Korban Terdampak Pergerakan Tanah Cisompet Mengaku Diterlantarkan

0
19 views
Warga Desa Sindangsari Terpaksa Masih Menempati Rumah Berkondisi Nyaris Rubuh Lantaran Pergerakan Tanah.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 03/11 – 2016 ).

Warga Desa Sindangsari Terpaksa Masih Menempati Rumah Berkondisi Nyaris Rubuh Lantaran Pergerakan Tanah.
Warga Desa Sindangsari Terpaksa Masih Menempati Rumah Berkondisi Nyaris Rubuh Lantaran Pergerakan Tanah.

– Kini sekurangnya 177 kepala keluarga (KK) korban terdampak bencana pergerakan tanah di Desa Sindangsari Kecamatan Cisompet selatan Garut yang meski berbulan-bulan masih menempati hunian sementara, namun hingga sekarang nasib mereka terus-menerus diombang ambing ketakpastian.

Lantaran, relokasi tempat tinggal dijanjikan Pemkab Garut hingga kini tak jelas juga terdapat kepastian. Padahal pergerakan tanah terus mengancam setiap saat, menyusul kerap terjadi kondisi cuaca buruk berintensitas hujan tinggi.

Mereka pun semakin sangat menyesalkan sikap Pemkab setempat terkesan tak serius menangani bencana pergerakan tanah mereka alami. Beda jauh dengan penanganan bencana amuk Sungai Cimanuk yang menyedot perhatian besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga Pemerintah Pusat.

“Pemerintah tak serius menangani korban akibat pergerakan tanah di Desa Sindangsari, bahkan lebih fokus ke korban bencana banjir bandang Sungai Cimanuk,” ungkap Koordinator pengungsi korban terdampak pergerakan tanah Sindangsari Cisompet, Sumpena, Rabu (02/11-2016).

Justru yang lebih disesalkannya, pengungsi Cisompet mesti mengambil sendiri bantuan untuk mereka ke kantor “Badan Penanggulangan Bencan Daerah” (BPBD) maupun Dinas Sosial Tenaga Keja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) di kota Garut berbiaya sendiri. Padahal biaya pengambilan barang bantuan itu cukup besar, dan memeroleh bantuannya pun tak mudah.

“Saya juga heran. Mengapa bantuan itu harus diambil sendiri ke Garut, ke Dinsos maupun BPBD. Malahan dengan ongkos sendiri. Padahal sekali membawa bantuan itu ongkosnya tak kurang dari Rp800 ribu. Sehingga ongkos harus kita cari ke sana ke mari dulu, atau dari iuran pengurus,” ungkap Sumpena, dan pengurus lainnya, Nano.

Sumpena katakan, peristiwa pergerakan tanah di Desa Sindangsari terjadi terutama pada 19 Februari 2016 lalu. Ada 177 KK atau setara 556 jiwa terdampak bencana ini, kini mengungsi di tempat hunian sementara, bertambah dari sebelumnya sebanyak 91 KK. Enam orang di antaranya meninggal dunia sebab sakit.

“Memang ada rencana, warga terdampak bencana akan direlokasi ke Kampung Benjang berjarak sekitar empat kilometer dari lokasi semula. Tetapi sampai sekarang, belum ada kepastian, kapan direlokasi,” sesalnya.

*********

(nz, jdh).