Korban Cimanuk Garut Semakin Jenuh di Pengungsian

0
14 views
Maman Suryana.

“Mereka Mendesak Direlokasi, dan Mendapatkan Pasokan Modal Usaha”

Garut News ( Selasa, 31/10 – 2017 ).

Maman Suryana.

********* Sebagian besar pengungsi korban banjir bandang puncak amuk Sungai Cimanuk Garut, Jawa Barat, pada 20 September 2016 silam, yang selama ini menempati “hunian sementara” (huntara) mengaku semakin jenuh dan kesal berada di pengungsian.

Mereka termasuk Nana Suryana (40) katakan, sejak lebih satu tahun pascabencana tersebut hinga kini hidup di pengungsian tanpa mendapatkan kejelasan kelanjutan upaya penanganan, meski rumah miliknya beserta seluruh seisi rumah di Kampung Kikisik Kelurahan Sukakarya Tarogong Kidul menjadi rata dengan tanah.

Lantaran hanyut digerus derasnya luapan sungai itu, namun istri beserta didinya beserta keempat anak kandung bisa menyelamatkan diri, ungkapnya kepada Garut News di huntara Islamic Center, Selasa (31/10-2017).

Pengungsi Berjualan Seadanya.

********** Kendati demikian kian melorotnya kondisi sosial ekonomi keluarga pasca bencana, juga mengakibatkan keharmonisan kehidupan keluarganya menjadi terusik, apalagi anak sulungnya masih mengenyam pendidikan di SMKN 1 Garut Jurusan Farmasi.

Nana Suryana juga mengaku berprofesi serabutan, yang tak menjamin setiap hari bisa membuahkan dana guna memenuhi desakan kebutuhan pokok sehari-hari.

Sedangkan istrinya banting haluan menjadi kuli penyapu kebersihan jalan, yang kini justru mengontrak rumah sendiri.

Sehingga yang sangat diharapkan, selain bisa segera direlokasi juga mendesdak mendapatkan pelatihan keterampilan sekaligus diberi modal usaha oleh Pemkab setempat, imbuh Nana Suryana pula.

Ungkapan dan harapan senada juga dikemukakan para korban terdampak lainnya, antara lain Sutrarmin yang juga rumah beserta seluruh isinya raib tergerus banjir bandang.

Dari sedikitnya 2.525 penduduk atau 787 “kepala keluarga” (KK) korban terdampak banjir bandang puncak amuk Sungai Cimanuk pada 20 September 2016 silam ini, hingga kini lebih satu tahun pascabencana ini. Ternyata masih terdapat 1.756 penduduk atau 596 KK di antaranya tercerai berai domisilinya.

Sutarmin.

********                                                                     Berdasar produk pendataan diselenggarakan Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana pada Dinsos kabupaten setempat, Budiyana menunjukan kondisi terakhir pengungsi yang berada pada empat huntara, Selasa (17/10-2017), hanya 191 KK atau 769 pengungsi.

Terdiri pada Huntara LEC ada 14 KK atau 70 pengungsi, Gedung Islamic Center 45 KK atau 160 pengungsi, Gedung LPSE 28 KK atau 127 pengungsi, Gedung Balai Paminton 10 KK atau 36 pengungsi, serta di Rumah Susun milik PU terdapat 94 KK atau 376 pengungsi.

Sedangkan yang telah menempati rumah tapak di Blok Kopi Lombong 42 KK pengungsi, namun yang kini menempatinya masih bisa dihitung dengan jari, lantaran selain menunggu tuntasnya sambungan aliran listrik. Juga banyak rumah di antaranya sedang direhabilitasi para pemiliknya.

Seluruh korban terdampak bencana itu, sangat mengharapkan bantuan permodalan dari pemerintah, juga bisa diperolehnya pemberian keterampilan.Dalam pada itu sekitar 1.756 penduduk atau 596 KK korban terdampak tragedi banjir bandang tersebut, mereka tercerai berai selain banyak di antaranya menempati rumah kontrakan, rumah sanak saudara, juga banyak pula di antaranya menempati rumahnya semula di lokasi rawan bencana.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.