Lagu Anak

0
66 views

Purnawan Andra, staf Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemendikbud

Garut News ( Kamis, 04/05 – 2015 ).

Ilustrasi Sarana Bermain Anak di Pedesaan Garut, Jawa Barat. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi Sarana Bermain Anak di Pedesaan Garut, Jawa Barat. (Foto : John Doddy Hidayat).

Harus diakui, lagu anak di industri musik Tanah Air saat ini tidak mendapat porsi penting. Setelah para penyanyi cilik macam Trio Kwek-kwek, Joshua, Tasya, dan Sherina beranjak dewasa, tidak banyak lagi muncul lagu-lagu dengan nada dan lirik yang sesuai dengan kemampuan anak dalam mengapresiasi musik.

Anak-anak masa kini tidak lagi belajar membaca dan berhitung, bermain dan menari, serta mengembangkan logika, nalar, dan emosi melalui lagu-lagu yang sesuai dengan dunia mereka.

Mereka justru lebih mengenal lagu-lagu populer milik band Wali, Republik, hingga Cita Citata yang bertema kerinduan, jatuh cinta, hingga perselingkuhan.

Hal ini tentu saja tidak pas untuk dikonsumsi telinga dan imajinasi anak.

Anak-anak belum sepantasnya mengerti istilah asmara dan cinta, apalagi memahami cerita “Bang Toyib yang tak pulang-pulang”, banyak minum “oplosan” karena pengkhianatan hati kekasihnya. Judul, lirik, ataupun tema lagu-lagu semacam ini membuat anak menjadi dewasa sebelum waktunya.

Lagu-lagu musikus sekarang berada dalam arus komersialisasi budaya yang cenderung mengikuti tren konsumsi masyarakat. Arus ekonomi pasar cenderung dibaca sebagai pasar bagi musik industri di Indonesia.

Masyarakat, terutama anak-anak, belum ditempatkan sebagai entitas masa depan bangsa yang perlu disokong dengan nilai-nilai sosial budaya yang reflektif dan kontekstual.

Akibatnya, lagu-lagu itu mengalami degradasi nilai sebagai sebuah ekspresi musikal dan produk kebudayaan. Padahal musik, dengan tempo, dinamika, ritme, hingga alur melodinya, merupakan sebuah komposisi yang mampu mempengaruhi psikologi seseorang.

Kita tahu musik klasik menjadi sarana terapi kesehatan bagi janin ibu hamil. Lirik lagu juga bagai pedang bermata dua. Ia menjadi pilihan kata yang ekspresif serta mampu merangkum maksud dan menyampaikan suatu pesan sekaligus.

Contohnya, musik dan lirik lagu-lagu dari grup musik The Doors dengan Jim Morisson-nya menjadi suatu bentuk gerakan politik (dan) kebudayaan pada era 1970-an.

Karena itu, lagu anak dengan lirik yang sesuai dengan usia dan psikologi anak akan mampu membantu membiakkan perkembangan mental mereka secara positif. Dengan kemasan yang tepat dan cerdas, berbagai tema bisa disampaikan, dari persahabatan, kasih sayang, alam lingkungan, hingga patriotisme.

Lagu anak juga bisa menjadi media pembelajaran dengan mengangkat tema kontekstual yang berkaitan dengan problema anak masa kini, misalnya soal pentingnya mengucap kata “tolong” dan “terima kasih”.

Sebuah lagu bisa menjadi kekuatan penting bagi proses konstruksi kesadaran dan identitas anak sebagai pribadi sekaligus sebagai bagian dari masa depan bangsa. Dengan potensialitasnya, musik hendaknya tidak melupakan sebuah fase produktif masa kanak-kanak yang ceria, murni, dan penuh warna.

Jangan sampai lagu anak terpinggirkan dalam logika yang hanya memandang musik sebagai sebuah industri potensial yang mampu menjaring massa dan kapital. Sebuah lagu anak perlu dipahami sebagai sebuah kekuatan musikal dan penanda kebudayaan yang potensial.

Bahkan, lebih jauh, musik sepantasnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi kebudayaan nasional demi masa depan bangsa yang lebih baik, bukan hanya demi bentuk banalitas budaya seperti yang terjadi selama ini.*

*********

Kolom/artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here