Kota Bawah Tanah Terbesar di Turki Bisa Menampung 20.000 Orang

0
11 views

Garut News ( Jum’at, 03/04 – 2015 ).

Cappadocia pernah memeiliki kota bawah tanah yang bisa menampung 20.000 orang.. (SHUTTERSTOCK).
Cappadocia pernah memeiliki kota bawah tanah yang bisa menampung 20.000 orang.. (SHUTTERSTOCK).

Para pekerja konstruksi bangunan telah menemukan puing-puing tempat persembunyian bangsa Cappadocia, sebuah wilayah di Turki yang terkenal dengan temuan rumah-rumah bercerobong, gereja, dan permukiman zaman dulu yang sering kali ditemukan penduduknya selama berabad-abad.

Puing-puing kota tersebut ditemukan di area kastil-kastil zaman Kekaisaran Romawi Timur di Nevsehir.

Kawasan itu memang masih belum dijelajahi lebih lanjut, tetapi para peneliti menduga bahwa luasnya melampaui Derinkuyu, kota bawah tanah lainnya di kota Cappadocia yang mampu menampung setidaknya 20.000 orang.

Pada tahun 2013, para pekerja konstruksi menemukan sebuah akses menuju terowongan berlampu yang menuntun mereka ke ruang-ruang bawah tanah dengan banyak terowongan.

Temuan itu kemudian mereka laporkan kepada ahli-ahli arkeolog dan geofisika sehingga proses investigasi pun segera dilakukan.

Dari suatu dokumen berumur 300 tahun yang dibuat oleh pemerintah lokal dan pemerintah resmi Ottoman, dikatakan bahwa kawasan temuan tersebut lokasinya berdekatan dengan 30 terowongan air utama di kawasan Cappadocia. Dari situlah penelitian berlanjut.

Hingga pada tahun 2014, terowongan tersebut menuntun mereka pada penemuan ruangan-ruangan yang diduga berfungsi sebagai dapur, tempat menyimpan wine, ruang kapel, tangga-tangga, dan bezirhane, alat yang digunakan sebagai generator pembangkit listrik untuk menerangi seluruh kota.

Jika bahaya datang, rakyat Cappadocia akan turun ke dalam tanah, kemudian memblokade semua akses masuk ke dalam kota dengan pintu-pintu bulat yang terbuat dari batu.

Kehidupan mereka selama berada di bawah tanah aman dengan cukupnya persediaan udara dari lubang udara dan terowongan air. (Jennifer Pinkowski/National Geographic).

********

Editor : Tri Wahono
Sumber : National Geographic Indonesia/Kompas.com