Koper

0
16 views
Garut News ( Ahad, 21/12 – 2014 ).
Ilustrasi. Peti Penyimpanan Barang Berharga Zaman Baheula. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Peti Penyimpanan Barang Berharga Zaman Baheula. (Foto : John Doddy Hidayat).

Koper tua yang terbuat dari kaleng itu peyot. Hampir tak berisi. Tapi dalam empat novel Pramoedya Ananta Toer yang legendaris itu, benda sepele itu jadi buhul tempat berkait sebuah cerita panjang, sebuah sejarah yang getir.Koper itu sebuah tanda trauma.

Di akhir Anak Semua Bangsa, di dalamnya ditemukan beberapa lembar pakaian milik Annelis yang mati secara tragis.

Koper itu pula yang mengingatkan Nyai Ontosoroh kepada masa ketika ia, pada usia 14 tahun, dijual kepada lelaki Belanda.

Di akhir Jejak Langkah, ketika Minke ditahan polisi kolonial, ia hanya membawa koper tua itu juga setelah ia kembali dari Ambon tempat ia diasingkan.

Dalam Rumah Kaca, Pangemanan, komisaris polisi Hindia Belanda yang dengan tekun membuntuti gerak-gerik pelopor gerakan nasionalisme itu, heran.

“Tak ada bawaan lain, Tuan?” tanyanya.

“Ada,” jawab Minke. Tapi tak ada yang perlu dibantu dibawakan orang lain. “Semua sudah kubawa dalam kepalaku.”

Laurie Sears, dalam Situated Testimonies, sebuah telaah yang perseptif atas karya sastra yang berdasarkan sejarah kolonial dan pascakolonial Indonesia, meletakkan kisah koper itu sebagai titik jangkar, a quilting or anchoring point, bagi riwayat Minke.

Mungkin ia juga bandul, ballast, yang menstabilkan perjalanan hidup Minke, Ontosoroh, Pangemanan, dan lain-lain sebuah kisah yang penuh guncangan di tengah proses tumbuhnya sebuah bangsa.

Dalam guncangan itu trauma tak terelakkan. Dan Situated Testimonies menampilkan sejarah Indonesia dari segi itu: sejarah yang dituliskan setelah tertunda, nyaris tak terkatakan atau tak boleh dibicarakan, karena luka yang dalam.

Luka itu menandai karya dan hidup Pramoedya dan siapa saja yang melewati pembantaian dan penindasan 1965-1966.

Luka itu juga terasa dalam novel Ayu Utami, Larung. “Pramoe­dya Ananta Toer dan Ayu Utami memperkenalkan protagonis yang terkena trauma dalam novel-novel mereka,” tulis Sears, dan “menawarkan cerita dengan penutup yang tak lengkap.”

Koper itu: sebuah ruang kecil yang itu-itu juga, tapi berisi mimpi dan kenangan yang bisa berubah bagi tiap orang yang membawanya.

Ia wadah kosong, tapi juga tanda trauma: ada yang telah direnggutkan. Nyawa dan cinta Annelis. Kemerdekaan gadis yang kelak jadi Nyai Ontosoroh.

Kebebasan dan keperkasaan Minke yang punah setelah diasingkan. Trauma itu juga melukai Pangemanan, sang petugas keamanan kolonial; kekerasan yang dilakukannya untuk menegakkan penjajahan Hindia Belanda ternyata membuat dirinya sendiri runtuh.

Yang tertinggal: kesaksian. Tapi kesaksian itu bukan titisan masa lalu. Sears menjelaskannya dengan istilah yang dipakai dalam analisis kejiwaan Freud, Nachtrglichkeit: trauma selalu muncul kemudian, setelah kejadian.

Bila ia harus dituturkan, tak ada teks yang sudah siap. Arsip, kalaupun tersimpan, hanyalah isi masa lalu yang ditentukan arahnya di masa kini.

Kesaksian bukanlah ulangan pengalaman lama.

“Kesaksian adalah sebuah pengalaman baru,” demikianlah Sears mengutip Dori Laub, pakar psikoanalisis yang pernah mengalami kekejaman Hitler.

Ketika masa lalu yang traumatis itu dikisahkan, orang yang bersangkutan sebenarnya tak dibawa “kembali ke horor dan kesedihan yang dulu ditemuinya”. Kesaksian itu “menempuh hidupnya sendiri” ketika ia dituturkan.

Tak bisa diramalkan bagaimana akhirnya keseluruhan cerita.

Ingatan, dalam trauma, memang tak bisa dibentuk secara naratif. Ada yang tak bisa dijelaskan. Dalam Rumah Kaca,

Pangemanan tiap kali didatangi hantu Si Pitung, perusuh yang dibinasakannya. Lebih kelam lagi adalah penuturan di bagian awal novel Ayu Utami, Larung.

Di sini kita dapatkan seorang muda yang aneh, yang berencana membunuh neneknya yang tak mati-mati. Larung menghadapi orang lain seperti sebuah mikroskop kasar: orang lain adalah sebuah bangunan anatomis.

Orang lain adalah detail: betis, relung kuping dan cairannya, jembut, vagina, pelbagai bau. Kekerasan tersirat dalam tatapan seperti itu.

Dan pelan-pelan kita tahu, ada kekerasan yang lebih luas dan masa lalu yang lebih kelam dalam hidup Larung.

Ketika ia masih kanak-kanak, ayah Siok Hwa, sahabatnya, dikeroyok sampai mati dalam sebuah kerusuhan anti-Cina, dan Siok Hwa hilang.

Kemudian tahun 1965: ayahnya sendiri, seorang tentara yang dituduh komunis, mati ramai-ramai disiksa.

Orang-orang yang membunuh ayahnya menjebloskan siapa pun yang mereka kira musuh “ke sebuah nganga”.

Trauma adalah koper dalam nganga kegelapan. Sampai ada orang lain.

Pangemanan memangkas kegelapan dengan menuliskan kesaksiannya untuk Madame Le Boucq. Larung tampil sebagai subyek yang beberapa saat jernih ketika mendampingi Saman melawan penindasan baru.

Penindasan, kesewenang-wenangan: Indonesia memang terdiri atas pelbagai trauma. Tapi koper itu tak kosong dan bisa nyaring bunyinya bila diajak bicara.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co