Kopi Berpeluang Besar Belum Dioptimalkan

by

Garut News ( Sabtu, 07/12 ).

Inilah Potensi Kopi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. (Foto : John).
Inilah Potensi Kopi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. (Foto : John).

Indikasi geografis dalam skema hak kekayaan intelektual belum dimanfaatkan optimal meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu potensial komoditas kopi.

”Masyarakat memeroleh hak kekayaan intelektual indikasi geografis kopi terlebih dahulu kudu mendaftarkan ke negara-negara pengonsumsi kopi menggunakan nama sama,” kata Direktur Kerja Sama dan Promosi Dirjen Hak Kekayaan Intelektual pada Kemenkumham Timbul Sinaga, Kamis (05/12), di Jakarta.

Kopi Liberika (Coffea liberica) | Sweetmarias
Kopi Liberika (Coffea liberica) | Sweetmarias

Komoditas kopi memeroleh hak kekayaan intelektual indikasi geografis antara lain kopi gayo (Aceh), kintamani (Bali), enrekang (Sulawesi Selatan), dan kopi Jawa lebih dikenal, java coffee.

Indikasi geografis ini, tak ubahnya sama dengan merek atawa jenis kekayaan intelektual lain.

Dalam skema hak kekayaan intelektual global, lembaga komersial di sebuah negara menggunakan produk dari daerah tertentu sekaligus menyebut namanya wajib berbagi keuntungan dengan masyarakat lokal.

Namun, itu kudu didahului pendaftaran sebagai dasar klaim.

Dirjen Hak Kekayaan Intelektual terakhir memberikan sertifikat indikasi geografis java coffee pada 29 November 2013 untuk masyarakat di pegunungan Ijen-Raung di Jawa Timur.

Saat ini java coffee termasuk terbanyak dikonsumsi di Amerika Serikat, tetapi pengekspor kopi arabika dengan label java coffee itu dari negara lain seperti Vietnam.

”Kopi gayo banyak dikonsumsi di Eropa, dan Amerika Serikat. Namun, belum ada pendaftaran ke negara-negara bersangkutan untuk mendapat perlindungan kekayaan intelektual indikasi geografis itu,” ungkap Timbul.

Menurut Candra N Darusman, Deputi Direktur Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO), kondisi dialami di Indonesia juga terkait lemahnya pemasaran.

”Pemasaran menjadi kunci keberhasilan menjadikan pelbagai kekayaan intelektual bernilai ekonomi,” katanya. (KOMPAS CETAK)

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.co