Lahan Kritis Garut Terbilang Luas

0
132 views

“Dari target penanaman 12 juta pohon, hingga Kamis (18/12-2014) tertanam 4,5 juta pohon,” kata Sutarman, ketus bergegas menutup pintu mobil dinasnya, Jum’at (19/12-2014).

Garut News ( Jum’at, 19/12 – 2014 ).

Sutarman. (Foto : John Doddy Hidayat).
Sutarman. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kondisi lahan kritis luar kawasan hutan di Kabupaten Garut hingga kini masih terbilang luas. Kudu terdapat penanganan serius juga berkelanjutan terhadap kondisi tersebut.

Kepala Dinas Kehutanan kabupaten setempat Sutarman katakan, berdasar survei lapangan Kemenhut 2013, luas lahan kritis di Garut mencapai sekitar 29.528,56 hektare.

Sedangkan, luas lahan kritis terluas di wilayah Kecamatan Balubur Limbangan sekitar 3.850,81 hektare, kemudian Malangbong (2.356,89 hektare).

“Lahan kritis seluas 29.528,56 hektare itu berada di luar kawasan hutan atawa lahan milik,” kata Sutarman.

Selain lahan kritis, bahkan pada sebelas kecamatan terdapat lahan sangat kritis bertotal luas mencapai sekitar 3.558,99 hektare.

Lahan sangat kritis terluas di wilayah Kecamatan Pasirwangi mencapai sekitar 1.493,12 hektare.

Dikemukakan, beragam langkah dilakukan Dishut dalam upaya menangani masalah lahan kritis itu. Antara lain sosialisasi, rehabilitasi hutan, dan membentuk kelompok Pengamanan Hutan Swakarsa di setiap desa/kecamatan berbatasan hutan.

Termasuk pembagian bibit-bibit pohon penghijauan kepada masyarakat, katanya.

“Dari Oktober hingga kini, kita membagikan sekitar 4,5 juta bibit pohon untuk ditanam. Jenis pohonnya beragam, antara lain gemelina, eukaliptus, jabon, mahoni, gelodogan, sengon, pilisium, dan buah-buahan. Mudah-mudahan masih bisa bertambah lagi,” ungkap Kabid Penatagunaan dan Rehabilitasi Hutan Acep Hamdan Nugraha menambahkan.

Disebutkan, lahan kritis merupakan lahan atawa tanah saat ini tak produktif lantaran pengelolaan dan penggunaan tanah, tidak atau kurang memerhatikan syarat-syarat konservasi tanah, dan air.

Kata dia, lahan kritis salah satu indikator adanya penurunan kualitas lingkungan sebagai dampak dari pelbagai jenis pemanfaatan sumber daya lahan, yang kurang bijaksana.

“Lahan kritis dan sangat kritis terutama berada di kawasan sentra pertanian hortikultura akibat pengelolaan lahan tak memerhatikan kaidah konservasi tanah. Selain tak ada tegakan, kebanyakan lahan pertanian ini tak menerapkan terasiring yang benar. Kondisi seperti ini pula menjadi salah satu faktor terjadinya banjir bandang di Cikajang belum lama ini,” kata dia.

********

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here