Korban Mudik Bukan Sekadar Statistik

0
10 views
Asma Nadia. (Daan Yahya/Republika Asma Nadia).

Sabtu , 08 July 2017, 06:00 WIB

Red: Maman Sudiaman

Oleh : Asma Nadia

Asma Nadia. (Daan Yahya/Republika Asma Nadia).
Asma Nadia. (Daan Yahya/Republika Asma Nadia).

REPUBLIKA.CO.ID, Hampir setiap tahun, di awal bulan Ramadhan dan setelah Idul Fitri saya selalu menulis tema mudik di kolom resonansi, terutama menyangkut ratusan korban jiwa yang jatuh hanya dalam hitungan belasan hari.

Bukan apa-apa, mudik adalah rutinitas tahunan, harus ada perubahan signifikan untuk mengurangi jumlah korban.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pernah mengungkap jumlah korban akibat mudik yang jauh lebih tinggi dari bencana alam, meski yang terakhir bisa datang kapan saja tanpa diduga.

“Total korban jiwa akibat kecelakaan mudik pada Lebaran 2014 sebanyak 714 jiwa, tahun 2015 sebanyak 657 jiwa. Kalau dibandingkan korban bencana dalam setahun, korban kecelakaan mudik Lebaran lebih besar.”
Sutopo juga menyebutkan total kecelakaan mudik Lebaran mulai H-7 hingga H+7 sejak 2011 hingga 2015 mencapai 3.631 jiwa meninggal dunia, 6.759 orang luka berat, dan 20.569 luka ringan.

Dengan kata lain, jumlah rata-rata korban meninggal disebabkan mudik di atas 700-an jiwa.
Itulah sebabnya- tanpa menafikkan duka keluarga korban – saya berbesar hati mengetahui jumlah pemudik meninggal tahun ini, mengalami penurunan sampai 40,2 persen. Setidaknya ratusan keluarga tidak kehilangan sanak saudara seperti sebelum-sebelumnya.

Saat itu saya mengira jumlah korban mudik tahun ini sekitar 200 atau 300-an orang. Sebab tahun lalu ketika survei di surat kabar dan media online—juga untuk menulis resonansi ini—angka korban mudik yang mencuat di media sekitar 500-an korban jiwa.

Tapi betapa terkejutnya saya saat membaca detail angka yang muncul. Korban jiwa pada mudik tahun ini mencapai 742 orang, turun 41,2% dari tahun lalu yang mencapai 1.261 koban jiwa. Angka 742 sendiri cukup membuat saya kaget, tapi jumlah 1.261 korban jiwa yang disebutkan, sangat menyesakkan dada.

Apakah saya tidak salah membaca?
Seingat saya tahun lalu datanya tidak sebanyak itu.
Mungkin saya yang salah riset?
Untuk memastikan, saat menulis resonansi ini saya kembali mengecek data di internet dan hasilnya sama, saya tidak menemukan media yang memberitakan jumlah korban mudik tahun lalu mencapai 1.261 orang.

Apakah internet saya bermasalah hingga data yang muncul berbeda? Sungguh membingungkan. Sebab jika memang pernah dimuat pada berita tahun lalu, angka sebanyak itu seharusnya berbekas dalam ingatan. Tapi usia saya pun terus bertambah, mungkin daya ingat saya yang menurun? Tapi saya cukup yakin sepanjang lima tahun menulis resonansi, angka tertinggi korban mudik yang terangkat media adalah 900-an dan terus berkurang.

Tahun 2012 saya menyebutkan jumlah korban mudik selama 16 hari mencapai 908 jiwa. Padahal pada tahun yang sama Mesir sedang bergejolak dan merenggut 297 jiwa, atau hanya sekitar sepertiga dari korban mudik. Jumlah korban mudik tahun itu dua kali lipat lebih banyak dari korban perang lima hari Rusia-Georgia yang melibatkan 40 ribu tentara dan memakan 500-an nyawa.

Terlepas dari ketidakmengertian saya, setidaknya di lapangan banyak yang memberi apresiasi terhadap penyelenggaraan mudik tahun ini.

Sementara perbedaan jumlah yang cukup besar akan angka korban sejatinya dari tahun lalu, memang tetap menjadi misteri, setidaknya buat saya yang kerap alpa ini.

Satu hal yang jelas, alasan saya mengangkat hal ini karena saya kira kita sepakat, setiap nyawa, walaupun hanya satu, amat sangat berharga. Bagi keluarga korban dia segalanya, bukan sekadar angka-angka statistik.

Saya beristigfar jika angka yang pernah saya angkat ternyata tidak sesuai dengan kenyataan alias rujukan media yang menjadi referensi saya tidak tepat. Jika benar terjadi penurunan sedemikian besar, hingga 40% semoga menjadi motivasi bagi berbagai pihak untuk terus berbenah dan mengurangi warna duka setiap Lebaran tiba.

*********

Republika.co