Lapangan Usaha Komunikasi Garut Tingkatkan Perilaku Konsumtif

0
17 views
Kondisi Sumber Air Bersih yang Juga Memasok MCK di Kecamatan Garut Kota, Masih Memprihatinkan.

“Masih Banyak Penduduk Berperilaku BABS”

Garut News ( Ahad, 05/11 – 2017 ).

 

Kondisi Sumber Air Bersih yang Juga Memasok MCK di Kecamatan Garut Kota, Masih Memprihatinkan.

********* Informasi dan Komunikasi, satu di antara 21 lapangan usaha yang memberikan kontribusi angka paling besar mencapai 12,86 terhadap capaian LPE maupun “Produk Domestik Regional Bruto”(PDRB) 5,85 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, sepanjang 2016.

Namun berdasar kajian data BPS pada tingginya lapangan usaha Informasi dan Komunikasi tersebut, antara lain  mengindikasikan semakin meningkatkan perilaku konsumtif masyarakat hingga ke pelosok desa bahkan perkampungan, mereka lebih dominan berbelanja telepon genggam beserta pulsanya.

Daripada berupaya memenuhi kebutuhan vital yang bisa menunjang derajat kesehatan mereka, terbukti masih banyak Warga Garut yang belum memiliki septic tank. Sehingga setiap hari masih banyak penduduk berperilaku “Buang Air Sembarangan” (BABS).

Berpotensi Bisa Terserang Ragam Jenis Penyakit.

*********** Menyusul hingga kini intensitas kesadaran warga kabupaten itu memelihara kesehatan diri dan lingkungan, sehingga tak  “Buang Air Besar Sembarangan” atawa “Open Defecation Free” (BABS/ODF) masih memprihatinkan.

Terbukti dari 442 desa/kelurahan pada 42 wilayah kecamatan di kabupaten tersebut, hanya 30 desa bisa dinyatakan penduduknya terbebas dari perilaku BABS. Malahan pada wilayah Kecamatan Garut Kota pun hanya terdapat satu kelurahan dideklarasikan warganya bebas dari BABS baru-baru ini, yakni Kelurahan Margawati.

“Setelah kita intervensi, sebenarnya ada peningkatan kesadaran warga tak BABS meski masih minim. Pada 2014 lalu, desa masuk bebas BABS itu 14 desa. Tetapi setelah diintervensi, tahun ini ada sekitar 30 desa bebas BABS,” ungkap Kepala Dinkes kabupaten setempat Teni Sewara Rifai belum lama ini.

Desa bebas BABS mendapatkan bantuan pembangunan IPAL Komunal, sebelumnya daerah rawan air bersih dan rawan diare. Di antaranya di wilayah Kecamatan Malangbong, Kersamanah, Balubur Limbangan, dan Kecamatan Cibatu.

Karena itu, guna mendukung peningkatan kesadaran masyarakat agar tak BABS, maka 30 desa bakal mendapat bantuan “Instalasi Pengolahan Air Limbah” (IPAL) Komunal.

Dia mengaku prihatian masih banyaknya masyarakat berperilaku BABS. Lantaran sangat berpotensi bisa mendatangkan serangan beragam jenis penyakit semakin terbuka lebar. Terutama diare.

Dinkes setempat mencatat pula, sekitar 41% Penduduk Garut masih terbiasa BABS. BABS langsung ke sungai, kebun, pematang atau saluran air di sawah, pinggiran pantai, selokan maupun tempat lain tak memenuhi persyaratan kesehatan.

Kepemilikan atau penyediaan septic tank penampung kotoran pun masih belum merata, katanya pula.

Kondisi ini juga diperparah persoalan limbah biologis domestik rumah tangga pun, selama ini menjadi persoalan besar terjadinya pencemaran mutu air Sungai Cimanuk melintasi kawasan Kota Garut.

Berdasar hasil pengukuran DLHKP, pencemaran limbah biologis domestik rumah tangga pada lintasan aliran sungai Cimanuk mencapai 60 persen dari total pencemaran limbah di sungai terbesar Garut ini.

“Mutu air Cimanuk masih masuk katagori kelas dua. Bisa untuk pengairan lahan pertanian, tetapi tak sebagai air baku air bersih yang tak bisa dikonsumsi langsung”.

Karena itu capaian PDRB 5,85 hingga akhir 2016 atau meningkat 1,34 dibandingkan periode sama 2015 silam yang bertengger 4,51 jangan dulu menjadikan berpuas diri atau bangga.

**********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.