Korban Tsunami Terdampar Hingga Garut Menyisakan Traumatis

0
33 views

Esay/ Foto : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Kamis, 28/05 – 2015 ).

Sukri Wijaya.
Sukri Wijaya.

Tsunami memorak-porandakan Aceh, 26 Desember 2004.

Selain menyajikan perspektif baru zona subduksi dikira tak aktif ternyata bisa patah.

Bahkan bisa menimbulkan gempa bermagnitudo di atas sembilan.

Juga tragedi memilukan tersebut, meski hingga kini telah berlalu lebih satu dasa warsa.

Namun masih kerap menyisakan traumatis berkepanjangan.

Demikian antara lain dialami Sukri Wijaya, ayah tiga anak berusia 48 tahun itu, antara lain mengaku sampai sekarang belum berani berenang di pesisir pantai.

Bahkan sebelumnya, sangat ketakutan melihat laut. Lantaran sebelas tahun lalu mengalami langsung dihantam gulungan ombak sangat besar.

Dia memeluk anak sulung perempuan ketika masih kelas lima SD, sambil memegang erat sebatang pohon, ungkap Sukri kepada Garut News, Kamis (28/05-2015).

Masih Belum Berani Berenang di Laut.
Masih Belum Berani Berenang di Laut.

Sehingga trauma yang dialami anaknya ini luar biasa sangat berat, malahan setelah dibawa pindah ke Kota Garut, Jawa Barat sekalipun, selama beberapa tahun lamanya setiap pulang sekolah langsung bersembunyi di bawah meja.

Mereka sekeluarga masih dihantui ketakutan untuk berkunjung kembali ke Banda Aceh, ungkap Sukri yang menikahi penduduk Kecamatan Samarang pada 5 Agustus 1995.

Kemudian memboyong istrinya ke Kampung Tunggay Desa Lamgugup Kecamatan Syiah Kuala Kodya Banda Aceh, tepatnya di jalan Raya T. Nya’ Arief.

Sekeluarga kembali berangkat ke Garut sepekan pasca tsunami memorakporandakan rumah, serta seluruh isinya. Nyaris yang terbawa hanya baju melekat di badan.

Jika kembali ke Aceh, tak hanya bisa mengingatkan masa lalu sangat kelam, melainkan juga bisa teringat kembali rumah beserta isinya yang musnah digulung ombak sangat besar tersebut, beber Sukri.

Masih Menyisakan Traumatis Berkepanjangan.
Masih Menyisakan Traumatis Berkepanjangan.

Kini dia aktif bekerja pada salah satu lembaga perbankan, sambil terus-menerus memberikan motivasi bagi ketiga anak beserta istrinya.

Apalagi anak sulung perempuan, kini tengah menyiapkan diri bisa menjadi Polwan.

Sukri Wijaya juga mengemukakan harapannya, agar kegiatan rehabilitasi korban bencana tak hanya menitik-beratkan pada kegiatan fisik bangunan.

Melainkan pula bisa menyentuh pemulihan psikologis setiap seluruh korban bencana yang sangat menyayat hati ini, imbuhnya menyerukan.

Menyusul Indonesia, sebagian wilayahnya berupa pesisir berhadapan langsung dengan zona subduksi, tsunami seharusnya menjadi tantangan besar untuk disikapi bersama.

*********