat satwa, hingga kini penyebabnya didominasi oleh ulah manusia itu sendiri, bebernya antara lain menambahkan.

Pada kesempatan ini antara lain dihadiri Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut pada BBKSDA Jabar, Toni Ramdhani

“Penyelamatan Macan Tutul”

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Ir Djundjun Nurzaman, MM katakan, Taman Satwa Cikembulan kembali mendapat kiriman titipan seekor macan tutul dari Gunung Sawal Ciamis, yang hingga kini masih pada proses penyelamatan, sekaligus pemulihan di karantina taman satwa tersebut.

Sayang Anak, Melindungi, Memeluk, dan Membelainya.
Sayang Anak, Melindungi, Memeluk, dan Membelainya.

Menyusul ditemukannya seekor macan tutul betina berkondisi kesehatan sangat memprihatinkan, diprediksi satwa berusia satu tahun baru disapih dari induknya itu, kemungkinan tersisih dari habitatnya akibat kedua matanya buta, bahkan nyaris sekujur wajah dan badannya sarat luka.

Sehingga kini masih diselamatkan dan dipulihkan kondisinya di Taman Satwa Cikembulan, kata Djundjun Nurzaman.

Dikatakan, survey dan inventarisasi membantu KSDA dalam mencari, dan memetakan populasi di alam, khususnya satwa yang dilindungi, katanya.

Kondisi Sarana Jalan Memprihatinkan.
Kondisi Sarana Jalan Memprihatinkan.

Manager Taman Satwa Cikembulan, Rudy Arifin, SE mengemukakan meski macan tutul ini penuh cedera, namun pihaknya tetap konsisten dengan komitmennya berupaya keras memulihkan, merawat serta memeliharanya.

Kini kondisi satwa tersebut, bisa dihentikan pasokan infusannya, malahan telah dapat dengan sangat lahap mengonsumsi setiap disajikan makanan, mengindikasikan kian beranjak pulih.

Kehadiran baru macan tutul itu, menjadikan Taman Satwa Cikembulan sekarang memiliki koleksi tujuh macan tutul.

Disumpal Tambal Sulam Ala Kadarnya.
Disumpal Tambal Sulam Ala Kadarnya.

Termasuk seekor macan kumbang, dua di antaranya berjenis kelaman betina, ungkap Rudy Arifin, antara lain menambahkan.

*********

 

 

 

 

 

********