Konspirasi Itu Seperti Orang Buang Angin

0
18 views
Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

Senin 17 Jun 2019 06:03 WIB
Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

“Arab Saudi dan UEA telah bertekad untuk menghancurkan Houthi Syiah”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Ramadhan lalu saya sengaja tidak menulis masalah-masalah panas yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Saya juga tak menulis tentang isu-isu kontemporer tentang Islam dan umat Islam.

Saya lebih suka menulis hal-hal yang adem, yang menginspirasi, contoh baik, teladan yang bisa kita anut. Semuanya tokoh perempuan. Mereka adalah Umi Kalsum, Rabi’ah al-Adawiyah, Siti Hawa, dan Khadijah.

Umi Kalsum berhasil memersatukan bangsa-bangsa Arab lewat lagu-lagunya. Ia juga sosok nyata yang mencintai negaranya. Saat Mesir mengalami defisit anggaran pascaperang dengan Israel pada 1967, ia langsung menggelar konser keliling dunia, yang seluruh hasilnya ia serahkan kepada negara.

Sementara itu, Rabi’ah al-Adawiyah merupakan sufi perempuan yang mencetuskan tren baru dalam tasawuf, bernama hubb atau mahabah. Bukan melalui pendekatan khauf (khawatir atau takut) atau raja’ (harapan) dalam berinteraksi dengan Allah SWT. Khauf dan raja’ dianggap masih berjarak dengan Sang Pencipta. Sedangkan hubb atau mahabah adalah cinta yang menyatu terhadap Zat Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedangkan Siti Hawa merupakan manusia kedua yang diciptakan Allah SWT setelah Nabi Adam AS. Ia merupakan ibu seluruh umat manusia. Ia adalah istri pertama dalam sejarah. Ia juga perempuan pertama yang melahirkan di muka bumi. Ia dijamin masuk surga.

Berikutnya adalah Siti Hajar, yang merupakan contoh nyata bahwa ‘berusaha atau bekerja keras yang disertai doa akan menghasilkan yang terbaik’. Lihatlah, saat dia berusaha mencari air dengan lari-lari dari Bukit Safa ke Marwa dan sebaliknya hingga tujuh kali, lalu Allah SWT memunculkan air zamzam dekat kaki bayinya, Ismail. Dari sumur zamzam itu lalu terbentuk komunitas, yang sekian ribu tahun kemudian menjelma menjadi Kota Makkah.

Selama Ramadhan, ternyata banyak peristiwa besar terjadi di berbagai belahan dunia. Perang dagang antara AS dan Cina semakin sengit. Perang dagang yang dikhawatirkan akan berimbas ke banyak negara lain, yang pada gilirannya akan memperlambat perkembangan ekonomi global.

Kawasan Timur Tengah masih membara. Beberapa kali Israel telah menyerang Gaza, tapi masyarakat internasional sudah semakin tak peduli. Bahkan, ketika zionis Israel menyerang Suriah, dunia pun diam. Sementara di Irak, beberapa kali bom masih meledak.

Di kawasan Teluk, tanda-tanda berbaikan antara Qatar dan negara-negara Teluk lain plus Mesir juga belum tampak. Hampir setiap hari mereka yang berseteru terus saling serang di media.

Perang di Yaman antara kelompok Houthi dan beberapa negara Arab yang dimotori Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) semakin menegangkan. Hingga kini, belum ada tanda-tanda kelompok Houthi akan kalah atau menyerah. Sementara pihak Saudi dan UEA telah bertekad untuk menghancurkan Houthi Syiah.

Hubungan Arab Saudi dengan Iran juga semakin buruk. Itu sebabnya Saudi dan beberapa negara Teluk sangat semangat mendukung kebijakan Presiden Donald Trump ketika ia membatalkan secara sepihak perjanjian nuklir dengan

Iran. Perjanjian nuklir ini telah disepakati para pemimpin negara-negara Eropa Barat plus AS pada masa Presiden Barack Obama. Bahkan, Trump kini telah memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah, guna menggertak para ayatullah di Iran.

Di Afrika Utara, konflik antarkelompok di Libia juga terus memanas. Belum ada kelompok dominan yang bisa berkuasa penuh sejak pemimpin Qadafi digulingkan. Di Aljazair, para pengunjuk rasa hanya berhasil menurunkan Presiden Abdul Aziz Bouteflika dan rezimnya dari kekuasaan 20 tahun. Namun, mereka belum mampu membentuk pemerintahan sipil seperti yang mereka inginkan.

