“Kumis Tebal” Masih Belenggu Bantaran DAS Cimanuk

by
Mencari Ikan di Pinggiran Bibir Sungai Cimanuk.

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 01/10 – 2017 ).

Mencari Ikan di Pinggiran Bibir Sungai Cimanuk.

Fenomena “Kumis Tebal” (Kumuh, Miskin, dan Terbelakang), ternyata hingga kini pascabencana puncak amuk Sungai Cimanuk, masih membelenggu sebagian besar penduduk bermukim di bantaran sepanjang bibir lintasan “Daerah Aliran Sungai” (DAS) tersebut.

Kondisi berdenyut nadi kehidupan sosial ekonomi memilukan, yang mendera mereka itu. Menjadikannya nyaris tak bisa beranjak dari zona rawan banjir dan penyakit di Perkampungan Cimacan, Sindangheula, serta pada zona lintasan lainnya.

Dijadikan Pula Wahana Bermain Anak-Anak.

Meski “asa” atawa harapan bisa “meretas” maupun menepis kemiskinan selama ini dialaminya, sekaligus keinginan bisa “menggedor” ragam ketakadilan pun, justru malahan menjadikan ketergantungan pada bantuan juga penambangan pasir, dan batu sungai.

Dengan pelbagai keterbatasan sumber daya, mereka sepertinya hendak kemana lagi mencari nafkah, memenuhi kebutuhan pokok, nasi dengan lauk-pauk ala kadarnya.

Belum Bisa Sepenuhnya Wujudkan Sungai Cimanuk Menjadi Berkah.

Kendati selama ini pun, dipastikan memahami besarnya potensi ancaman bahaya banjir bandang luapan sungai ini, bisa terjadi setiap saat.

Namun desakan segera pemenuhan kebutuhan sandang, dan pemukiman dari sisa serpihan pemenuhan kebutuhan “kampung tengah” atawa perut.

Menjadikannya pula dinamika peri kehidupan yang di bawah standar.

Cimanuk Pascabencana Banjir Bandang.

Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjelang akhir 2014 atau dua tahun sebelum banjir bandang Sungai Cimanuk, juga terjadi bencana sosial tragedi kemanusiaan yang sangat miris dan memalukan.

Sedikitnya 24 warganya menjadi korban lantaran menenggak “minuman keras” (miras) oplosan, bahkan sekitar 17 korban di antaranya meregang nyawa, tewas mengenaskan.

Mereka yang bisa selamat amat-sangat memerlukan solusi, membutuhkan pencerahan dan proses pembelajaran dari siapa pun yang peduli.

Demikian pula bagi ratusan kepala keluarga atawa ribuan penduduk, yang menjadikan kawasan berbahaya menjadi habitat wahana kehidupannya.

 

Agustus 2015, Ketika Sungai Cimanuk Diranggas Kekeringan.

Sehingga Kepedulian mewujudkan masyarakat berdaya dan mandiri, juga hendaknya bisa dilakukan para pemangku kewajiban, yang kerap selama ini pula hanya acap memanfaatnya untuk mendulang suara menjelang Pileg maupun Pilkada hingga Pilkades.

Mendesak segera mengemas kebijakan yang paripurna, agar kabupaten ini bisa terhindar dari ragam bencana, seperti halnya antara lain pernah terjadi bencana sosial berupa sempat terdapatnya budidaya tanaman ganja, serta merebak maraknya penyalahguna Narkoba, serta zat adiktif lainnya.

********