Kosmopolis

0
10 views

Ilustrasi : Muhammad Erwin Ramadhan

Garut News ( Ahad, 22/11 – 2015 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Kota besar yang terbentang, kosmopolis yang membuat tiap orang jadi seorang asing dan sekaligus tamu yang bebas di sudut yang tanpa alamat mungkin itulah yang membuat Paris dan New York tak mudah dilupakan.

“Tak pernah ada akhir apa pun bagi Paris, dan kenangan tentang tiap orang yang pernah tinggal di dalamnya berbeda dari kenangan tentang yang lain. Kita selalu kembali kepadanya….”

Hemingway menuliskan itu dalam A Moveable Feast, sebuah nostalgia tentang Paris tahun 1920-an. Paris-nya adalah Paris “ketika kami melarat dan bahagia”.

Naskah buku itu diduga selesai sekitar tahun 1960, kemudian diterbitkan empat tahun kemudian, setelah pengarangnya menembak dirinya sendiri di rumahnya. Ia tewas ketika usianya 61.

Dalam pengantar tiga paragraf Hemingway menulis: “Pembaca bisa memilih untuk melihat buku ini sebagai sebuah fiksi. Tapi selalu mungkin fiksi seperti itu bisa menjelaskan apa yang telah ditulis sebagai fakta.”

Antara fiksi dan fakta, A Moveable Feast memang lebih berbicara tentang Hemingway muda ketimbang tentang Paris. Ia sendiri menyadari itu: naskah itu ditulisnya dari yang disisakan ingatan dan hatinya, meskipun, seperti diakuinya, ingatan itu sudah diaduk waktu dan kemurahan hati itu ia tak punya.

Tapi Hemingway masih menuliskannya dengan bergelora justru ketika energi kreatifnya mulai habis, dan itu membenarkan apa yang dikatakannya: “Tak pernah ada akhir apa pun bagi Paris.”

Nostalgia adalah penangkal sederhana bagi kosmopolis yang bergerak terus: sebuah kemewahan yang tersembunyi dan membuat kita lebih lembut, secercah kerinduan di pinggiran ketika kota ingin menguasai apa saja, juga cakrawala waktu.

Saya teringat percakapan dalam novel Don DeLillo, Cosmopolis, di sebuah bagian Kota New York:
“…Apa itu ragu? Kau tak percaya kepada keraguan. Kau pernah katakan itu kepadaku. Komputer punya kekuatan melenyapkan ragu. Semua keraguan muncul dari pengalaman masa silam. Tapi masa silam sedang menghilang. Dulu kita tahu masa lalu, bukan masa depan. Ini berubah sekarang….”

Dengan Cosmopolis tampak DeLillo ingin menunjukkan dunia yang kemilau dan takabur, yang terus-menerus rakus, yang bertaut dengan ruang yang rapi dan teknologi seperti dalam science fiction tentang manusia masa depan. Tapi sementara itu, tokohnya bergerak di sela-sela sesuatu yang tak dikenalinya: khaos yang menetap dalam hidup sehari-hari, masa lalu yang tersisa di hari ini.

Dalam ketakpekaan itu, New York terguncang habis ketika pada suatu pagi ia digedor dunia luar yang kacau dan orang-orang yang ganas oleh dendam. Cosmopolis agaknya menyindir itu: novel ini terbit dua tahun setelah Menara Kembar New York ditabrak dua pesawat terbang bunuh diri dan hampir 3.000 orang tewas.

Tokohnya Eric Packer. Ia asset manager berumur 28 tahun yang baru menikahi perempuan Eropa waris harta yang berlimpah. Pagi itu ia berangkat dari apartemennya yang seharga 140 juta dolar untuk potong rambut di tukang cukur kesukaannya di West Side Manhattan.

Perjalanannya dengan limousine putih berkilau ternyata makan waktu sehari penuh. Jalanan macet. Presiden sedang berada di New York dengan penjagaan ketat yang menghalangi lalu lintas. Ada demo antiglobalisasi yang ribut dan agresif di Times Square.

Selama itu, Eric mengamati, tak tersentuh, dan melakukan apa yang biasa dilakukannya.
Ia praktis tak pernah berpindah. Limo putih itu tampaknya perumpamaan DeLillo tentang kosmopolis yang palsu: ruang hidup yang serba cukup tapi tak terbuka dan terpisah dari debu dan daki manusia lain yang tak masuk hitungan.

Semua bisa dilakukan di mobil panjang itu. Layar monitor untuk mengikuti gerak mata uang dan saham. Oven pemanas makanan. Alat pemantau jantung. Tempat dokter memeriksa kandung kemih. Tempat Eric membahas segala hal dengan penasihat teknologi dan keuangannya. Tempat ia berzina dengan teknik foreplay yang paling mutakhir.

Gambaran hiperbolik itu tak baru, pesannya klise, tapi dengan bahasa yang terampil, Cosmopolis menunjukkan pongahnya orang-orang di haribaan hiperkapitalisme. Dunia mereka adalah konstruksi digital yang pasti, “the digital imperative that defined every breath of the planet’s living billions”. Komputer mereka sanggup menindas keraguan dan masa silam.

Jika novel ini agak membosankan, mungkin karena ia mengikuti hidup Eric yang membosankan; orang ini menikmati sensasi tanpa ingin meloncat ke luar.

Tapi ia sebenarnya rapuh. Di ujung novel, digambarkan dengan realisme ala DeLillo yang memikat, sang miliarder akhirnya sampai ke tempat tukang cukurnya. Ia turun dari limo putihnya, turun ke masa kini yang juga masa lalu sehari-hari.

Di atas kursi sang barber bersahaja yang dahulu tetangga ayahnya, Eric duduk. Ia tertidur.
Nostalgia adalah celah untuk istirahat bagi kehidupan yang dilecut keyakinan bahwa “masa silam sedang menghilang”.

Nostalgia adalah pelindung kecil di sebuah kosmopolis. Maka ia akan bertahan, bahkan di hadapan teror. New York 2001; Paris 2015.

Setelah tubuh-tubuh yang terbunuh bertumpuk di atas remukan kaca etalase, setelah teriakan takut dan marah terdengar bersama raung sirene, ada sesuatu dari masa lalu yang muncul. Xenofobia, paranoia, tapi juga keinginan bersaudara kembali.

Maka orang pun bersentuhan dalam cemas dan berkabung, dan kota itu kembali jadi kota manusia.

*******
Goenawan Mohamad/Tempo.co