Lamban Menyiapkan Bandara

Garut News ( Selasa, 14/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Pesawat. (Foto : John Doddy Hidayat ).
Ilustrasi, Pesawat. (Foto : John Doddy Hidayat ).

Pemakaian Bandara Halim Perdanakusuma untuk penerbangan komersial merupakan terobosan.

Kepadatan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta akan sedikit berkurang.

Tetapi solusi ini tak akan bertahan lama.

Pemerintah kudu segera membangun bandara baru mengantisipasi pertumbuhan jumlah penumpang pesawat.

Maskapai penerbangan Citilink menerbangkan pesawat lewat Bandara Halim beberapa waktu lalu.

Anak perusahaan PT Garuda Indonesia ini membuka delapan penerbangan.

Bulan depan, beberapa maskapai lain menyusul.

Direncanakan, Bandara Halim mampu menampung 72 pergerakan pesawat dalam sehari atawa sekitar 10 persen dari kapasitas Bandara Soekarno-Hatta.

Hanya, problem kepadatan bandara kita belum tuntas diatasi.

Pemerintah tetap kelabakan menghadapi pertumbuhan jumlah penumpang pesawat mencapai lebih dari 10 persen dalam setahun.

Pada 2012, misalnya, jumlah penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta sekitar 57 juta.

Angka ini melonjak menjadi 63 juta pada tahun lalu, dan diperkirakan mencapai lebih dari 70 juta pada tahun ini.

Padahal kapasitas normal bandara dibangun 1985 itu hanya 22 juta penumpang.

Pemerintah berencana meningkatkan kapasitas Soekarno-Hatta sehingga sanggup menampung hingga 70 juta penumpang per tahun.

Namun rencana meniru Bandara Heathrow di London ini tak mudah dilaksanakan.

Tata letak terminal Soekarno-Hatta menyulitkan pengembangannya.

Ini beda dengan Bandara Heathrow dibangun melalui perencanaan matang dengan mengantisipasi pertumbuhan jumlah penumpang.

Masalah pelik itu, tak muncul apabila pemerintah menyiapkan bandara baru sejak jauh hari.

Problemanya bukan pada perencanaan, melainkan pada pelaksanaan.

Hingga sekarang pemerintah belum memulai pembangunan bandara di Karawang, Jawa Barat, diproyeksikan menampung 100 juta penumpang setiap tahun.

Rencana ini baru masuk Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 69/2013 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.

Lewat peraturan itu, Menhub menetapkan bandara internasional dan domestik di setiap provinsi.

Di Jawa Barat, misalnya, Husein Sastranagara dan Karawang dijadikan bandara internasional.

Adapun Cakrabhuwana (Cirebon) dan Nusawiru (Ciamis) digunakan penerbangan domestik.

Hanya, sebagian besar rencana itu baru di atas kertas.

Kegagalan pemerintah menyiapkan infrastruktur penerbangan itu bagaikan bom waktu.

Bukan hanya Bandara Soekarno-Hatta akan mengalami kemacetan lalu lintas penerbangan, tetapi juga bandara lain.

Lantaran, sepuluh dari 12 bandara di bawah PT Angkasa Pura II kini melebihi kapasitas.

Beban semua bandara ini, semakin berat sebab jumlah penumpang pesawat semakin meningkat setiap tahun.

Bahkan total jumlah penumpang pesawat di seluruh Indonesia tahun ini diprediksi mencapai 100 juta.

Pemerintah pusat, dan daerah semestinya segera menyelesaikan masalah serius itu. *

***** Opini/Tempo.co

Related posts