Sama dengan di Aljazair, di Sudan para demonstran yang telah berunjuk rasa sejak Desember lalu juga baru berhasil menurunkan Presiden Omar al-Bashir yang telah berkuasa 30 tahun. Namun, negara itu justru semakin kuat dicengkeram militer.

Di Turki, Presiden Erdogan semakin berani melawan kebijakan Presiden Trump, ketika ia memutuskan membeli pesawat tempur dan persenjataan canggih dari Rusia. Padahal, Turki merupakan anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization). Ancaman sanksi Trump pun tidak iagubris.

Namun, dari sejumlah peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia itu, ada satu berita yang paling membetot perhatian saya. Yakni, ketika sebuah organisasi yang disebut paling klandestin dan paling kontroversial di dunia, Bilderberg Group, menggelar pertemuan tertutup di sebuah resor mewah di Montreux, Swiss, 30 Mei lalu.

Pertemuan empat hari itu sangat tertutup (baca: rahasia). Media BBC Indonesia—versi daring—membuat judul panjang, “Organisasi Paling Kontroversial Adakan Pertemuan Rahasia Para Elite yang Mengundang Teori Konspirasi”.

Konspirasi dan rahasia? Ya, namanya juga konspirasi tentu rahasia. Ia bisa dirasakan tapi susah dibuktikan. Media BBC menulis, apa pun surat kabar yang Anda baca, saluran TV yang Anda tonton, atau lini masa media sosial yang Anda ikuti, Anda tidak akan membaca laporan dari jurnalis manapun dari dalam konferensi. Semua dirahasiakan.

Namun, simaklah siapa yang hadir. Ada sekitar 130 elite politik dan tokoh senior dari industri, keuangan, akademisi, tenaga kerja, dan media. Dari Amerika ada menantu Presiden Trump, Jared Kushner; CEO Microsoft Satya Nadella; mantan pimpinan eksekutif Google Eric Schmidt; miliarder pendiri Paypal Peter Thiel; dan mantan menteri luar negeri Henry Kissinger. Mantan presiden AS Bill Clinton dan mantan PM Inggris Tony Blair juga pernah hadir dalam salah satu petemuan organisasi itu.

Bilderberg Group dibentuk setelah Perang Dunia II. Metode kerjanya selalu rahasia. Pertemuan pertama digelar pada 1954. Tujuannya untuk memperkuat peran Barat– AS dan Eropa–di kancah global. Para penganut teori konspirasi menuduh Bilderberg Group telah melakukan berbagai kejahatan, mulai dari menciptakan krisis keuangan hingga menyusun rencana untuk mengurangi populasi dunia (baca: menciptakan konflik).

Pertanyaannya, apakah Bilderberg Group benar-benar menguasai dunia? Tepatnya, apakah konspirasi global itu ada? Jangan-jangan mereka sekadar kongko dan ngopi bareng. Namun, sekali lagi, yang namanya konspirasi itu pasti rahasia. Bisa dirasakan tapi susah dibuktikan. Seperti halnya orang buang angin, ada baunya namun tak tampak wujudnya.

Yang jelas, kalau merujuk pada pembentukan batas-batas wilayah negara-negara di Timur Tengah sekarang ini, semuanya tak lepas dari sebuah konspirasi antara Inggris, Prancis, dan Rusia. Perjanjian rahasia Sir Marks Sykes (Inggris) dan Francois Georges-Picot (Prancis) yang disetujui Kaisar Rusia pada 1916, telah membagi wilayah-wilayah bekas kekhalifahan Utsmaniyah.Pembagian wilayah yang hingga kini menyebabkan rawan konflik. Pemberian wilayah kepada Israel di tanah Palestina pun tidak lepas dari yang namanya konspirasi.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya sepakat dengan mereka yang mengatakan Indonesia sekarang ini menjadi incaran banyak pihak. Pihak-pihak itu menginginkan Indonesia lemah sehingga bisa dikuasai. Invasi atau serangan militer bisa dipastikan akan gagal karena orang Indonesia nasionalismenya tinggi. Hanya dengan senjata bambu runcing saja para penjajah telah dibuat menderita dan kalah, apalagi kini militer Indonesia sangat canggih.

Cara satu-satunya adalah dengan melemahkan Pancasila yang menjadi pemersatu bangsa. Antara lain menciptakan konflik horizontal dengan mengadu domba antarpemeluk agama berbeda dan antarpemeluk agama yang sama. Jadi, ya kita harus waspada!

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here