Kukang Jawa, Si Pemalu Nyaris Punah

Bandung, Garut News ( Selasa, 22/04 – 2014 ).

Pada Kukang ada Radio. (Foto: Ist).
Pada Kukang ada Radio. (Foto: Ist).

Kian sedikitnya populasi Kukang Jawa lantaran maraknya perdagangan ilegal satwa liar dan terganggunya habitat. 

Banyak penebangan bambu dilakukan tanpa disertai penanaman bambu kembali.

“Sehingga tempat tinggal kukang semakin berkurang,” ujar  Koordinator Lapangan Little Fireface Project, Denise Spaan pada diskusi mingguan di sekretariat AJI Bandung akhir pekan ini.
Denise katakan tempat hidup satwa dijuluki Si Malu-malu ini, di pepohonan terutama bambu.

Kukang bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya menggunakan tangan.

Jika kukang kudu turun ke atas tanah, mereka langsung berlari cepat seperti tikus.

Hewan memiliki masa hidup 20-25 tahun tersebut dinilai tak bertahan lama jika tinggal di dataran.

“Untungnya mereka memiliki kamuflase bagus menyerupai pohon bambu, dan dedaunannya,” kata Denise.

Denise Spaan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Denise Spaan. (Foto: John Doddy Hidayat).

Berdasar penelitian Profesor Anna Nekaris, Manajer Konservasi Primata Little Fireface Project, Kukang Jawa termasuk hewan di ambang krisis sejak November 2013.

Hal tersebut didukung data International Union for Conservation of Nature, menyantumkan Kukang Jawa di daftar red list-nya.

Upaya konservasi Kukang Jawa, komunitas Little Fireface Project, mengamati kehidupan 15 ekor satwa dewasa ini di Garut, Jawa Barat.

Michael. (Foto: John Doddy Hidayat).
Michael. (Foto: John Doddy Hidayat).

Selain memakan belalang, tikus, dan burung, kukang senang memakan getah pohon Jengjen, dan meminum sari madu dari bunga Kaliandra.

Bisa dikatakan kukang berjasa pada pembasmian hama pertanian, dan penyerbukan di lingkungan sekitarnya.

Denise menuturkan, pihaknya mengadakan pembelajaran tentang kukang pada para petani, dan anak-anak di daerah konservasi.

Kami ingin masyarakat memahami, katanya,  betapa pentingnya keberadaan kukang bagi kehidupan mereka.

 

 

 

*******

FATHIMAH SALMA ZAHIRAH/Tempo.co

Related posts

Leave a Comment